Kota Batu

10 Hari PPKM Darurat, Kota Batu Belum Signifikan, Kenapa?

AMEG – Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sudah berjalan 10 hari. Meski begitu belum ada dampak signifikan dari penerapan kebijakan itu. Paling mencolok, terjadi pada Selasa (13/7/2021) dimana penambahan kasus aktif di Kota Batu meroket sebanyak 64 pasien.

Padahal jika dibandingkan sebelum ada PPKM Darurat lalu, Kota Batu tak pernah mengalami lonjakan pasien aktif sebanyak itu. Jika dilihat, berbagai aturan PPKM Darurat juga telah ditaati oleh masyarakat. Itu nampak dari mobilitas masyarakat yang menurun drastis.

Berdasarkan data yang didapat ameg.id, dari pertumbuhan kasus aktif sebanyak 64 pasien itu, tidak dibarengi dengan kesembuhan. Total, saat ini, di Kota Batu terdapat 232 pasien aktif Covid-19. Untungnya, meski tak ada yang sembuh, kasus kematian juga tak bertambah.

Baca Juga

Dengan bertumbuhnya kasus yang sangat signifikan itu, Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Kota Batu, Onny Ardianto menerangkan, jika rilis data pasien terkonfirmasi positif Covid-19 secara otomatis diambil dari data New Allah Record Kemenkes.

“Saat ini proses rilis data menjadi lebih cepat. Karena tahapan verifikasi dan validasi data sudah disederhanakan. Akan tetapi hasil rilis tersebut tidak serta merta menggambarkan kondisi lapangan per hari ini. Karena bisa jadi hasil lab yang dirilis hari ini berasal dari sampel yang sudah dikirim beberapa hari bahkan beberapa minggu lalu,” jelas Onny, Selasa (13/7/2021).

Selain itu, data tersebut juga dipengaruhi hasil Swab PCR yang keluar cukup lama, bahkan bisa keluar setelah 10 hari melakukan swab. Sementara itu, penundaan rilis hasil lab tergantung dari kapasitas pemeriksaan dan reagen lab.

Sementara itu, ketika disinggung mengenai keserasian data pasien Covid-19 meninggal. Dimana data rilis satgas Covid-19 dan kenyataan di lapangan berbeda. Karena ada suatu waktu petugas pemulasaraan jenazah memakamkan 10 jenazah namun dalam data ditulis nol.

Onny menjelaskan, jika proses rilis data pasien meninggal masih terdapat penundaan. Karena masih memerlukan waktu untuk dilakukan verivikasi dan validasi data berjenjang, mulai tingkat fasilitas kesehatan (faskes) dan seterusnya.

Wakil Wali Kota Batu, Punjul Santoso menerangkan, terkhusus selama penerapan PPKM Darurat, untuk kebutuhan belanja tim pemulasaraan jenazah Covid-19, pihaknya telah menganggarkan sebesar Rp 757.500.000 untuk 75 lubang.

“Sedangkan untuk anggaran persiapan perlengkapan peti pemulasaraan jenazah, kami menganggarkan sebanyak 75 set. Dengan anggaran persetnya Rp 2.650.000. Sehingga total  anggaran 75 set sebesar Rp 198.750.000,” jelasnya.

Sementara itu, untuk anggaran peti jenazah, dari total 75 unit peti jenazah, pihaknya telah menganggarkan sebesar Rp 150.000.000 dengan harga satuan Rp 2 juta. Anggaran tersebut diambil dari Belanja Tidak Terduga (BTT). Karena sepanjang penerapan PPKM Darurat, diperbolehkan untuk menggunakan anggaran tersebut. (*)


Editor : Yanuar Triwahyudi
Publisher : Rizal Prayoga
Sumber : -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button