Bisnis

Banyak Keuntungan, Industri Ekowisata Perlu Diarahkan

AMEG – Keberadaan industri pariwisata terus menjamur. Pariwisata yang berwawasan lingkungan atau ekowisata (eco-tourism) perlu lebih diarahkan agar lebih mendatangkan keuntungan masa depan.

Dosen Manajemen Perhotelan Universitas Brawijaya Malang, Ahmad Faidal, mengungkapkan ekowisata sejatinya pembangunan wisata berkelanjutan, yang mempunyai prinsip berwawasan lingkungan, pemberdayaan sosial-budaya masyarakat dan edukasi.

Menurut Faidal, ekowisata adalah turunan kecil dari sustainable tourism (pengembangan pariwisata berkelanjutan). Jadi, bisa sekaligus menjadi sarana merawat dan melestarikan lingkungan, pembelajaran konservasi, atau pengelolaan sampah.

“Usaha dan industri ekonomi pariwisata harus mengadopsi pedoman pengembangan ekowisata di daerah. Pemerintah juga harus menerapkan dan mengendalikan hal tersebut melalui regulasi,” kata Ahmad Faidal dalam diskusi Ijen Talk, Sabtu (23/10) pagi.

Ia lalu mencontohkan, ada sertifikasi labeling bagi industri ecotourism seperti di Eropa yang bisa ditiru Indonesia. Dengan regulasi ini, lanjutnya, penting perannya bagi pengembangan ekowisata ke depan.

“Pariwisata pada dasarnya industri yang melestarikan, jangan malah merusak. Harus seimbang kepentingan kualitas lingkungan dengan keuntungan ekonomi (kuantitatif),” jelas Ahmad Faidal.

Praktik baik ekowisata ini seperti yang sudah diterapkan di Wisata Andeman Boonpring Sanankerto, Turen Kabupaten Malang. Di lokasi ini, ada konservasi pohon bambu, sehingga ketersediaan oksigen maksimal.

“Boonpring awalnya upaya konservasi mempertahankan tata kelola air. Mata air yang ada bisa mengaliri tiga desa sekitar. Jadi, tidak mengalami kelangkaan air meski kemarau, debit sama,” jelas pengelola wisata Andeman Boonpring, Jamal.

Potensi air andeman Boonpring ini juga bisa menghasilkan energi listrik mikrohidro. Hingga kini, lanjut Jamal, Boonpring dikembangkan untuk arboretum tanaman bambu dengan 115 jenis bambu.

Selain itu, dilakukan pengelolaan sampah organik melalui magot yang bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak.

Menurut Jamal, pengelolaan ekowisata Boonpring melibatkan semua masyarakat sekitar, dimana endingnya mengurangi urbanisasi, atau mengangkat ekonomi buruh tani.

“Boonpring akan tetap fokus pada konservasi lingkungan melalui arboretum. Sehingga, hasilnya juga tetap bisa bermanfaat bagi generasi mendatang,” tandasnya. (*)


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM