Ekonomi

Bisnis Pelaku UMKM dan Persaingan Harga Jual

Catatan Choirul Amin

AMEG – Bisnis penjualan produk perlu banyak strategi pemasaran hingga distribusi yang tepat. Jika strategi yang digunakan menguntungkan calon konsumen, maka angka penjualan akan meningkat dan terkerek. Dan, dengan sendirinya akan merangsang produksi dan permintaan produk dalam jumlah lebih besar lagi.

Bagi pelaku UMKM, dua faktor ini tentunya sangat penting dalam bisnis yang dijalankannya, dan bisa mempengaruhi eksistensi bisnis mereka. Terlebih, bagi usaha kecil produk lokal dan industri rumahan (home industry), kedua hal tersebut sangat mempengaruhi perputaran bisnis dan pertambahan omset penjualan yang mereka hasilkan.

Membicang pelaku usaha dan UMKM, maka sangat banyak jenis dan kondisi bisnisnya. Bisnis UMKM lebih banyak berupa produksi dan penjualan barang-barang konsumsi. Sebagian UMKM, juga memproduksi produk lokal khas daerah, terlebih untuk jenis produk kuliner atau pangan olahan dan kerajinan khas lokal.

Baca Juga

Barang-barang konsumsi atau untuk kebutuhan sehari-hari dianggap lebih prospek, meski skala dan pangsa penjualannya kadang terbatas. Limit keuntungan hasil penjualan produk konsumsi rumah tangga biasanya juga tidak besar, namun lebih sering dicari karena produk ini biasanya sekali konsumsi atau langsung habis pakai.

Agar produk UMKM lebih dikenal dan banyak diminati pasar, maka promosi menjadi hal yang tak bisa ditinggalkan. Ketika minat konsumen terhadap produk mereka sangat tinggi, maka pelaku UMKM akan berpikir bagaimana produknya bisa menjangkau konsumen, tentunya dengan pilihan distribusi dan pengiriman yang tidak terlalu memberatkan pembiayaan mereka.

Heri Nurdi (59), pengusaha keripik tempe asal Malang, Jawa Timur misalnya, merasakan betul pentingnya promosi dan kemudahan distribusi bagi produk camilan yang diproduksinya. Kripik tempenya diproduksi di rumah tinggalnya, tepatnya di RT 02/RW 08 Desa Sumberawan Lawang, Kabupaten Malang.

Sebagai pelaku UMKM dengan kategori industri rumah tangga (IRT), Heri Nurdi dan istrinya, Umi Hanik (56), mengalami pasang surut penjualan produk keripik tempe yang dijalaninya sejak 2015 silam. Sebagian produknya dijual langsung ke toko kecil, sisanya dititipkan di beberapa gerai atau pusat oleh-oleh besar.

Produknya juga dititipkan di toko pusat oleh-oleh di sekitar tempat wisata, seperti di kawasan Sengkaling Malang dan Kota Batu. Belum setahun terakhir, kripik tempe buatan Heri juga titip jual di Galeri UMKM, yang pengelolaanya didukung pemerintahan Kabupaten Malang.

Heri hanya mengambil keuntungan produksi sedikit dari harga jual keripik tempe darinya Rp 4.500 per kemasan plastik kecil. Akan tetapi, oleh pengelola toko dan galeri dijual dengan harga jauh lebih mahal.

Sebagai pengusaha, ia tidak terlalu mempermasalahkan perbedaan harga cukup tinggi ini. Ia memang juga diuntungkan dengan promosi di rak toko produk IKM ini. Akan tetapi, yang dikeluhkannya adalah jika produknya tidak cepat laku, terlebih karena harga jual yang terlalu mahal tersebut.

Pengusaha kecil seperti Heri Nurdi dan isterinya, memang harus pandai-pandai memperkecil limit ongkos untuk pemasaran dan penjualan produknya. Karena itu, produksinya hanya menyesuaikan permintaan dan kondisi penjualan. Pengiriman dan distribusinya pun dilakukan sendiri, mengandalkan motor bebek buntut miliknya.

“Ya, hanya saya antarkan sendiri sekuatnya. Kapasitas muatan menyesuaikan motor saya,” kata Heri Nurdi, Senin (31/1/2022) sore.

Keinginan untuk lebih meningkatkan omset penjualan, sempat dipikirkan Heri dan istrinya. Ia mengaku sempat memasarkan keripik tempenya di lapak online (marketplace). Akan tetapi, tidak berlangsung lama dan kurang diseriusi. Kesulitan dialaminya, jika harus melayani pesanan online dengan jumlah pesanan sedikit dan harus dikirim ke konsumen yang jauh tempatnya.

Agar penjualan lebih banyak dan lebih meluas, Heri juga pernah ditawari penjual keliling (sales). Akan tetapi, ia akhirnya urung melayani sales dengan iming-iming bisa mengambil dan menjualkan tiap hari produknya. Terlebih, jika produk keripiknya harus dikeluarkan tanpa ada uang muka atau pembelian tunai dari sales terlebih dahulu.

“Agak berat, kalau penjualan produk kami harus dibagi dengan sales. Bisa lebih tersebar memang, tetapi resikonya juga lebih tinggi,” tandas Heri.

Keputusan ini bukan tanpa alasan, mengingat modal usaha Heri Nurdi relatif kecil. Untuk bahan produksi saja modalnya pas-pasan, tentu ia tidak ingin terbebani lagi biaya tambahan seperti untuk promosi dan ongkos pengiriman. Sementara, limit keuntungan dari produknya laku cukup kecil.

Di era serba digital kini, maka pemesanan dan penjualan produk UKM pun kini sudah banyak yang dilakukan secara online. Produk-produk UKM bisa dibeli langsung di toko ritel, atau melalui lapak online jika produk mereka tergabung dalam berbagai marketplace. Belanja online ini, yang mau tidak mau menyertakan pilihan sistem layanan antar dan jasa pengirimannya.

Sementara, pelaku dan tempat produksi produk UMKM/IKM kebanyakan juga terdapat di wilayah pinggiran perkotaan. Kebanyakan pula, tempat produksinya terbatas (rumahan), dan tidak punya tempat lain untuk menjual produk hasil produksinya. Dalam kondisi ini, meskipun produk mereka biasanya dikenal lebih murah, akan tetapi tidak serta merta mudah didapatkan.

Persoalan di atas nyata-nyata menunjukkan ketidakberdayaan pelaku usaha kecil rumaham, seperti halnya yang dialami Heri. Karuan saja, pelaku UMKM dihadapkan pada kendala dan tantangan berat, selain ketidakcukupan modal usahanya. Yakni, terjepit persaingan harga jual dan layanan antar untuk penjualan produknya.

Dalam kondisi ini, bagi pelaku UMKM hanya ada dua pilihan. Menjual atau titip jual produknya secara langsung sebanyak mungkin, atau memasarkan lebih maksimal dengan pilihan sistem pesanan dan siap dengan jasa antar. Masing-masing pilihan ini, berkonsekuensi penyesuaian strategi yang bagaimana agar produksi dan penjualan produknya tetap berjalan dan bisa menghasilkan keuntungan lebih banyak.

Pilihan yang apapun, ini bisa menjadi kendala dan tantangan berat, terlebih bagi produsen atau pelaku UMKM pemula (startup), dengan modal usaha pas-pasan. Maka, keberadaan pihak lain yang bisa mempermudah mata rantai distribusi produk UMKM menjadi sangat penting dan nyata dibutuhkan.

Ada banyak jasa ekspedisi atau pengiriman yang bisa menjembatani masalah dan kendala bagi UMKM tersebut. Perusahaan jasa pengiriman JNE misalnya, selama ini dikenal sudah banyak andil ditengah-tengah tantangan pelaku UMKM di Indonesia. Salah satunya, melalui produk JNE Loyalty Card (JLC).

Sejak 2017an lalu, JNE mengembangkan program JNE Loyalty Card (JLC) ini. Dan, pada 2019, tercatat jumlah JLC sudah mencapai lebih dari 140 ribu anggota di seluruh Indonesia. Akan tetapi, jika dibandingkan dengan rata-rata jumlah pelaku UMKM di kabupaten/kota, jumlah pelanggan JLC ini tentu masih bisa ditingkatkan berkali lipat lagi.

Tak hanya itu, JNE bisa membantu pelaku UMKM untuk bisa lebih berkembang. Yang sudah dilakukan antara lain mengedukasi para pelaku UKM untuk menjadi vendor agar produk UKM lokal dapat dipromosikan lebih luas ke seluruh Indonesia melalui website Pesona JNE, juga pelatihan gratis tentang strategi digital marketing, packaging, dan sebagainya untuk para pelaku UMKM.

Dalam konteks kesulitan pelaku UMKM di atas, layanan pengiriman dengan bea yang lebih limit dan kompetitif khusus bagi pengiriman produk UMKM, bisa lebih dimaksimalkan. Ini bisa dengan pilihan skema produk layanan tambahan, bagi produk UMKM yang banyak diminati konsumen.

Optimisme bisa dibangun JNE bagi UMKM dari skema jasa pengiriman khusus ini. Semakin tinggi tingkat penjualan dan distribusi produk UMKM, maka akan semakin banyak kemudahan pengiriman yang bisa diperoleh dari JNE. Dengan cara ini, maka semua bisnis UMKM akan berkompetisi aktif serta termotivasi mengembangkan produk dan memperluas pasar penjualannya. (*)


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button