Kota Batu

Cable Car di Batu Tidak Terkait RPJMD Kota Batu

AMEG – Pembangunan cable car di Kota Batu tidak terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2017-2022 Pemerintah Kota Batu.

“Pembangunan ini kami lakukan dengan acuan Perpres No 80 tahun 2019. Jadi, pembangunan ini sudah terputus dan tidak berkaitan dengan project yang dicanangkan Pemkot Batu,” kata Komisaris Utama PT Among Tani Indonesia (ATI), Tommy B Satrio kepada ameg.id, Rabu (1/6/2022).

Dijelaskan, pembangunan cable car di Desa Oro-oro Ombo sejauh 1 kilometer tidak menggunakan dana APBD maupun APBN. Project sekitar Rp 140 miliar itu pendanaan murni dilakukan pihak swasta.

Baca Juga

Konsep pendaan, jelas Tommy, mengusung pendanaan dari masyarakat oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Sehingga saham mayoritas adalah milik masyarakat.

“Sistemnya bisa melalui koperasi atau badan hukum lainnya seperti CV. Karena di Kota Batu ada 24 desa/kelurahan, nantinya akan ada 24 koperasi atau CV, jadi di setiap desa/kelurahan punya sendiri-sendiri,” jelas Tommy.

Cable car di Batu dikonsep tourism dan membutuhkan lahan sekitar 5 hektar dengan spot dan view yang sangat bagus. Bukan konsep urban untuk transportasi umum.

“Untuk perizinan kami hanya perlu izin ke Pemkot Batu dan Pemprov Jatim. Sedangkan di pemerintah pusat hanya sebatas pemberitahuan saja. Berbeda jika mengusung konsep urban yang memerlukan izin dari pemerintah pusat,” sebut dia.

Secara detil dijelaskan, cable car dimulai dari rest area Jalibar di Desa Oro-oro Ombo menuju ke Coban Rais dengan menggunakan satu main station di Jalibar.

Untuk di Coban Rais, sementara waktu hanya station untuk berputar. Belum bisa digunakan untuk naik turun. “Sehingga rutenya dimulai dari Jalibar ke Coban Rais dan kembali lagi ke rest area Jalibar. Jadi, sekali naik jarak tempuhnya sekitar 2 kilometer,” ungkap Tommy.

Kabin didesain untuk delapan penumpang dengan total 10 kabin. Jika pembangunan tahap pertama selesai, selanjutnya ditambah lagi rute ke desa-desa lain yang ada di Kota Batu.

“Dengan kehadiran kereta gantung ini, kami rasa manfaatnya sangat besar untuk masyarakat. Salah satunya bisa mengembangkan UMKM di Kota Batu, peningkatan lapangan kerja dengan melakukan rekruitmen putra-putri terbaik Kota Batu. Serta meningkatkan PADes dan PAD Kota Batu,” sebut Tommy.

Kepala Desa Oro-oro Ombo, Wiweko berharap kawasan hutan di Oro-oro Ombo tetap dihijaukan untuk menghindari terjadinya bencana alam seperti tanah longsor maupun banjir bandang.

“Kami berharap, Bumdes di setiap desa turut dilibatkan di dalamnya. Sebab anggaran yang dikelola setiap Pemdes di Kota Batu sangat besar dan menyebabkan SILPA setiap tahunnya. Maka harus dimanfaatkan sebaik mungkin,” tandasnya. (*)


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button