Kabupaten MalangMalang Raya

Gus Thoriq Darwis Teguhkan Nasionalisme Santri Nusantara

Ditetapkannya Hari Santri Nasional (HSN) oleh pemerintah tidak terlepas dari sosok Gus Thoriq bin Ziyad, pengasuh pondok pesantren Babussalam, Pagelaran, Kabupaten Malang. Setiap 22 Oktober, kini diperingati sebagai hari santri. Sebuah peneguhan nasionalisme dari kalangan santri yang sebelumnya terpinggirkan.

RABU(20/10/2021) malam, suasana lingkungan ponpes Babussalam tampak sunyi. Gus Thoriq Ziyad, menyilahkan AMEG.ID santai di kursi yang ada di teras kediamannya yang masih satu lokasi dengan ponpes ini. Lebih dari satu jam kami berbincang soal muasal Hari Santri Nasional dicetuskan.

Gus Thoriq berkisah, gagasan mewujudkan Hari Santri tercetus pada Mei 2009 silam, beberapa waktu sebelum pesta demokrasi Pilpres. Calon presiden RI kala itu, Joko Widodo berkesempatan singgah dalam lawatan kampanyenya di Ponpes Babussalam di Desa Banjarejo, Kecamatan Pagelaran.

“Ada perjanjian yang saya sodorkan pada Jokowi waktu itu. Bunyinya, jika Saya dikehendaki Allah sebagai presiden, akan saya jadikan Hari Santri pada 1 Muharam” kenang Gus Thoriq.

Gus Thoriq masih ingat, bagaimana gagasannya waktu itu dianggap banyak kalangan sebagai hal mustahil dan banyak pro-kontra. Menurutnya, banyak yang kontra waktu sebenarnya, menganggap perjuangan ini hal mustahil.

“Dianggap mustahil. Apalagi, ini muncul dari seorang saya. Santri dari desa, yang jauh dari percaturan di Jakarta. Tapi saya berprediksi, ketika santri lebih lebih diakui, maka aka terjadi kemajuan negara ini,” ungkapnya.

Beberapa tahun berselang, komitmen politik Jokowi ini tak kunjung disanggupi. Gus Thoriq pun sempat mengingatkan penguasa, dengan membuat lukisan foto sangat bersama Presiden Joko Widodo. Lukisan ini disebutnya hanya sebagai pesan yang mengingatkan apa yang sudah dijanjikan Jokowi lima tahun sebelumnya.

Joko Widodo saat berkunjung ke Pondok Pesantren Babussalam Pagelaran, Kabupaten Malang

Gus Thoriq mengakui, kemunculan ide dan pengakuan Hari Santri tidak terlepas dari dinamika politik saat itu. Sejumlah proses politik cukup panjang mengiringi perjalanan pengakuan bagi santri ini.

Siapa sangka, wacana Hari Santri saat itu terus menggelinding dan cukup seksi sebagai isu politik. Meski, dari awal pencetusan ideanya, diakui sempat menggantung dan hampir lenyap kabarnya. Wacana Hari Santri menguat lagi ketika menjelang Pilpres 2015.

Menurut Gus Thoriq, santri di seluruh Indonesia tidak boleh mengesampingkan kontribusi elit partai politik. Terhitung, elit PDIP dan Partai Demokrat, yang dirasakan andilnya di balik penetepan Hari Santri Nasional kini.

Apakah ada keuntungan politis langsung yang didapatkan bersamaan dengan lahirnya ide dan penetapan HSN ini? Terkait hal ini, alumni Universitas Islam Negeri Maliki Malang, ini tidak serta merta mengamininya. Yang terbaca oleh Gus Thoriq, adalah dinamika dan euforia yang nyata pascapenetapan Hari Santri.

Selain sempat muncul euforia berlebihan, ia juga mengakui, gejala klaim paling terdepan dan memperjuangkan pengakuan HSN dimunculkan sejumlah elit. Bahkan, sebagai pencetus ide dan penggeraknya, Gus Thoriq sendiri merasa ditinggalkan dalam euforia ‘kemenangan’ lahirnya HSN ini.

“Nggak. Saya tidak ada komunikasi lagi setelah pencetusan sampai penetapan HSN, dengan Jokowi ataupun orang-orang dekatnya,” kata Gus Thoriq.

Sebaliknya, Gus Thariq mengaku legawa dan ikhlas jika namanya tenggelam dalam euforia ataupun keuntungan pribadi dari HSN. Karena, menurutnya, yang diperjuangkannya hanya untuk kebaikan dan mengangkat mertabat santri di seluruh Tanah Air.

Ia mengakui, pemikiran awalnya saya saat itu, berangkat dari keprihatinan, bawa kalangan santri terpinggirkan dan tidak mendapatkan peran strategi selama tiga kepemimpinan presiden RI.

Apakah ada kekhawatiran justru muncul politisasi santri ke depan?
Soal ini, Gus Thoriq menegaskan, nasionalisme dan cinta Indonesia adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari keberadaan santri. Dan, jika santri mendapatkan ruang dan peran strategis dalam sistem pemerintahan dan ketatanegaraan, maka Indonesia akan lebih baik kedepannya.

“Politik itu siasat (strategi). Tidak ada pertentangan politik dan agama. Jika tujuannya baik, sama-sama penting,” tandasnya.

Namun begitu, Gus Thoriq sangat berharap memaknai HSN agar jangan sampai melenceng dari substansi dan ghirah awalnya. Bahwa, santri juga tidak mati atau terbungkam nasionalismenya.

Bahkan, lanjutnya, ia berharap semua tidak puas memaknai HSN sebatas pengakuan dan seremonial pengakuan saja. Seluruh santri, diharapkan juga tidak lupa diri dan tetap tidak meninggalkan tradisi kesantriannya.

“Indonesia perlu punya doa resmi kenegaraan. Santri-satri juga harus selalu menyatu, menghasilkan banyak resolusi santri bagi kemaslahatan bangsa dan negara,” demikian Gus Thoriq Ziyad. (*)


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM