Kuliner

Keripik Singkong Singosari Tembus Mancanegara

AMEG– Memasuki fase PPKM Berlevel bukan menjadi salah satu alasan utama untuk berhenti berwirausaha. Meski beberapa sektor ekonomi terkena imbasnya.

Maka tak menghentikan semangat wirausaha Syukron Aldhim. Hampir setiap harinya memproduksi keripik singkong sebanyak 500 bungkus. Warga Jl Wijaya Barat 115 A RT03 RW 03 Kelurahan Pagentan Kecamatan Singosari. Ia mengaku adanya PPKM Level 4 ini juga mengakibatkan penurunan omset penjualan keripik singkong miliknya.

“Tentu saja sangat menurun. Dari omset saja ada sekitar 60 persen. Setiap hari kami tetap produksi. Sebanyak 500 bungkus, meskipun pandemi. Keripik singkong ini juga memiliki rasa yang bervariasi seperti keju, balado,” ujar  Syukron, Minggu (8/8/2021)

Baca Juga

Memiliki nama merk dagang Keripik Singkong Wijaya. Syukron mengaku tak hanya memasarkan di wilayah Malang Raya. Namun juga menyasar ke wilayah mancanegara di benua Asia. Tepatnya di Hongkong. 

“Untuk pemasarannya hanya di wilayah Malang Raya saja. Tetapi sebelum pandemi kami hampir satu bulan sekali rutin mendistribusikan keripik singkong ini ke negara Hongkong. Agar bisa di konsumsi oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) maupun dinikmati para warga Asing,” ujarnya.

“Tetapi, selama pandemi kami hanya melayani permintaan dari pihak distributor yang ada di negara Hongkong, meskipun tidak menentu. Proses distribusinya tidak sulit karena di sana terdapat gerai khusus makanan Indonesia yang di miliki oleh orang pribumi yakni orang Kota Malang sendiri,” tambahnya.

Berkat kesuksesannya, pria 40 tahun ini memiliki 3 toko cabang yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang.
seperti di daerah Lawang, Depan Candi Singosari, Desa Wijaya Singosari. Selain itu kini ada sebanyak 20 distributor yang menjadi pelanggan tetapnya.

Disisi lain, Berdiri sejak tahun 1980-ankeripik singkong Wijaya ini memiliki keunggulan dari segi tekstur maupun rasa. Syukron mengungkapkan, banyak pelanggan menyukai cita rasa keripik camilan tersebut. Sehingga memutuskan untuk berlangganan membeli keripik singkong miliknya.

“Menjadi favorit para pelanggan karena teksturnya yang empuk sehingga mudah dinikmati. Biasanya ada beberapa produksi keripik singkong yang cenderung keras. Sehingga kurang dinikmati. Banyak pelanggan kami makin bertambah karena ciri khas tekstur tersebut,” ungkapnya.

Pria berusia 40 tahun ini juga lebih mengutamakan proses pembuatan keripik  singkong ini di olah secara tradisional. Bahkan, proses penggorengannya masih menggunakan kayu dan bara api. Sehingga proses kematangan keripik ketika masuk wajan penggorengan lebih matang.

Setiap bungkusnya dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau. Mulai dari berbagai macam ukuran. 

“Kalau dari yang kecil sekitar Rp 2000. Lalu yang paling besar 500 gram itu Rp 16.000,” pungkasnya. (*)


Editor : Yanuar Triwahyudi
Publisher : Rizal Prayugo
Sumber : -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button