Regional

Khabibah Bertemu Sosok Putih di RKZ

Perjalanan Pesantren Jauharotul Hikmah (JeHa) tak bisa dilepaskan dari jasa Ustadzah Khabibah. Saat jumlah santri makin banyak, dia merelakan halaman tokonya jadi tempat mengaji. Enam tahun lalu dia tak bisa mengajar. Dokter memvonisnyi menderita jantung bocor.

***

AMEG – “SAMPEAN harus ketemu Mbak Bibah,” ujar salah seorang pendiri JeHa Muhammad Rofi’uddin malam itu (30/4). Tiba-tiba ia jadi teringat kisah sepupu perempuannya itu saat kami membicarakan perjalanan panjang pesantren yang berdiri di tengah lokalisasi Jarak-Dolly.

Baca Juga

Adik Khabibah, Muhammad Nasih, ikut mendirikan Pesantren JeHa bersama Rofi’. Khabibah ikut mengajar di tahun kedua pesantren. Pada 2015 ia jarang mengajar. Terutama setelah dokter memvonisnya menderita jantung bocor.

Kata dokter, sudah kasep. Telat ditangani. Bolak-balik ganti dokter. Semuanya tak berani mengoperasi. Jantung bocor seharusnya diobati sejak kecil. Kalau sudah dewasa, kemungkinan selamat kecil.

Harian Disway akhirnya bertemu dengan Khabibah 11 Mei lalu. Ia tampak berjalan berdampingan dengan adiknyi, M. Nasih, saat masuk ke Putat Jaya Gang IV B. Mereka hendak menuju Pesantren JeHa yang tak jauh dari gapura gang sempit itu. Kami sudah menunggu di sana.

Sebelumnya, Rofi’ bercerita bahwa Khabibah bertubuh kecil. Namun, mental dan nyalinya begitu besar.

Ekspresi kesedihan Khabibah guru ngaji Pesantren JeHa saat menceritakan pengalamannya. (Foto: Eko-Disway)

Tinggi Khabibah hanya sepundak Nasih. Badannya tidak terlalu kurus. Tidak juga gemuk. Ideal. Sebelum tahu bahwa ia menderita jantung bocor, badannya selalu kurus. Sering lelah dan ngos-ngosan sejak masih kecil. Namun, di balik tubuh yang kecil itu, ia berani mempertaruhkan nyawanya di meja operasi

Kami sempat berbincang sebentar di teras JeHa. Karena tidak ada kegiatan di pesantren, dia mengajak kami ke rumahnya. “Enggak jauh, kok. Keluar gang langsung ke kiri,” kata Khabibah.

Rumahnya satu bangunan dengan toko. Hampir semua rumah di sepanjang Jalan Putat Jaya itu dijadikan tempat usaha. Dulu, saat prostitusi masih merajalela, jalan itu tergolong yang paling ramai pengunjung. Paling tinggi perputaran uangnya.

Khabibah dan Nasih termasuk yang menikmati perputaran ekonomi itu. Rumah mereka yang berhadap-hadapan sama-sama dipakai berjualan.

Siang itu tokonya tutup. Nasih membantunyi membuka pintu harmonika yang cukup berat. “Kalau ngaji biasanya di sini. Gelar tikar,” kata Khabibah sembari menunjuk halaman tokonyi begitu pintunya terbuka.

Khabibah guru ngaji Pesantren JeHa tak kuasa menahan air mata saat menceritakan pengalamannya. (Foto: Eko-Disway)

Ada berbagai kebutuhan pokok yang tertata rapi di lemari kaca dan rak besi. Suaminyi belum pulang siang itu. Ia masih kulakan.

Khabibah mulai mengambil kursi dan kami mengobrol di depan toko kelontongnyi. Pintunya tidak dibuka terlalu lebar karena toko masih tutup.

Dulu, sebelum menjalani operasi, dia tidak bisa jalan terlalu jauh. Selalu ngos-ngosan. Kini jalan ke mana saja sudah oke. “Harusnya jantung bocor sudah ditangani sebelum usia 20 tahun. Saya saat itu sudah 35 tahun,” katanya.

Kisah itu dimulai saat Khabibah ditemukan sudah tak sadarkan diri di rumahnyi. Tahu-tahu ia sudah berbaring di Rumah Sakit Katolik St Vincentius a Paulo (RKZ) Surabaya. Untung, ada mertuanyi yang datang ke rumah dan langsung mengantarnyi ke rumah sakit terdekat.

Sekujur tubuhnyi membiru, dari kuku hingga bibir. Badannya dingin. Keluarga bingung. Sebab, Khabibah belum pernah sakit seperti itu sebelumnya.

Selama dia koma, keajaiban-keajaiban itu mulai muncul. Dimulai dari datangnya seseorang dengan baju serbaputih yang juga diterangi cahaya. “Pokoknya serbaputih. Terus beliau tanya, ’Ibu, guru ngaji, ya?’,” ujar Khabibah menirukan perkataan pria itu.

Dia bingung. Dari mana ia bisa tahu bahwa dirinyi adalah guru mengaji. Sampai sekarang Khabibah tidak tahu siapa sosok yang menemuinyi itu. Yang jelas, ia bukan dokter atau perawat di RKZ. Khabibah menganggapnya sebagai suatu keajaiban yang nanti menuntunnyi ke jalan kesembuhan.

Tak lama setelah kejadian itu, Khabibah sadar. Keluarga begitu bahagia melihat dia bangun dari koma. Keadaan mulai memburuk sejak kejadian itu. Sampai akhirnya dokter memvonis dia menderita jantung bocor.

Seumur hidup, dia tak tahu apa itu jantung bocor. Penyakit kelainan pada struktur jantung itu ternyata sudah dia derita sejak kecil.

Kalau mau sembuh harus dioperasi. Kala itu biayanya mencapai Rp 200 juta. Itu belum termasuk obatnya. Ari Wahyu, suaminya, tidak memedulikan biaya. Yang penting Khabibah sembuh.

Masalahnya, ia sudah bolak-balik bertemu dokter jantung. Tidak ada satu pun yang berani mengoperasinya karena usianya sudah 35.

Penyakitnya baru diketahui saat Khabibah mulai mengandung anak pertama. Kata dokternyi, banyak pasien jantung bocor yang baru ketahuan saat mengandung.

Padahal, kehamilan itu sangat ia tunggu. Sudah bertahun-tahun ia belum bisa hamil. Sampai akhirnya upayanyi berhasil melalui program bayi tabung.

Sampai akhirnya takdir mempertemukannyi dengan dokter spesialis bedah jantung RSUD dr Soetomo, dr Heru Subroto. Lewat perantara dr Heru, nyawa Khabibah kembali tersambung. Ada permintaan unik dari Heru yang akan dikenang Khabibah seumur hidupnya.

Dokter-Dokter Diminta Sowan ke JeHa, baca besok…(*)


Editor : Sugeng Irawan
Publisher : Rizal Prayoga
Sumber : -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button