Film

Langganan Jadi Pelacur Rusia

Carson Allen, si Bule Ahjussi di So Not Worth It

Carson Allen mencuri perhatian di So Not Worth It. Peran dia sebagai Carson begitu unik. Tapi Allen mampu mengeksekusinya dengan sempurna. Sebelum bermain dalam sitkom Netflix tersebut, dia sering muncul di berbagai drama. Perannya kecil, tapi selalu meninggalkan kesan.

***

AMEG – Cuek, pemarah, pengatur, dan tukang mabuk. Tidak peduli penampilan, tidak peduli fashion, dan tidak mau repot-repot berdandan. Kecuali buat Sersan Kim, sang pacar yang sedang wajib militer. Dia berbicara seperti nenek-nenek, tapi bersikap seperti ahjussi-ahjussi yang sangat annoying. ’’Di zamanku dulu,’’ adalah kalimat favorit dia. Ruwet!

Baca Juga

’’Ini peran yang paling susah buatku sejauh ini. Meskipun kelihatannya sepele, anak kuliahan, tapi Carson adalah pribadi yang complicated,’’ papar Carson Allen, ketika berbincang di Nonsensible Podcast lansiran Dive Studio. ’’Apalagi nama karakterku dibuat sama dengan nama asliku. Tiap sutradara bilang ’Carson harus dibuat lebih jelek lagi,’ aku selalu berpikir dia sedang menegurku,’’ curhat Allen, lantas tertawa.

Tugas dia makin sulit, karena kepribadian asli Allen sangat bertolak belakang dengan Carson di sitkom. Dia adalah perempuan biasa, yang memedulikan penampilan. Sikapnya pun manis dan sopan. Namun, di So Not Worth It, dia dipaksa jadi ’’preman asrama’’. Berkali-kali sutradara Kwon Ik-joon dan Kim Jung-sik meminta dia berbicara dengan gaya ahjussi.

’’Tahu enggak? Itu gaya bapak-bapak yang berbicara sambil mendesis dan mendecakkan lidah itu lho,’’ kata Allen, sambil memeragakannya. Itu, menurut dia, juga sangat sulit. Meskipun Allen sudah tinggal di Korea selama 13 tahun. Dan bahasa Koreanya sempurna.

Memerankan karakter yang tidak cantik menjadi tantangan tersendiri. Apalagi, dia bertarung di dunia hiburan Korea. Yang sangat mengutamakan penampilan fisik. Dia sempat takut, penampilan tidak jelita membuat dia semakin sulit mendapatkan peran. ’’Tapi kuharap, mereka melihat kemampuan aktingku di sini,’’ ucap dia.

Berjuang Dari Nol

Banyak yang penasaran, bagaimana Allen bisa nyasar di dunia hiburan Korea. Dia lahir di Florida, 26 tahun yang lalu. Ayahnya adalah seorang perwira angkatan udara AS. Yang ditugaskan berpindah-pindah negara. Sejak berusia 5 tahun, Allen sudah tinggal di Okinawa, Jepang. Delapan tahun kemudian, keluarga itu pindah ke Seoul, Korea.

Saat itulah Allen remaja jatuh cinta pada dunia drama. Waktu dia SMP, sekitar 2009, Boys Over Flower sedang ngehit-ngehitnya. Allen tak mau ketinggalan hype. Dia harus menontonnya dengan sembunyi-sembunyi. Karena drama itu diputar pukul 22.00 waktu setempat. Dan dia tidak boleh tidur terlalu larut.

’’Kemampuan bahasa Koreaku belum bagus. Jadi paginya aku punya ratusan pertanyaan di kepala,’’ kenang Allen. ’’Aku bertanya ke teman-temanku. ’Ini ibunya ngomong apa sih? Ini maksudnya apa sih?’ Aku membahasnya tiap hari dengan mereka,’’ papar dia.

Saat SMP itu pula, dia ikut teater. Waktu berakting di panggung, dia merasa, inilah dunianya. Namun, dia tak sedikitpun ingin menjadi aktor teater. Gara-gara tergila-gila pada drama, dia kepingin menjadi aktor televisi dan film.

Masa tugas sang ayah selesai tepat ketika Allen lulus SMA. Keluarga itu kembali ke AS. Sang ayah ingin anak-anaknya mendapat pendidikan di negeri sendiri. Allen bilang, kedua orang tuanya meminta dia menjadi dokter gigi. Padahal dia ingin menekuni akting. ’’Sudah begitu, ayahku ditugaskan di North Carolina. Di sana enggak ada apa-apa!’’

Allen sempat kuliah satu semester di kota itu. Tapi dia depresi. Bobotnya naik lima kilo. Dia menyadari, AS bukan tempat yang cocok buat dia. Dia minta izin untuk kembali ke Korea. Tentu saja request itu ditolak mentah-mentah.

Namun, setelah melihat sendiri bahwa Allen depresi, orang tua Allen mengizinkan anak mereka kembali ke Korea sendirian. Tapi mereka membuat perjanjian. Mereka akan melepas segala support finansial. Kuliah Allen (yang jurusannya ditentukan oleh sang ayah) ditanggung pemerintah AS. Tapi untuk biaya hidup sehari-hari, dia harus mencari sendiri.

’’Aku dulu naif. Aku berpikir bisa membereskan semuanya,’’ ungkap Allen. ’’Padahal, aku tidak pernah mencari rumah sewa, mengurus kebutuhan hidup, apalagi mencari pekerjaan,’’ papar dia. Untung, selama SMP, dia sudah pernah ikut teman-temannya casting model iklan. Dia punya banyak kenalan dari situ. Dia mencari uang dari kerja sambilan sebagai model.

Peran Tipikal

Ketika sudah mulai dikenal di kalangan casting director, bukan berarti Allen langsung laris. Di drama Korea, peran buat aktor bule sangat terbatas. ’’Kalau enggak jadi pelacur Rusia, ya anggota mafia Rusia. Pokoknya cewek Rusia,’’ cerita Allen di Asian Boss.

’’Aku sampai punya satu folder khusus berisi foto-foto perempuan Rusia di komputerku. Foldernya kuberi nama ’Sexy Russian’. Buat referensi. Karena kebanyakan peran yang ditawarkan ke aku seperti itu,’’ papar Allen. Salah satu peran dia sebagai pelacur Rusia yang cukup terkenal adalah di film pendek berjudul Matriochka. Rilis pada 2018 lalu

Pada 2016, untuk kali pertama, dia mendapatkan peran di drama produksi besar. Yakni The K2, yang dibintangi Ji Chang-wook. Allen memerankan Raniya, translator asal Iran yang juga kekasih karakter Chang-wook. Namun, Raniya dibunuh. Cerita bergulir dari situ. ’’Aku memakai cadar, sehingga wajahku enggak kelihatan. Aku harus berakting murni dari mata,’’ papar Allen.

Peran di The K2 meyakinkan Allen, bahwa dia bisa survive di Korea. Setelah itu, dia sempat mendapat peran di Voice musim pertama (2017), Spring Turns to Spring (2019), dan beberapa episode Saturday Night Live. Lalu, yang paling besar, dia bermain sebagai Helena dalam drama populer When the Camellia Blooms.

Peran itulah yang makin memantapkan posisi dia di dunia hiburan Korea. Yang membuat wajah dia makin dikenal. Baik oleh fans maupun produser. Dan tak salah lagi, So Not Worth It bakal makin melontarkan popularitas dia. Terutama di mata fans internasional.

’’Bohong kalau aku bilang tidak kepingin kembali ke AS, dan berakting di Hollywood. Tapi sementara ini, aku sangat menikmati bekerja di Korea,’’ tutur Allen. ’’Meskipun tiap malam aku stres dan menangis-nangis di karpet kontrakan, semua ini worth it kok,’’ imbuh dia. (*)


Editor : Sugeng Irawan
Publisher : Rizal Prayoga
Sumber : Harian Di's Way

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button