Sahabat ER

Melawan Lupa

Catatan Kecil ER.

MENGINGAT pada hal-hal kecil selalu membuat hati tenang. Apalagi bila ingatan itu menyangkut orang yang kita temui, kemudian pertemuan itu berlangsung sangat menyenangkan dan berkesan, meskipun kita tidak saling mengenal sebelumnya.

Suatu saat, saya bersilaturahmi ke rumah seorang warga Desa Mbeji Kecamatan Junrejo. Saya tidak mengenal rumah itu milik siapa, yang jelas masih masuk wilayah Kota Batu.

Saya ucapkan salam, kemudian seorang ibu membuka pintu dan sama sekali tidak terkejut melihat saya. Saya memahami kalau ibu sepuh yang usianya 80an tahun, itu tidak mengenal saya. Saya juga tidak mengenalnya.

Rumahnya sederhana, meskipun berdinding tembok. Ibu itu tinggal bersama putranya yang sudah berkeluarga. Akhir tahun 2011, udara dingin. Ibu sepuh itu memakai jaket.

Saya dipersilahkan masuk. Dan duduk di kursi kayu yang sudah lapuk. Kami duduk di kursi yang berdekatan, di ruang tamu yang gelap. Hari sudah sore. Tidak ada perabot lain kecuali meja kecil, di atasnya ada TV tabung 14 inci.

Meskipun tadinya tidak saling mengenal, tapi obrolan ngalor-ngidul antara saya dengan ibu itu, sesekali ikut nimbrung pula putra dan menantunya, terasa gayeng.

Saya mencatat, dahulu ibu itu bekerja sebagai buruh kebun, terutama untuk sayur mayur dan bekerja di kebun apel. Ini jenis pekerjaan yang mayoritas dilakukan oleh sebagian besar warga se kecamatan. Karena itu kehidupan berlangsung dengan enak. Gotong royong. Saling menghormati, saling tegur saat bertemu di manapun. Dan sama-sama menjaga budaya yang mereka miliki sebagai warisan dari leluhur.

Apabila ada seorang warga yang sakit, misalnya, segera saja informasi itu menyebar ke seluruh desa. Belum ada medsos, tapi kecepatan kabar adanya seorang warga yang sakit ketika itu juga sangat cepat. Lantas satu per satu warga menjenguk si sakit, dengan membawa bahan makan atau sedikit uang.

Dengan suara yang rendah dan pelan tetapi jelas, ibu sepuh itu bercerita apa saja dengan ingatan yang bagus, jujur, dan disampaikan mengalir lepas yang ketika itu benar-benar saya rasakan seperti titipan. Sebuah pesan. Pesan tidak harus diberikan oleh pejabat tinggi, orang pandai, atau orang kaya. Pesan dari ibu sepuh itu sangat berharga. Sayang kalau diabaikan begitu saja.

Terinsiprasi oleh pesan ibu sepuh itulah Among Tani Foundation didirikan di Kota Batu. Sebuah komunitas berbentuk yayasan ini didedikasikan untuk mewakili ibu-ibu, anak-anak, remaja dan warga yang ingin ikut punya andil membangun wilayah Batu, untuk mengisi ruang-ruang kecil yang tidak tersentuh.

ATF (Among Tani Foundation) didirikan memang dengan harapan dapat membuka sumbatan-sumbatan yang mengubur peradaban masa lalu; tepo sliro, gotong royong, hormat menghormati, saling membantu dan tidak ada yang egois.

Kemajuan yang terjadi saat ini, terutama kemajuan teknologi informasi dengan munculnya medsos, menurut saya cenderung membuat orang makin individualistis. Jauh dari yang diharapkan ibu sepuh warga Desa Mbeji dulu.

Meskipun kebersamaan dan keguyupan serta adab-adab masa lalu menjadi acuan, tetapi Yayasan ATF sangat terbuka dengan gagasan kreatif, solutif, inovatif sebagai bagian dari perkembangan jaman.

“Jangan puas tumbuh tetapi tetap berada di dalam tempurung. Terbanglah dengan bebas agar bisa melihat luasnya dunia, tanpa melupakan dari mana kau berasal.”

Sahabat ER
Semarang, 1 Januari 2022.


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM