Film

Lee Je-hoon dan Drama yang Sarat Pesan

Mencermati Isu Sosial Sambil Menggali Karakter

Sebagai aktor, Lee Je-hoon lebih sering membintangi film daripada serial. Namun, dua serial terakhirnya begitu menawan. Taxi Driver dan Move to Heaven. Bukan hanya ceritanya yang seru. Keduanya juga memiliki pesan sosial yang dalam. Je-hoon sangat menikmatinya.


AMEG – LEE JE-HOON mendapatkan momentum breakthrough lewat film Architecture 101. Genrenya drama romantis. Ia memerankan seorang mahasiswa jurusan arsitektur yang mengalami cinta pertama. Begitu imut, lugu, dan manis. Namun, selepas peran polos itu, ia semakin rajin mengeksplorasi berbagai jenis karakter.

Baca Juga

’’Aku tergerak untuk selalu bertumbuh bersama setiap karakter yang kuperankan. Untuk menunjukkan layer diriku yang lain sebagai aktor,’’ tutur Je-hoon, dalam wawancara dengan Korea Times.

Maka, sejak itu, kita bisa melihatnya membawakan berbagai peran. Ia pernah menjadi profiler kriminal, generasi kedua chaebol yang bergerak di bidang fashion, petugas pelayanan penumpang di bandara, dan sebagainya.

Foto: Istimewa

Sepanjang bulan lalu, kita melihatnya dalam dua peran yang bertolak belakang. Yang satu sebagai mantan anggota pasukan khusus yang berubah menjadi vigilante. Yang satunya lagi, sebagai mantan narapidana. Tepatnya di Taxi Driver, serta drama Netflix Move to Heaven.

Jika diperhatikan, kedua serial itu bukan drama biasa. Taxi Driver mengisahkan tentang perusahaan taksi gelap yang punya misi spesial. Yakni melayani permintaan balas dendam dari mereka yang diperlakukan tidak adil oleh hukum. Sementara lawannya adalah mereka yang tidak bisa dihukum oleh sistem peradilan Korea.

Je-hoon memerankan Kim Do-gi. Pengamudi taksi sekaligus personel utama perusahaan taksi gelap. Yang siap menghukum para penjahat dengan cara-cara paling menyakitkan. Kadang ia harus menyamar menjadi berbagai karakter demi memuluskan rencana balas dendam. Taxi Driver menjadi sangat mengerikan karena kasus-kasusnya diambil dari kejadian beneran.

Move to Heaven juga terinspirasi dari event nyata. Drama itu diangkat dari esai berjudul Things Left Behind karya Kim Sae-byul. Yang berprofesi sebagai trauma cleaner. Alias bertugas membersihkan barang-barang peninggalan seseorang yang baru saja meninggal. Je-hoon memerankan Cho Sang-gu, petarung MMA berandalan yang tiba-tiba diserahi tanggung jawab menjadi wali dari keponakannya.

Si keponakan (yang baru saja ditinggal mati ayahnya), menjalankan perusahaan trauma cleaning. Berdua, lewat barang-barang yang dianggap tak berguna, mereka menyampaikan kisah mereka yang telah tiada. Isu yang diangkat juga sangat relatable dengan masalah sehari-hari audiens. Insecurity soal pekerjaan, kesepian, hingga konflik keluarga.

Meski karakter yang ia bawakan berbeda, Taxi Driver dan Move to Heaven punya kesamaan. Keduanya sama-sama memberi perhatian kepada orang-orang yang tidak beruntung. Baik korban kejahatan maupun para individu yang tidak memiliki privilese. Perantau yang tinggal sendirian, kelompok minoritas, ataupun mereka yang tidak dipedulikan oleh keluarganya.

Di Move to Heaven, Je-hoon mengaku mendapat kesempatan mengekspresikan dirinya secara berbeda. Baik dari segi penampilan maupun akting. ’’Aku sangat haus terhadap peran-peran yang mengalami transisi. Dari karakter yang dipandang negatif, menjadi positif. Dan Cho Sang-gu mengakomodasi kebutuhanku soal itu,’’ paparnya.

Foto: Istimewa

Namun, di atas perkembangan karakter, ada satu hal yang lebih ia pentingkan dalam memilih peran. Ia ingin lebih banyak terlibah dalam proyek-proyek yang mengangkat isu sosial. Menurut lulusan sekolah drama Korea National University of Arts itu, belakangan ini, ia semakin tertarik dengan kejadian-kejadian terkini. Yang terjadi di sekitarnya.

’’Ketika aku mengambil sebuah peran, aku cenderung mempelajari dan mengeksplorasi kehidupan karakter tersebut. Dan karena pengalaman hidupku sangat terbatas, aku mencoba memberi perhatian lebih dalam kepada lingkungan di sekitarku,’’ tuturnya.

Je-hoon tertarik mengamati, misalnya, bagaimana generasi saat ini menjalani hari-hari mereka. Apa yang sedang mereka sukai. Apa yang mereka gilai. Dan apa yang membuat mereka sedih. Ia mencoba menyerap beragam cerita itu baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurutnya, mengamati hal-hal semacam itu meluaskan wawasan dan cara pandangnya.

’’Dan itu benar-benar mempengaruhi bagaimana aku memilih proyek,’’ kata Je-hoon. ’’Sekarang, daripada semata-mata berfokus pada karakter yang akan aku mainkan, aku lebih tertarik pada pesan yang ingin disampaikan oleh film atau serial tersebut. Dan bagaimana pesan itu disampaikan kepada audiens,’’ paparnya.

Karena alasan itulah, ia sangat senang membintangi Taxi Driver. Yang disutradarai oleh Park Joon-woo. Sineas tersebut berpengalaman menggarap jurnalisme investigatif. Termasuk program dokumenter Unanswered Questions. Kasus-kasus dalam Taxi Driver bersumber dari acara itu juga. Ada soal penipuan, penyiksaan tenaga kerja, pelecehan, dan sebagainya.

Foto: Istimewa

’’Program-program jurnalistik itu penting. Demikian juga film dokumenter. Tapi, menyampaikan kejadian nyata yang direka ulang dan dibalut dengan fiksi, menurutku akan lebih membuat orang tertarik,’’ papar Je-hoon. ’’Mereka tidak akan sekadar menontonnya untuk hiburan. Tapi juga mengajak masyarakat kembali memikirkan kasus aslinya,’’ lanjutnya.

Kim Do-ki dalam Taxi Driver adalah pilihan dan sumber daya terakhir yang dimiliki para korban kejahatan. Dengan kepercayaan terhadap lembaga peradilan yang semakin merosot, kelompok vigilante yang ia pimpin mengambil alih aksi menegakkan keadilan. Dan untuk tujuan itu, mereka tak keberatan menggunakan cara-cara ilegal. Seperti meretas, mencuri, menculik, hingga menganiaya.

’’Menurutku, konsep melawan kejahatan dengan kejahatan itu seperti mewadahi katarsis kita. Itu berlaku bukan hanya buat penonton. Tapi juga buatku,’’ Je-hoon mengaku. ’’Kupikir banyak orang yang puas dengan cerita para pahlawan yang mengalahkan penjahat penindas masyarakat yang lemah. Aku saja puas kok,’’ imbuhnya riang.

Bahkan, karena beberapa kasus benar-benar diambil dari kisah nyata, Je-hoon turut merasakan sebuah tanggung jawab. Seolah-olah ia sedang membalas dendam untuk korban sungguhan. ’’Vigilante tidak boleh terjadi di kehidupan nyata. Tapi serial ini mengajak kita untuk lebih peduli ke lingkungan sekitar. Agar tidak ada lagi yang menjadi korban kekerasan atau ketidakadilan,’’ pungkasnya. Duh, bagaimana kita tidak makin ngefans Lee Je-hoon… (*)

Editor:Sugeng Irawan
Publisher:Rizal Prayoga
Sumber:Di's Way

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM