Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /var/www/html/ameg.id_wp/wp-content/themes/jannah/jannah.template#template on line 43
Disway

Nunut Besar

INILAH salah satu contoh penerapan prinsip ”jangan besar dari jabatan, besarkanlah jabatan”. Contohnya sangat sederhana. Tapi langsung menusuk ke sanubari saya.

Pagi itu saya kumpul wartawan: ramai-ramai diberi kesempatan  merasakan menembak dengan senapan laras panjang: SS1-V4. Lokasi: di lapangan tembak Batalyon Infanteri 500 Raiders/Sikatan, Surabaya. Dekat Markas Kodam V/Brawijaya.

Posisi menembaknya sambil tiarap di lantai lapangan. Di atas rumput yang dilapisi matras. Seperti militer yang lagi merayap sambil menembak. Tiap kloter berjajar 10 wartawan. Sambil tiarap diajari cara menembak: 10 wartawan 10 pelatih.

Baca Juga

Sasaran tembaknya di depan sana: 75 meter. Ada titik hitam di tengah lingkaran besar. Kami harus membidik titik hitam itu. Dari lubang intai di senjata itu bisa dilihat si titik hitam. Posisi titik harus di ujung gambar tiang tengah dari tiga tiang yang terlihat di ujung senapan.

Setelah titik hitam berada di posisi tembak, barulah pelatuk ditarik. Harus dengan sangat pelan. Kalau ditarik cepat bisa mengubah posisi titik tembak.

Dor!

Meleset.

Jangankan titik hitam, mengenai lingkaran besar pun tidak.

Menurut evaluasi pelatih, saya masih terlalu cepat menarik pelatuk. Kesusu. Itu menandakan emosi saya belum tenang. Maka diulangi lagi: dor!

Meleset lagi.

Tiga kali tembakan pertama meleset semua.

Masih ada tujuh peluru lagi. Kali ini harus ada yang kena. Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor! Dor!

Hasilnya sama: meleset semua. Menulis cerita ternyata lebih mudah daripada menembak. Menemukan lead yang baik lebih cepat dari menemukan sasaran titik hitam.

Betul. Menembak beneran tidak seperti dalam adegan film. Yang sambil meloncat pun bisa kena sasaran.

Bahkan sambil salto. Ternyata ada ajaran khusus untuk bisa menembak dengan baik. Nama ajaran itu: Nabi Tepi. Itu singkatan dari Napas, Bidik, Tekan, Picu. Napas harus tenang, bidikan harus tepat, tekanan picu harus halus.

Saya tadi bukan menekan picu, tapi menarik picu. Salah. Bukan ditarik, tapi ditekan. “Saking halusnya tekanan picu sampai seolah senjata meledak sendiri,” ujar Pangdam V/Brawijaya yang baru, Mayjen TNI Farid Makruf MA.

Saya memang belum pernah merasakan menembak. Pun pakai pistol. Kalau memegang senapan panjang sering. Di Amerika. John Mohn, punya senjata panjang di lemarinya. Juga punya pistol yang disimpan di laci sebelah tempat tidurnya.

Setiap kali ke rumah John di Kansas, saya ditawari untuk berlatih menembak. Di halaman belakang. Ayah angkat anak saya itu mengajari saya cara memegang senjata, membidik, dan mengisi peluru. Tapi saya tidak pernah mau mencoba meletuskannya.

Telinga saya pernah seperti mau pecah. Di Tambling, Lampung. Hari itu saya berdiri di jeep pemburu di Tambling. Di sebelah saya berdiri Tomy Winata. Ia lagi memegang senjata laras panjang. Di saat saya lagi melengos melihat harimau di hutan itu tiba-tiba dor! TW menembak babi hutan. Suara dor itu seperti meledak di telinga saya.

Saya pura-pura tidak tesiksa. Tapi pedalaman telinga saya sakit sekali. Tidak menyangka suara ledakan senjata sedahsyat itu.

Nabi Tepi. Farid yang memberi tahu ajaran itu. Ia memang menunggui para wartawan itu menembak.

Inilah untuk kali pertama Farid bertemu wartawan PWI Jatim, IJTI, dan AMSI.

Cara bertemu wartawan di lapangan tembak seperti itu adalah bagian dari gaya kepemimpinannya. Agar wartawan bisa menulis kegiatan. Bukan hanya menulis pidato. Farid memang pernah jadi kepala penerangan, waktu di Kopassus. Ia tahu apa yang diinginkan wartawan. Ia tahu wartawan harus punya bahan untuk ditulis.

Itu belum contoh yang saya maksud dengan ”besarkan jabatan”. Contoh ”besarkan jabatan dan bukan besar dari jabatan” adalah ini: instruksinya kepada kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya. Itu disampaikan dalam forum cangkruan pertamanya dengan wartawan di lapangan tembak itu.

“Isi website Kodam Brawijaya jangan melulu wajah Pangdamnya. Seminggu pertama ok. Biar kenal dulu.

Setelah itu harus lebih banyak menampilkan wajah Babinsa. Atau Danramil. Dandim,” ujarnya.

Babinsa adalah bintara pembina desa. Di satu desa ditempatkan satu bintara. Jabatan Babinsa memang sempat tidak populer. Di zaman Orde Baru, Babinsa jadi alat untuk memenangkan Golkar.

Setelah reformasi, urgensi Babinsa  dipersoalkan. Dianggap bisa mengganggu demokrasi. Pun Koramil dan Kodim. Banyak yang minta agar dilikuidasi.

Suara seperti itu tidak terdengar lagi 10 tahun terakhir. Bahkan nama TNI kian harum: sebagai lembaga yang bisa dipercaya dalam membela masyarakat.

“Saya yakin banyak Babinsa atau Danramil yang berprestasi. Prestasi itu harus ditampilkan di publikasi Kodam,” ujar Farid. “Apalagi sekarang ini lagi digalakkan program baru: Babinsa masuk dapur,” katanya.

Babinsa masuk dapur adalah simbolis: agar Babinsa memonitor kondisi bahan makanan rakyat miskin. Yang sampai banyak terjadi kasus kekurangan gizi pada anak.

Tentu kebijakan lebih menonjolkan pejuang di lapangan seperti itu seperti berlawanan dengan kecenderungan belakangan ini: pamer wajah kepala daerah di segala sudut. Lewat spanduk, poster, baliho, backdrop, bahkan sampai pun ke kop surat.

Mereka seperti tidak bisa besar kalau tidak dari jabatan. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*. Edisi 20 Januari 2023: Turun Gunung

Leong putu
Ku beli lima kilo tomat / Persiapan dikala punya hajat / Kalau perusuh jadi tobat / Hmmm…siapa yang jadi penjahat ?/ … #rindurusuh

bagus aryo sutikno
Terima kasih Prof Puruhito, dah kerso turun gunung sehingga banyak jantung terselamatkan. Terima kasih pula saya ucapkan kepada komunitas bakul sayur gunung lawu Magetan. Tiap hari mereka turun gunung dari Plaosan menuju pasar besar Madiun. Ketidak hadiran mereka bisa menyebabkan warga Madiun jantungan. Hora jantungan gimana, tanpa kehadiran mereka sehari saja, kangkung seikat 2k dah jadi 3k. Mbok’e Brian muni2 gara2 kupesani cha kangkung. Tapi komunitas bakul sayur gunung Lawu itu imunitasnya tinggi. Saat covid dan Madiun lock down, mereka bebas keluar masuk kota. Resiko covid tak semengerikan kenaikan kobis, kangkung dan sawi. Sehat selalu Prof Puruhito dan komunitas bakul sayur gunung Lawu serta gunung2 yang lain.

AnalisAsalAsalan
Right for Woman, Left for Man / toilet

Ummi Hilal
Right results breed right revenue . Right revenue breed right hospitality. Next …

Rihlatul Ulfa
Menjawab pertanyaan anda. dokter spesialis yg biasa menangani saya, berada untuk pemeriksaan pasien rawat jalan tidak lebih dari 3 -4 jam. jadi pasien hari itu harus datang sepagi mungkin, (dan sudah dibuat jadwal sebulan yg lalu). jadi jika datang terlambat dan dokter sudah selesai pemeriksaan itu adalah resiko pasien. pernah saat dokter belum ada satu jam memeriksa pasien rawat jalan, ternyata ada operasi mendadak dan dokter harus pergi meninggalkan psien2 itu. jadi fleksibel saja. bahkan dokter yg menangani saya, bekerja juga di 2 rumah sakit, totalnya ia bekerja di 3 rumah sakit. kalau pemeriksaan psien rawat jalan saja harus 7 jam. saya rasa tidak mungkin seorang dokter mau bekerja di 3 rumah sakit yg berbeda.

Rihlatul Ulfa
Pengalaman saya di poli penyakit dalam saat kontrol. semua penyakit ada bagian spesialisai dokternya. walaupun penyakit dalam semua, ada bagian2nya. dan dokter yg memeriksa akan berbeda2. contoh soal, saat tanggal 12 januari kemarin, saya harus kontrol ke poli penyakit dalam di rsup fatmawati, karena saya berada pada gangguan hormon, maka saya akan diperiksa dengan dokter spesilisasi sp.PD-KEMD. padahal pasien sudah ratusan, dan saya barada diurut nomor antrian awal ke 27. lalu karena dokter saya pada hari itu datang lebih awal. saya menjadi pasien kedua yg diperiksa oleh beliau. artinya puluhan orang lainnya berada di spesifikasi dokter spesialis lain. 1 poli itu pasti adad beberapa dokter. jadi saya rasa, tidak masuk akal saat anda harus sampai menunggu 7 jam.

Jimmy Marta
Untuk satu dokter, 80 pasien memang terlalu banyak. Bgmn dokternya bisa mikir dan menganalisa keluhan dan penyakit pasien. Diagnosa dikhawatirkan lemah bin dangkal… RS swasta di tempat saya, yg melayani bpjs juga, satu klinik spesialis hanya menerima 20 antrian. Ndaftar nya sehari sebelumnya. Tapi jgn terlalu khawatir. Di Puskesmas yg agak dekat, nmr antrian 69 bukan berarti sejumlah itu pasiennya. Setelah nomor 6 bisa langsung ke 9. Yah, nmr antrian manual yg gk diganti-ganti…

Fiona Handoko
tadi antar ibu ke rs, kontrol ke dokter jantung pakai bpjs. walah, dapat no antrian 80. dokternya hanya 1. berarti kalau 1 pasien 5 menit. ibu harus antri hampir 7 jam. dipikir lagi, kalau dokter praktek di poli 7 jam, lalu kapan bisa visit pasien opname? kapan bisa menangani operasi? kapan bisa nyelani kasus urgent di ugd?

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt
Dulu istri ada gangguan nafas. Kalau tidur bantal harus tinggi. Biar nafas lancar. Kata dokter, mungkin ada sumbatan. Akhirnya diputuskan untuk ikut olahraga pernafasan. Alhamdulillah, sembuh. Tapi ada efek positifnya. Badannya jadi kencang. Sehingga aliran darah lancar. Apa akibatnya? Akibatnya urusan hubungan suami istri tambah kenceng juga. Ampun deh, saya jadi kewalahan. Pengalaman yg bahagia he he he….

Jhel_ng
Dokter lulusan luar negeri, dengan peralatan yang lengkap melayani pasien di dalam negeri dengan peralatan seadanya. Sejawatnya berkata, “Tu kan, teori dan praktik berbeda. Apa yang dipelajari berbeda dengan yang nyata dikerjakan.” Seorang doktor fisika pulang dari studi di luar negeri, dengan peralatan karakterisasi yang lengkap. Di sini peralatan sangat terbatas. Komentar orang2, “Tu kan, teori dan praktiknya berbeda. Makanya apa yang dipelajari belum tentu berguna di kehidupan nyata.” “Ah cuma teori”. Itu komentar umum. Tapi sebenarnya komentar seperti itu sungguh menyimpang. Teorinya tetap sama, alat dan kelengkapannya yang berbeda. Yang berbeda sama-sama di ranah “praktik”, teorinya tetap sama. Kalau terkesan tidak sama, semata2 ada teori lain yang melengkapi, yang belum dipelajari. Bahkan bisa jadi teori baru jika baru dirumuskan. Tapi itu tidak menyingkirkan teori lama. Semua perlu dicatat baik2.

ALI FAUZI
Para pendekar pers, seperti Pak DIS, juga sudah saatnya turun gunung. Dalam 10 tahun terakhir ini Dewan Pers sudah mengeluarkan belasan ribu sertifikat bagi wartawan yang lulus UKW (Ujian Kompetensi Wartawan). Tapi dalam 10 tahun terakhir ini pula arah pemberitaan pers makin jauh dari fungsi pers itu sendiri (untuk: kontrol sosial, pendidikan dan hiburan).

Mbah Mars
Dokter Jabrik: “Sakit apa ?” Mbah Koplak: “Saya suka sakit kepala dok. Pusing. Dunia serasa berputar” dr Jabrik: “Ya sudah. Silahkan pulang” Mbah Koplak: “Kok tidak diobati ?” dr Jabrik : “Katanya suka sakit kepala ?”

Jimmy Marta
Mbah koplak emang gk sakit. Dunia itu bener berputar…haha.
Kliwon
Alhamdulillaah.. Terima kasih pencerahannya Mbah. Saya tanpa sengaja & tanpa sadar juga suka bernafas sendiri. Berkat pencerahan dari mbah dokter, berarti memang sebaiknya saya melanjutkan tetap bernafas.

yoming AFuadi
Baru nemu kali ini, wartawan diancam “awas kalau kalian macam-macam, saya sikat kalian”. Memangnya selama ini giginya wartawan kurang bersih apa ya? Koq sampai ada yang menawarkan untuk menyikat mereka ….he ….3

Johannes Kitono
Istilah Turun Gunung mungkin di populerkan oleh Kho Ping Ho ,pengarang Cersil top di Indonesia. Kalau ada masalah besar dan rumit yang tidak bisa diselesaikan maka biasanya Suhu atau Tjiang Bun Djin harus turun gunung memberikan solusinya. Maklum waktu itu belum ada internet dan WA. Persoalan yang sama terjadi di bidang Kesehatan. Prof Dr Puruhito ( 80 th ) ternyata belum bisa dengan santai menikmati masa pensiunnya. Masih harus turun gunung membantu operasi di Rumah Sakit untuk kasus kasus pembelajaran. Ini tentu akibat sistem pendidikan Specialis yang keliru, sudah lama terjadi dan dampaknya terasa saat ini. Sistem kaderisasi tidak berjalan karena dulu adanya ego sektoral. Menkes tidak perlu menengok kebelakang mencari kambing hitamnya.Langsung saja kasih solusi apa yang semestinya diperbaiki. Mau hospital based atau Univ based silahkan saja, yang penting bisa cepat hasilkan dokter spesialis yang kompeten yang belum bisa diganti dengan dr Robotic. Soal dana untuk beli alat mutakhir pasti bisa diatasi oleh RS Swasta atau Pemda. Bukankah alat modern umumnya hanya untuk penyakit orang kaya seperti : PJK, Stroke dsbnya. Penyakit rakyat seperti TBC, Diare, Malaria dan kurap tentu tidak memerlukan peralatan yang canggih. Bravo utk Prof Dr Puruhito dan Prof Dr Ario Djatmiko yang bersedia Turun Gunung membantu membereskan masalah Kesehatan Indonesia yang sudah Stadium Tiga.

Pryadi Satriana
Satu per satu orang2 terdekat meninggalkan kita, sehingga yg terakhir ada adalah Tuhan/Gusti/Allah/God/Tian/Hyang, dsb. Terserah sebutan Anda. Cara “menghubungi”Nya pun beda2. Ada yg “bengak-bengok pake TOA”, dan kadang “merasa punya ‘hak’ mbrebek’i tetangga”. Ada yg dengan ‘laku eling kan waspada’. Ada yg berdoa di gereja. Ada yg berdoa ke kelenteng. Jadi …, kalau Pak Dis diminta ‘meletakkan simbol Dewa’ di kelenteng, kalau Anda ‘menghargai Pak Dis’, mestinya Anda ya ‘menghormati’ baik Pak Dis maupun ‘pihak kelenteng’ yg telah ‘memberi kehormatan khusus’ kepada Pak Dis. Lha kalau Anda ‘nggunem’ yg dilakukan Pak Dis itu ‘syirik’-lah … ‘musyrik’-lah … itu berarti Anda ‘ndhak kenal’ Pak Dis, siapa pun Anda atau sedekat apa pun hubungan darah atau kekerabatan Anda dg Pak Dis. Dan lagi, Anda tentu sudah tahu bahwa hak penghakiman hanya ada pada Allah. Lha opo Pak Dis mbok anggep ora ngerti iku? Jadi, percuma Anda ‘sok menasihati’ Pak Dis tentang yg telah dilakukan Pak Dis di kelenteng itu, lha wong pada hakikatnya Anda telah ‘menghakimi’ Pak Dis! Wis ta, ra usah ‘buang2 waktu’ untuk ‘menasihati’ Pak Dis. Gak2 lek direken karo Pak Dis. Saran saya, nasihatilah diri sendiri – selama masih merasa jadi ‘manusia’ yg berdosa – sebelum menasihati orang lain.

Pryadi Satriana
Satu per satu orang2 terdekat meninggalkan kita, sehingga yg terakhir ada adalah Tuhan/Gusti/Allah/God/Tian/Hyang, dsb. Terserah sebutan Anda. Cara “menghubungi”Nya pun beda2. Ada yg “bengak-bengok pake TOA”, dan kadang “merasa punya ‘hak’ mbrebek’i tetangga”. Ada yg dengan ‘laku eling kan waspada’. Ada yg berdoa di gereja. Ada yg berdoa ke kelenteng. Jadi …, kalau Pak Dis diminta ‘meletakkan simbol Dewa’ di kelenteng, kalau Anda ‘menghargai Pak Dis’, mestinya Anda ya ‘menghormati’ baik Pak Dis maupun ‘pihak kelenteng’ yg telah ‘memberi kehormatan khusus’ kepada Pak Dis. Lha kalau Anda ‘nggunem’ yg dilakukan Pak Dis itu ‘syirik’-lah … ‘musyrik’-lah … itu berarti Anda ‘ndhak kenal’ Pak Dis, siapa pun Anda atau sedekat apa pun hubungan darah atau kekerabatan Anda dg Pak Dis. Dan lagi, Anda tentu sudah tahu bahwa hak penghakiman hanya ada pada Allah. Lha opo Pak Dis mbok anggep ora ngerti iku? Jadi, percuma Anda ‘sok menasihati’ Pak Dis tentang yg telah dilakukan Pak Dis di kelenteng itu, lha wong pada hakikatnya Anda telah ‘menghakimi’ Pak Dis! Wis ta, ra usah ‘buang2 waktu’ untuk ‘menasihati’ Pak Dis. Gak2 lek direken karo Pak Dis. Saran saya, nasihatilah diri sendiri – selama masih merasa jadi ‘manusia’ yg berdosa – sebelum menasihati orang lain.

Johannes Kitono
Breaking News, Setu, tukang Becak bobol tabungan nasabah BCA Rp.345 juta ( CNN, 19/1 ). Bukan main, bank swasta terkenal canggih Finteknya masih bisa kenal bobol oleh seorang tukang Becak.Sangat memalukan dan bisa jadi BCA kena Karma. Misalnya, kalau ada nasabah kena tipu via trf BCA,,itu dianggap kesalahan sendiri nasabah. BCA hanya Disclaimer akan membantu sebagai Mediator dan tidak menjamin uang bisa kembali. Hal ini dialami saya sendiri yang th lalu pernah kena tipu Rp.245 juta via trf dari rek BCA ke rek BCA dan BNI. Sudah bikin LP untuk permintaan blokir Rek penerima di BCA. Hasilnya sia sia dan dengan nada tidak simpatik staf wanita menelepon dan menyampaikan bahwa uang tidak bisa kembali. Tidak ada empati, seolah olah nasabah dianggap sekongkol dgn pembobol. Logikanya, kalau BCA mau serius mengikuti aliran dana pasti ketahuan siapa penerima uang yang masuk di rek BCA juga. Penipuan Pinjol dan pembobolan rek nasabah akan berkurang kalau Perbanas dan OJK cukup serius mau menumpasnya. Ikuti saja aliran dananya.Uang Rp.245 juta yang ditipu banyak dan bisa dipakai pesta 3 hari 3 malam di Camp Agrinex dan pasti ada sisanya.

Udin Salemo
Saya malu kalau malas-malas. Lihat Prof Puruhito yang mendekati umur 80 tahun masih super produktif. Bayangkan setiap dua hari operasi jantung. Belum lagi tugas pembelajaran di kampus kepada mahasiswa beliau. Luar biasa. Sugoooiii… #everyday_berpantun Proyekku ada di Pulau Bangka/ Yang kerja disana sangat selektif/ Prof Puruhito orang yang langka/ Di usia tua masih produktif/ Paijo anak si tukang las/ Pergi bekerja ke pulau Dobi/ Prof Puruhito orang yang ikhlas/ Mengabdi dan mengajar jadi hobi/

Handoko Luwanto
Kalo pendidikan itu utk urusan karakter dan kursus itu utk keterampilan, maka pejabat yg positif korupsi itu berijasah kursus smua ya ? Karakternya pada gembosss…

Wawan Wibowo
Covid sudah selesai,para pedagang sudah lebih duluan beradaptasi dong,buktinya kemarin hari dilapaknya jualan masker,sekarang sudah jualan lato-lato.

Jimmy Marta
Selingan dulu sob..!. Anda tahu Kim Jong Un?. Mestinya semua sudah tahu. Kalau anda lupa, akan sy ingatkan siapa beliau. Kim Jong Un itu seorang lelaki. Istrinya perempuan. Bapak dan kakeknya juga lelaki. Mereka semua lahir di Korea Utara. Kakeknya pendiri, ayahnya pemimpin dan si Un dp warisan memimpin Korut. Saat peringatan 10 th wafatnya bpknya ( Kim Jong Il), sang anak memerintahkan semua rakyat korut memperingati dg khidmat. Selama 11 hari gk boleh ada yg rekreasi, minum alkohol dan tertawa. Hari ini, Kim Jong Un disebut kemana-mana bawa toilet. Tinja nya harus diamankan dari pihak2 yg tidak berhak. Jangan sampai ada intelijen asing yg mengetahui rahasia tinjanya. Rahasia kesehatan dan kebiasaan buruknya minum alkohol. Kesehatan paruh baya yg gk pernah mau berolahraga…

*) Dari komentar pembaca http://disway.id


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button