Opini

Pasar Among Tani

MALAM hari setelah dilantik 24 Desember 2007, saya berkunjung ke Pasar Kota Batu. Udara dingin, sehabis turun hujan, berjaket. Saya menikmati hiruk pikuk pasar bersama pedagang sayur, bakul daging ayam, pedagang sapi dan kambing. Pedagang ikan segar yang dipasok dari Pasuruan. Bersama pedagang buah-buahan dan meracangan, dan para pedagang lain.

Ah, suasananya hiruk pikuk, aromanya campur aduk. Maklum, pasar. Mereka, para pedagang dan orang-orang yang sibuk di dalam pasar itu, adalah kehidupan nyata. Di depan mata. Bukan adegan drama. Mereka melakukannya tiap hari, bertahun-tahun, turun temurun.

Terus terang, hampir semua pedagang sedikit terganggu dengan kehadiran saya. Mungkin saja mereka berpikir, transaksi yang sedang atau akan terjadi bakal terganggu dengan kehadiran saya. Mungkin saja mereka berpikir demikian, walaupun mereka sebenarnya senang, nampak dari antusias mereka dalam menyambut saya.

Baca Juga

Memang, saya datang sendirian. Tanpa pengawalan. Karena tujuan saya datang selain untuk menyapa dan memperhatikan para pedagang, ini yang terpenting, saya ingin melihat dan membuktikan sendiri bagaimana para pegawai pasar bekerja melayani para pedagang.

Semalam suntuk saya berdialog dengan para pedagang. Obrolan yang gayeng. Berkali-kali disuguhi kopi, dan kue-kue tradisonal, jajanan pasar di lapak yang berbeda-beda. Sungguh tak terasa, hingga terdengar adzan Subuh berkumandang bersahut-sahutan.

Selama sekitar 8 jam saya menyerap ilmu yang luar biasa, bukan saja dari pedagang, tetapi juga dari pengunjung Pasar Kota Batu. Mereka yang datang untuk berbelanja, termasuk para pegawai hotel dan restoran yang datang untuk membeli kebutuhan tempat kerja mereka.

Ternyata, solidaritas antar pedagang sangat mengagumkan. Pedagang besar membagi rezeki pada pedagang kecil. Pedagang kecil membantu menjualkan barang-barang milik pedagang yang lebih besar. Ada pemerataan rezeki. Guyup.

Gotong royong. Solidaritas. Semuanya bukan sekadar slogan dan wacana. Tetapi berlangsung secara otomatis, berjalan dengan sendirinya. Saya terkesima menyaksikan dengan mata kepala sendiri, pergerakan ekonomi rakyat yang berjalan lancar dan nyata.

Dari dalam pasar, terdengar berkali-kali teriakan tukang parkir kendaraan yang mengatur arus kendaraan ke luar masuk pasar. Para tukang parkir itu tidak saja mengatur kendaraan, tetapi juga turut membantu mengangkat atau menurunkan barang-barang dari atas bak kendaraan.

Ketika akhirnya ke luar pasar, saya baru sadar bahwa rambut saya basah oleh embun. Saya meninggalkan pasar dengan perasaan yang sama sekali baru dan terasa segar. Dalam perjalanan pulang saya beberapa kali berpapasan dengan orang yang berjalan ke tempat ibadah untuk mengikuti misa Natal. Saya berkali-kali berterima kasih kepada mereka yang baru saja membagi ilmu dan memberi pencerahan kepada saya.

Dari dialog dengan mereka, serta melihat dengan mata sendiri pergerakan ekonomi sesungguhnya yang terjadi, muncul gagasan untuk membangun sebuah pasar yang benar-benar didasarkan pada kebutuhan mereka, dipadukan dengan daya tarik sebagai destinasi pariwisata.

Kota Wisata Batu harus memiliki sebuah pasar yang ikonik, bukan pasar biasa, siap 24 jam yang sejalan dengan konsep pariwisata. Gabungan pasar sayur, pasar buah, pasar bunga, kuliner, dan pasar yang menyediakan kebutuhan sehari-hari. ‘One stop service’ bagi masyarakat lokal maupun wisatawan. Dilengkapi areal parkir luas untuk bis dan berbagai jenis kendaraan para pengunjung yang datang berombongan, berkeluarga, maupun datang individual. Bahkan lengkap dengan hotel kelas backpacker dan layanan shuttle transport. Ada area perbankan yang akan memudahkan permodalan.

Paling penting, sebuah bank milik para pedagang sendiri, tempat menyimpan uang serta berhutang, agar mereka tidak terjerat rentenir yang di pasar manapun beroperasi sebgai bank titil.. Juga tersedia fasilitas bursa lengkap dengan fasilitas IT, serta fasilitas transportasi angkut barang jarak jauh.

Alhamdulillah, pasar idaman itu, yaitu yang diberi nama Pasar Among Tani, saat ini dalam tahap pembangunan, setelah mendapat bantuan dari pemerintah pusat sebesar Rp 200 miliar.Pasar idaman itu mudah-mudahan akan segera terwujud, setelah menunggu hampir 15 tahun, yang berkutat dengan beragam persoalan dan ego.

Keberadaan pasar yang akan menjadi pusat perekonomian warga Kota Wisata Batu itu, harus bisa meningkatkan ekonomi bagi para pedagang, dengan terbukanya semua potensi pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan, produk kreatif, dan sebagainya.

Pasar Among Tani tidak hanya megah secara fisik sebagai sebuah bangunan terbesar di Kota Wisata Batu yang pernah diberikan oleh pemerintah pusat pada daerah, tapi akan menjadi pusat kegiatan yang memberikan peningkatan kesejahteraan kepada warga Kota Wisata Batu.

Karena itu pasar ini nantinya harus dikelola secara profesional oleh warga Kota Wisata Batu sendiri, khususnya para milenial yang direkrut dan diseleksi secara terukur.

Para pengelola itu tidak hanya harus bekerja secara profesional, tetapi juga harus memiliki visi yang jelas untuk kesejahteraan warga. Apa yang berlaku di Alon-alon Kota Wisata Batu, bisa dijadikan contoh, di mana sarana dan destinasi ini dikelola warga secara bersama-sama, yang semuanya mempunyai rasa ikut memiliki dengan tanggung jawab bersama.

“Pengalaman dari uklam uklam bengi nang pasar Utab nambah seduluran sing kanyab.” Ayo semua fasiltas itu dirawat yang lebih baik, dan jangan sampai ada rentenir berseliweran di Pasar Among Tani.-

Semarang, 16 Maret 2022.
Sahabat ER.


Editor : Sugeng Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button