Kabupaten Malang

Pemkab Malang Siapkan Bedah Rumah 90 Titik dan IPAL Komunal bagi 1.600 KK

AMEG – Wakil Bupati Malang, Didik Gatot Subroto, memastikan akan lebih mengoptimalkan bedah rumah dan penanganan permukiman kumuh, Senin (15/8/2022).

“Di bulan Kemerdekaan ini, satu diantaranya yang bisa diberikan pemkab Malang adalah mengupayakan hunian layak melalui bedah rumah bagi masyarakat miskin,” kata Didik Gatot Subroto, usai pengukuhan paskibraka Kabupaten Malang di Pendopo Agung Kantor Bupati, Senin (15/8) sore.

Bedah rumah yang dilakukan ini, lanjutnya, diupayakan bersama melalui BAZNas Kabupaten Malang, PU Cipta Karya, lembaga sosial kemasyarakatan, juga bantuan pelaku industri.

Baca Juga

Ia tidak bisa merinci berapa rumah warga miskin yang akan jadi sasaran bedah rumah. Menurutnya, untuk satu rumah yang direhab melalui program bedah rumah ini, anggarannya sekitar Rp 15 – 17 juta per unit.

Sementara untuk permukiman kumuh, tahun ini sudah dilakukan bagi warga di wilayah kecamatan Wajak.

Dikonfirmasi soal penanganan permukiman kumuh, Kadis PKP Cipta Karya Kabupaten Malang, Budiar Anwar mengungkapkan, bedah rumah yang sudah dilaksanakan untuk 390 kepala keluarga (KK).

“Bantuan bedah rumah ini nilainya sekitar Rp 20 juta per unit, dan merupakan hibah langsung pemerintah. Tahun ini ada tambahan untuk 90 unit/KK lagi, tetapi realisasinya baru tahun depan (2023),” jelas Budiar, Senin (15/8) petang.

Sementara itu, lanjutnya, pemkab Malang juga mendapatkan bantuan hibah permukiman kumuh berupa (Instalasi Pengolahan Air Limbah) IPAL komunal. Jumlahnya, 16 titik untuk dimanfaatkan sekitar 1.600 KK.

“Kami mendapatkan hibah IPAL Komunal sebanyak 16 titik, yang bisa dimanfaatkan untuk 100 rumah warga per titiknya,” imbuh Budiar.

Dengan dibangunnya IPAL komunal ini, menurutnya akan membantu mewujudkan kawasan bersih dan sanitasi lingkungan yang aman.

Selain itu, lanjutnya, didapatkan bantuan 2 unit IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Tinja). Rencananya, IPLT ini akan dipusatkan di wilayah Poncokusumo, dan berdekatan dengan TPST yang sudah ada.

“Sanitasi lingkungan yang sehat, maka akan mengurangi resiko kesehatan warga. Seperti, kasus diare, termasuk juga stunting,” demikian Budiar. (*)


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button