Disway

Penyesalan Panggung

PENYESALAN pun seperti tak kan pernah terbayar. Lihatlah pemberitaan di media di luar negeri. “Lebih 100 orang dibunuh polisi” bunyi spanduk berbahasa Inggris di stadion sepakbola di Jerman. Fotonya tersebar di berbagai media.

Sangat menyakitkan polisi kita.

The New York Times, koran paling bergengsi di dunia, juga begitu menyudutkan polisi Indonesia. Pun sampai anggaran pembelian gas air mata diungkap di situ.

Baca Juga

Padahal mungkin saja yang menembakkan gas air mata itu tidak sadar bahwa itu melanggar aturan sepakbola. Padahal yang menendang dan memukul suporter itu mungkin tidak tahu bahwa menangani aksi massa di sepakbola berbeda dengan menangani demo anarkis. Suporter sepakbola mungkin memang banyak yang nakal. Tapi kenakalan harus dibedakan dengan kejahatan. Saya mengategorikannya nakal. Bukan jahat.

Kini suporter Aremania-Aremanita bersatu solid. Pun suporter dari berbagai klub sepakbola. Korban begitu besar: 131 orang meninggal. Bergelimpangan.

“Kita kawal penyelidikan tragedi ini,” ujar Sam Antok Baret. “Jangan sampai ada rekayasa,” katanya. Antok Rabu lalu didaulat untuk orasi di depan Aremania. Ia tinggal di Jakarta. Tapi diminta pulang oleh Aremania. Untuk ikut mengawal penyelidikan tragedi Kanjuruhan itu.

“Saya akan tinggal di Malang sampai urusan ini selesai,” katanya. Antok, Anda sudah tahu: tokoh yang dianggap preman Blok M Jakarta. Ia asli Malang. Setiap Arema main di Jakarta, selalu ia tampung di Blok M. Ia tokoh sentral Aremania di Jakarta.

Pada dasarnya Antok itu seniman. Sejak di sekolah teknik negeri (setingkat SMP) ia sudah pegang gitar. Tapi juga sering berkelahi. Dan selalu menang. Ia lanjut ke STM di Bangkalan, ikut kakaknya yang jadi guru di Madura. Masih aktif bergitar. Kian aktif berkelahi. Tak terkalahkan.

Hanya sebentar kuliah di teknik sipil ITN Malang, Antok merantau ke Jakarta. Tanpa tujuan. Tanpa tempat tinggal. “Saya tidur di Masjid Mutia. Selama satu tahun,” katanya.

Setelah itu ia ngamen di Blok M. Saat itulah gitar salah satu pengamen hancur. Dirusak preman yang minta uang pada anak itu. Sebagai sesama pengamen, Antok mencari siapa yang sok jagoan berani merusak gitar pengamen itu. Ketemu. Ia hajar. Mulailah para preman Blok M tunduk pada Antok. Ia pun membentuk Kelompok Pengamen Jakarta (KPJ) yang terkenal itu. Pengamen pun bersatu. Aman.

Tinggi badannya 180 cm. Kekar. Ideal untuk adu fisik. Ia pesilat sejak SD. Lalu karateka sejak SMP. Ia suka menolong. Perantau dari Malang, ia beri pertolongan dan perlindungan. Juga yang dari Surabaya. Ia tidak membedakan Arek Malang atau Arek Suroboyo. Pokoknya Arek.

Kini umurnya sudah 65 tahun. Masih gagah dan wibawa. Pidatonya di Malang kemarin masih agitatif. Lihatlah videonya. Namanya lebih terkenal sebagai Antok Baret. Yakni sejak rekaman lagu bersama Iwan Fals. Iwan-lah yang memberi nama itu. Diambil dari kebiasaan Antok mengenakan Baret. Pun sampai sekarang.

Ia preman yang juga pencipta lagu. Sudah sulit menghitung lagu yang ia ciptakan. Salah satunya: Laskar Bingung Menyerbu Jakarta. Ia sendiri yang menyanyikannya. Ada sembilan lagu di album Laskar itu. Yang enam lagu ciptaannya sendiri.

Ia preman yang religius. Pidatonya di Malang itu sarat dengan idiom-idiom agama.

Kesenimanannya juga diwujudkan dalam Warung Apresiasi. Yakni semacam padepokan seni di Gelanggang Remaja Bulungan, Jakarta Selatan. Di situlah siapa pun bisa berekspresi. Silakan menyanyi. Bermusik. Atau berpuisi. Asal harus karyanya sendiri.

Antok juga pembaca puisi yang andal. Belum lama ini ia tampil di panggung. Baca puisi (lihat video). Itu di ulang tahun ke 40 Kelompok Pengamen Jakarta. Kapolri juga hadir di ultah itu. Kapolri memotong tumpeng untuk Antok. Seniman-seniman besar sering mampir di sini. Termasuk, dulu, penyair-dramawan WS Rendra. Hari-hari ini Antok bersama Aremania-Aremanita yang lagi berduka. Ia memang bisa jadi salah satu muara duka.

Sebenarnya sudah banyak politisi yang cari panggung: ingin mendamaikan Bonek-Bonita dan Aremania-Aremanita. Sejak lama. Tapi mereka tahu motifnya sangat politis. Suporter dijadikan panggung.

Maka tragedi Kanjuruhan menjadi momentum agar tanpa makcomblang pun mereka bisa bersatu. Antok Baret sudah bicara persatuan itu. Bonek juga sudah bicara. Mereka pun bisa bertemu dengan tulus. Tanpa dimanfaatkan siapa pun.

Panggung suporter memang besar. Tapi panggung itu juga panas. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan

Edisi 6 Oktober 2022: Hidup Fanatisme

Ibnu Shonnan

Bah, yang paling bahaya itu fanatisme pada uang. Untuk mendapatkanya menghalalkan segala cara.

Orang jauh

#51 Jadi kalau saya baca berulang-ulang, Menurut Abah DI : Hidup sebagai pohon bukanlah hidup. Tapi perlu diingat ya Bah: “Pohon yg hidup akan banyak menghidupi”. Didalam pohon yang hidup itu, banyak sekali makhluk hidup bergantung padanya. *Kok kata hidupnya jadi banyak

Muin TV

Tapi ada juga fanatisme yang kebablasan. Fanatisme kepada kelompok. Salah benar harus dibela. Walaupun harus melalui rekayasa ala Sambo. Jadi problemnya adalah pintu yang terkunci dan tangga yang terlalu curam. Besok-besok pintunya jangan dikunci dan penonton duduk lesehan saja.

Er Gham

Ada fanatisme jenis baru. Fanatisme abang driver ojek online. Fanatisme terhadap spbu vivo. Walaupun harga lebih mahal dari pertalite, abang abang gojek tetap setia antri. Barusan saya isi juga di spbu vivo. Bisa dikatakan 40 persennya adalah abang gojek. Saya juga bingung, padahal harga bbm vivo ron 89 lebih mahal dari pertalite. Ini fanatisme baru. Mungkin sesuai dengan moto vivo, “Melindungi mesin, jarak lebih jauh, dan pengisian akurat”.

Lukman bin Saleh

Almarhum Stadion Mattoanging begitu lekat di ingatan. Kota2 di Kalimantan dan Sulawesi yg terdekat, lebih jauh dr tempat sy. Dibanding kota2 terdekat d Pulau Jawa. Dg Makasssar misalnya, 485 km (garis lurus). Dg Banjarmasin lebih2, 622 km. Sedang Surabaya hanya 453 km, Malang 436, apalagi Banyuwangi, hanya 243 km. Tp zaman dulu. Kalau urusan sepakbola. Sulawesi itu lebih d kenal d sini. Ini imbas dr siaran langsung sepakbola tempo doeloe. Disiarkan live. Melalui radio. Kita menyaksikan pertandingan sepakbola melalui radio. Mendengar suara pemandu saja. Radio Ujung Pandang (Makassar) sangat rajin menyiarkannya. Mungkin saat itu radio2 d Pulau Jawa melakukan hal yg sama. Tp sinyalnya tdk sampai d sini. Terlalu banyak penghalang. Sinyal Radio Banjarmasin dan Ujung Pandang bisa merambat dg leluasa d atas lautan. Yg dr barat paling banter Radio Denpasar-Bali: Gema Merdeka. Yg suara penyiarnya: Mbak Santi sy ingat sampai sekarang. Itu sebabnya saat Abah menyinggung Stadion Mattoanging. Sejenak terlintas di ingatan akan suara2 pertandingan nan seru dr sana. Dipicu geliat fanatisme yg menggelora. Puluhan tahun yg lalu…

Prast 15

Keinget jaman SMA dl,pak guru PPKn bilang Chauvisme adalah Fanatisme berlebihan yg terkadang malah menjadi Bumerang bagi kita sendiri….

Gianto Kwee

Perumpamaan Pohon dan Mobil kurang pas, Kali ini kalimat penutupnya “Error”: Pohon hidup karena dia terus Tumbuh, Manusia disebut “Hidup” kalau dia juga terus “Tumbuh” Salam

Rihlatul Ulfa

Saya sangat puas saat wartawan meminta kepada kejaksaan untuk membuka masker mereka-tersangka dalam pembunuhan brigadir J. dari bharada E, Sambo sampai Hendra. rasa malu yang memang seharusnya mereka alamai. saya tidak sabar siapa yang akan memimpin persidangan nanti. hakim seperti apa dengan pengalaman seperti apa yg akan ditunjuk. saya akan membolos satu hari dari pekerjaan saya. untuk menonton secara langsung di pengadilan nanti.

Mirza Mirwan

Profesor Tõnu Lehtsaar mendefinisikan fanatisme (fanaticism) sebaga “the pursuit or defence of something in an extreme and passionate way that goes beyond normality.” Guru besar Psikhologi yang pernah dua kali menjadi rektor Tartu University, Estonia, itu menyebutkan beberapa macam fanatisme, satu di antaranya adalah fanatisme politik. Di Indonesia, fanatisme politik itu tidak sekadar pada level “yang paling hebat”, tetapi sudah mencapai level “yang paling benar”. Entah itu fanatisme kepada parpol, atau fanatisme kepada tokohnya. Fanatisme pada parpol/tokoh cenderung mengabaikan norma hukum, kesopanan dan agama. Meminjam kata-kata Bung Donwori “kentut tokoh junjungannya pun dibilang wangi”, sementara parpol/tokoh lainnya tak punya sisi baik blas. Pokoknya serba jelek, salah, bodoh, dsb. Padahal, tidak ada manusia yang sempurna. Setiap tokoh, juga parpol, punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Yang lebih keji lagi adalah pengikut fanatisme politik itu mudah membuat fitnah. Lalu pemuja tokoh yang difitnah balik membuat fitnah. Jadinya baku fitnah. Apa boleh buat, memang, pengikut fanatisme politik sepertinya memiliki hati yang sempit. Tidak ada ruang untuk mengakui kekurangan parpol/tokoh pujaannya, seraya mengakui kelebihan parpol/tokoh lain. Dan jangan heran, pengikut fanatisme politik itu kebanyakan malah termasuk “well educated”, bukan sekadar lulusan SD/SMP.

Budi Utomo

Amygdala. Banyak yang menyebutnya sebagai reptilian brain / otak reptil karena manusia dalam perjalanan evolusinya berbagi dengan reptil soal amygdla ini. Konon amygdala lebih terkait dengan emotion. Emotional learning and emotional behavior. Dalam bahasa lain disebut amygdala adalah bagian otak yang terkait dengan naluri fight or flight. Hadapi atau lari. Betul Koh Liang?

EVMF

Fanatisme sangat sulit atau bahkan tidak mungkin dikelola dengan benar, karena bagian Amigdala pada Sistem Limbik di dalam Lobus Temporal otak kita sudah mengalami kelainan (ter-pola) dengan antusiasme yang berlebihan, semangat yang tidak masuk akal, ataupun gagasan liar, sebagaimana definisi dari fanatisme itu sendiri. Medical definition of fanaticism: fanatic outlook or behavior especially as exhibited by excessive enthusiasm, unreasoning zeal, or wild and extravagant notions on some subject. Definisi medis dari fanatisme: pandangan atau perilaku fanatik terutama yang ditunjukkan oleh antusiasme yang berlebihan, semangat yang tidak masuk akal, atau gagasan liar dan berlebihan tentang beberapa hal. Kalau masih bisa dikelola dengan benar, itu berarti belum level-nya fanatisme.

Liam Then

Iya juga ya, hidup di dunia Disway, seperti hidup di dunia ide dan pemikiran, tanpa batas dan kekang. Bebas. Sedangkan dalam dunia cerbung itu, kita ada merasakan keterikatan, batasan, realita kehidupan manusia di Indonesia sebenarnya. Hmm, mungkin ini yang perlu disentuh oleh media pers baik yang tayang ,maupun yang berita. Karena ada muncul penolakan psikis,rasanya kalo baca berita, atau media tv. Eneg.

omami clan

Jiwa fanatisme saya sudah kadung tumbuh dengan subur terhadap cerbung yang terbit setiap hari dan bersebelahan dengan tulisan Abah, kian lama kian pasti terasa menggelora membacanya, jadi seolah2 berada di dua dunia. Tiap membaca tulisan Abah seakan berada di dunia fatamorgana, tapi saat membaca cerbung kok malah merasa seakan-akan balik ke dunia nyata, saya juga bingung. Setelah tiga hari cerbung tidak terbit, saya mulai merasa terjebak di dunia maya tanpa bisa kembali ke dunia nyata. Tolong Abah injak rem kefanatikan saya, jangan sampai saya terjebak lebih dalam lagi. Entah yang mana yang maya dan siapa yang nyata, paling tidak cerbung itu bisa menjadi pembanding yang baik, tapi bukan barometer untuk mengukur mana yang terbaik.

Pryadi Satriana

“Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Mobil mogok bukanlah mobil.” ‘Pohon’ dan ‘mobil mogok’ ndhak bergerak, ‘ora iso obah’ seperti manusia, yang ‘obah owah’, ‘bergerak membawa perubahan’, ada ‘progress’, ada perubahan ke yang lebih baik, pun mengubah ‘yang sudah baik menjadi semakin baik’. Itulah fitrah manusia: “mangayu ayuning bawono”, ‘mempercantik’ bumi yang sudah indah. Salam. Rahayu.

Alex Ping

Jadi perumpamaannya mobilnya itu masyarakat, sopirnya itu pemerintahan (yang ngegas dan yang ngerem), kecepatan mobil itu pembangunan (di gas untuk meningkatkan pembangunan). Saat terjadi kecelakaan diperiksa apakah yang salah sopirnya atau kondisi mobilnya yang tidak mumpuni. Apakah mobil yang terguling itu karena remnya blong sehingga menggunakan rem tangan nya? Apakah sopirnya yang terbawa emosi? Tetapi yang pasti mobil itu baru disalip oleh saingannya di rute yang dia kuasai selama 23tahun.

Ghost It Is

Soal pansos, ini peluangnya masih sangat-sangat luas. Ada masalah mengenai kebosanan digital. Selanjutnya, semua hal yang berada pada google trend pasti di jadikan alat pansos karena di anggap relevan. Kdrt, dan kepolisian misal. Iya tetep viral. Meskipun belum tentu dapat uang juga. Atau kalau domain paling mahal, misal seputar xxxx.com. Kebanyakan influencer juga sangat bergantung, sampai kecekik dengan “Search Engine”. Jadi. Influecer sedang melakukan cornerring melawan media, dan mereka tidak tau cara membanting trafik. Sampai lupa diri. Bahkan video yang di buat heboh, dan memiliki resolusi 8k, sekaligus seluruh editan rumitnya. Pada beberapa momen masih kalah dengan video 19-30 dengan resolusi HD. Tanpa editan juga.

Er Gham

Selama ini, saya mengartikan ‘urip iku urup’ itu ‘hidup itu harus menerangi’. Artinya ‘hidup yang memberikan manfaat’. Beda dengan yang diartikan Abah, bahwa ‘hidup harus menyala nyala’. Kalau hidup harus menyala nyala, kok kesannya kita jadi cinta dunia ya Abah.

Budi Utomo

Tafsiran urip iku urup sebagai hidup untuk menerangi juga benar. Karena urup atau nyala terkait dengan api. Api terkait dengan alat penerangan kala Syekh Siti Jenar hidup yang saat itu belum ditemukan listrik. URUP itu bahasa Indonesianya adalah NYALA. Terkait dengan API yang PANAS dan TERANG.

thamrindahlan

Cinta rela berresiko sengsara / Ibarat buruh merindukan bahagia / Sepak bola sesungguhnya pelipur lara / Hiburan seluruh rakyat indonesia /

Er Gham

Abah pasti fanatik pada klub sepakbola Persebaya. Tapi stadionnya aman gak, Abah? Abah bisa cek juga. Apakah pintunya cukup lebar dan tangga jangan terlalu curam. Tangkap arsiteknya jika salah desain. Hehehehe…

Pryadi Satriana

Bung Lukman, itu ungkapan kiasan. Orang yg sdh ‘almarhum’ tidak berfungsi lagi sbg manusia. Stadion yg ‘almarhum’ jg begitu, sudah ndhak berfungsi sebagai stadion lagi. Banyak orang yg ‘nalarnya bengkok’, ndhak konsisten dlm bernalar. Paham nabi Muhammad disebut sebagai ‘kekasih Allah’ tapi ndhak paham Yesus disebut ‘Anak Allah’ padahal Yesus disebut ‘Firman Allah’ (Alkitab) atau ‘kalimatullah’ (Al-Qur’an). ‘Firman Allah’ itu, ‘yang ke luar dari Allah’ (proceeds from the Father) itu ‘digerakkan’ oleh Roh Allah, yg disebut Roh Kudus. Jadi, the Father (Bapa), the Son (‘Firman Allah’/’kalimatullah’ yang ‘nuzul’ menjadi Yesus Juru Selamat/ Isa Al-Masih), dan ‘Roh Allah’ (yg disebut Roh Kudus) itu yg disebut Allah tri-Tunggal, Allah Yang Esa, yg disebutkan oleh Musa dalam Taurat, “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!”(Ulangan 6: 4). Paham Allah triTunggal didasarkan pada, “Sesudah dibaptis, Yesus segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia (Yesus) melihat Roh Allah (Roh Kudus) spt burung merpati turun ke atasNya (Yesus), lalu terdengarlah suara dari sorga yg mengatakan: “Inilah AnakKu yg Kukasihi, kepadaNya lah Aku (Bapa) berkenan” (Matius 3: 16-17) dan “Aku (Yesus, ‘Firman Allah’/’kalimatullah’) dan Bapa (Allah) adalah satu” (Yohanes 10: 30). Jadi, orang Yahudi & orang Kristen mengimani Allah yang esa, Yesus adalah FirmanNya, dan Roh Kudus adalah RohNya. Salam. Rahayu.

Gianto Kwee

Juga kalimat penutup tentang Pohon dan Mobil, Error dan Keblinger, Mumpung ada pak Pry yang mulai, Kang Dahlan kita “Kruyuk”

Ghost It Is

Saya kemarin bilang. Tim independen sedang melawan posisi sebagian dari anggota kepolisian, tidak seluruh. Opening kasus ini saja sudah aneh. Penonton mulai anarkis. Ini belum ada korban tewas mungkin. Baru di bantai dengan gas air mata setelah itu. Kalaupun ada 200-400 botol miras di sana. Itukan salah petugas. Nha, kenapa nggak jaga pintu keluar masuk. Malah bawa pentungan sama gas air mata di tengah lapangan. Mau makan gaji buta apa, cuma pamer seragam di tengah lapangan. Setahu Saya botol itupun tersegel. Tidak di minum. Kadar alkoholnya juga tidak di sebut.

Dodik Wiratmojo

dan bukti2pun pun agak melenceng, ditemukan botol miras, pdhl bawa korek aja ga bisa masuk, pihak arema ga diajak, presuden hanya menyebut pintu terkunci tangga menurun, gas air mata ga disebut sbg pemicu..trus py ki.. .. Fanatisme Sepakbola paseduluran saklawase…

Macca Madinah

Lucu juga perumpamaan mobil itu harus “pernah nyenggol”, apa itu kelasnya dinding atau pohon. Suka gemes soalnya kalau di jalan “gang” kecil di Jakarta. Sudah jelas jalannya kecil, yang masuk mobilnya sebesar bagong, sekelas fortuner, landrover,, dan sejenisnya. Mending kalau yang menyetir itu pede, gak masalah kalau “nyenggol dikit” gores dikit. Berhubung mungkin yang menyetir bukan yang empunyanya, jalannya pelannnn, sedikit-sedikit injak rem, lihat sepeda motor-angkot-bajaj nyalip langsung berhenti ngalangin yang di belakang (baca: ya saya itu). Wesss, nek wedhi ngono yo ojo lewat kene Pak-eeee (kadang-kadang ada juga Buk-eeee)!

Liam Then

Tadi pagi juga merasakaan hal serupa. Kok pohon? Berhubung blom ngopi otak masih berkabut. Sekarang mumpung lagi gabut-gak ada buat ( dah lama saya kira gabut itu singkatan gak ada buat- rupanya bukan kwkwkwkw), di temani secangkir kopi tubruk non gula, baru enak mikirnya. Hidup pohon kok ya dijadikan perbandingan. Karena berangkat dari pengertian awal , derajat hidup manusia lebih tinggi darinya. Sebenarnya manusia bisa belajar falsafah hidup dari pohon, ia tak peduli angin hujan, tetap hidup. Tak peduli siang malam tetap berusaha hidup. Tak peduli berapa lama ia hidup. Ia alot,ulet,tekun, hanya untuk hidup. Ia tegak hidup, gak merasa marah, merasa sedih. Ia hidup dibawah bintang, cahaya matahari, cahaya bulan, semilir angin. Kondisi apapun ,tak oernah mengeluh. Tetap hidup. Ia hidup tanpa perlu sesuatu untuk membuat ia lebih hidup. Tujuannya hanya hidup. Bukankah sangat sederhana? Bayangkan betapa banyak konflik tak perlu, jika manusia belajar dari falsafah pohon? Jika anda ada merasa cabang pemikiran lain, karena banyaknya kata hidup di atas. Gapapa, berarti anda masih normal. Terus terang saya juga begitu.

Johan

Pendapat subyektif dari manusia, kali ini pohon sebagai objek perbandingannya. Kehidupan pohon dianggap sebagai bukan hidup yang sebenarnya. Pohon jelas tidak bisa kita ajak bicara, sehingga kita tidak tahu pendapatnya mengenai hidup. Tapi manfaat dari pohon sering kita rasakan. Itu pasti. Mungkin itulah “hidupnya” yang sebenarnya. Hidup yang bermanfaat untuk alam disekitarnya. Perbandingan semacam itu bisa saya katakan ngawur, tapi dalam beberapa situasi, bisa jadi itu ada benarnya. Semisal pohon durian, dia berbuah, kemudian buahnya dimakan Dahlan Iskan. Hidup macam apa itu? Lebih baik pohon itu mati saja.

Pryadi Satriana

“Kadang mobil ‘harus’ nyenggol pagar.” ‘Mobil’ mereprentasikan ‘manusia’. ‘Harus’ menunjukkan ‘keniscayaan, kepastian’. ‘Nyenggol pagar’ maksudnya ‘melakukan kesalahan’. Pak Dahlan mau mengatakan ini: ‘Mobil yg bergerak’ itu seperti ‘manusia yg beraktifitas’. Manusia itu tak luput dari kesalahan. Namun, dg akal budinya ‘manusia bisa belajar dari kesalahannya’. ‘Mobil harus nyenggol pagar’. Manusia – mau tak mau – karena memang tak luput dari kesalahan, seperti mobil yang ‘harus nyenggol pagar’ supaya bisa belajar dari kesalahannya, supaya ndhak berbuat kesalahan yg fatal. ‘Mobil harus nyenggol pagar, supaya selanjutnya lebih hati-hati, supaya ndhak nabrak orang’. Semoga bermanfaat. Salam. Rahayu.

Pembaca Disway

Salah satu cara mengendalikan fanatisme itu dengan berdoa… Misalnya saya ngefans dengan Disway.. Kalau tiap hari saya cuma memuji-muji Disway, misalnya “Disway paling hebat. Tulisannya bagus semua. Paling rajin terbit, dst..” nanti fanatismenya makin menjadi-jadi. Kalau mendoakan, misalnya “Semoga tulisan pak Dahlan membawa berkah.. Semoga para komentator makin rukun… dst” nanti fanatismenya bisa makin terarah.. Fanatisme itu cinta..

Budi Utomo

Syekh Siti Jenar. Misteri Hidup Mati. Fanatisme. Merasa Paling Benar. Wah Abah Dahlan memancing saya nih. Wkwkwk. Syekh Siti Jenar adalah tokoh penting dalam sejarah dan budaya Jawa. Manunggaling Gusti lan kawula (Bersatunya Tuhan dan hambaNya), Urip iku Urup (Hidup itu Menyala-nyala). Kita secara fisik adalah bangkai tapi secara “non fisik” bukan bangkai. Tak mudah memahami ajaran Siti Jenar. Saya hanya bisa mereferensikan buku-buku mengenai Siti Jenar yang ditulis Ustad Achmad Chodjim. Yang saya ingin garisbawahi adalah ajaran Syekh Siti Jenar besar pengaruhnya pada Islam yang inklusif dan toleran di Jawa bahkan mungkin di Indonesia. Saya sebagai pengamat sejarah sangat menyukai buku-buku Achmad Chodjim yang membuka wawasan saya mengenai Islam Nusantara. Yang tidak merasa “paling benar”.

Budi Utomo

Informasi dari Achmad Chodjim mengenai sejarah masuknya Islam di Jawa sangat bagus. Salah satunya adalah salah kaprah mengenai Wali Songo/Wali Sanga yang menurut banyak orang jumlahnya harus tetap sembilan atau Songo/Sanga. Padahal tidak harus sembilan. Sanga/Songo ini adalah penyimpangan dari kata Sangha/Songho. Ketika pertama kali Islam masuk sudah pasti harus permisi pada agama yang lebih tua yaitu Hindu dan Buddha. Wali adalah istilah Arab untuk Sangha. Jadi Sangha atau para pemimpin agama Islam dikenal sebagai Wali Sangha atau Sangha Wali. Lalu entah mengapa kemudian berubah menjadi Wali Sanga/Songo. Ini sama seperti Bioro Buddho (Vihara Buddha) menjadi Boro Budur.

Arala Ziko

seorang investor kondang pernah berkata “Being too far ahead of your time is indistinguishable from being wrong”. itu yg pernah terjadi pada menteri beberapa tahun silam soal mobil listrik dan soal jadwal tanding malam hari.

Impostor Among Us

Pernah baca penjelasan, bahwa hikmah di balik ada fanatisme suku, misalnya marga. Salah satunya untuk menghadirkan rasa tanggungjawab menjaga citra baik bersama. Sebaliknya menjadi rem agar jangan sampai membikin malu komunitas semarga.

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Statement akhir Pak Disway mantap. Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Kenyataannya semua yang hidup butuh pohon. Benar tidak? Anda makan nasi. Tanpa pohon padi tidak ada nasi. Nasi anda berlauk tempe. Tanpa pohon kedelai tidak ada tempe. Biar mantap tempe sama sambel kecap. Tanpa pohon lombok tidak ada sambel. Begitu bukan? Ya, anda semua sudah tahu. Tanpa pohon tidak ada kehidupan. Jadi kesimpulannya apa? Fanatisme membuat hidup bergairah. Kegairahan hidup akan membuat anda bahagia. Jadi endingnya,” Saya akan terus hidup bergairah sampai akhir kehidupan saya.”

*) Dari komentar pembaca http://disway.id


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button