Regional

Polemik TP2D Bondowoso, Dua Kali Dewan Bentuk Pansus

AMEG – Terbentuknya Panitia Khusus (Pansus) DPRD Bondowoso kedua, tentang Pencairan Anggaran Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D), berujung berpolemik.

Polrmik terjadi pada internal gedung parlemen daerah. Antar fraksi saling serang, sebagian menilai penting dibentuk pansus, sebagian lagi menilai tidak penting karena mengganggu kegiatan DPRD sendiri.

Tim Percepatan Pembangunan Daerah (TP2D) Bondowoso dibentuk dan dilantik sejak 26 Agustus 2021. Ada 7 orang yang dipercaya, yakni Muhammad Khozin, Hermanto Rohman, Mustawiyanto, Ady Setiawan, Achmad Khusnus Sidqi, Fathurrosi, serta Hasan.

Baca Juga

Namun, kehadiran TP2D tidak mendapat respon baik dari DPRD Bondowoso. Hal itu terlihat dari adanya dua kali pembentukan Panitia Khusus (Pansus), pertama dilakukan saat TP2D baru dilantik, sekitar enam bulan.

Hingga DPRD juga merencanakan hak angket yang salah satu materinya terkait TP2D. Kendati, terkait hak angket ini masih belum ada kelanjutannya.

Bergulirnya Pansus TP2D jilid kedua dilandasi tudingan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso dianggap tak patuh terhadap hasil fasilitasi rancangan Perbup tentang TP2D dari Gubernur Jawa Timur oleh DPRD setempat.

Kemudian Pansus TP2D pertama, melahirkan rekomendasi hasil kerja Pansus yang dituangkan dalam rapat paripurna pada Sabtu, 25 September 2021.

Rekomendasi berisi, DPRD Bondowoso sepakat serta meminta Bupati Bondowoso agar membatalkan Perbup nomer 49 tentang TP2D dan segera menerbitkan Perbup yang baru untuk pengangkatan TP2D sesuai hasil konsultasi dengan Gubernur Jatim.

Pansus tersebut, ternyata tidak membuat DPRD Bondowoso puas. Pada Selasa, 8 Februari 2022 lalu, melalui rapat paripurna, DPRD kembali membentuk Pansus kedua dengan nama Pansus Pencairan Anggaran TP2D.

Ketua Fraksi PKB, H Tohari mengatakan, pansus tersebut terbentuk untuk menuntaskan masalah. Sebab honor TP2D merupakan lampiran dari P-APBD tahun 2021, dengan catatan boleh dicairkan setelah dilakukan perubahan Perbub 49 tahun 2021 tentang TP2D.

“Kami mengingatkan eksekutif untuk kembali ke aturan, jangan sering – sering melanggar aturan,” katanya saat dikonfirmasi, Kamis (17/2/2022).

Dijelaskannya, Pansus ini sudah terbentuk dan sudah disetujui bersama yang berarti adalah penting. Jadi fokus kali ini tidak sederhana, soal honor TP2D saja, tapi pelaksanaan Perda P-APBD tahun 2021 yang tidak sesuai.

“Perbub itu tidak ada perubahan, kemudian dicairkan. Apakah itu tidak melanggar Perda APBD. Maksudnya perubahan itu, disesuaikan dengan hasil fasilitasi dengan Gubernur,” imbuhnya.

Menurut Tohari, APBD dan Perda adalah sesuatu yang tidak mudah, sebab hal itu dibahas bersama sehingga melahirkan saran dan kesimpulan.

Perbedaan pendapat yang ada merupakan hal biasa. Namun bila dipandang Pansus ini salah, ia menyarankan untuk datang ke DPRD dan tidak berdebat di media.

“Kalau ada yang nyinyir tentang Pansus ini, silahkan datang dan beri kami masukan. Pansus yang benar itu seperti apa, jadi diskusi. Karena kami ini dalam penegakan aturan,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Bondowoso, KH Salwa Arifin saat melantik pengurus TP2D menerangkan, dibentuknya TP2D merupakan langkah strategis bagi tiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD), untuk memberikan masukan dan saran dalam percepatan pembangunan daerah.

Dimana tugas TP2D, salah satunya memberikan rekomendasi kepada Bupati dalam mengambil kebijakan-kebijakan, agar tepat sasaran. Porsi rekomendasi dari TP2D untuk dijadikan dasar kebijakan pemerintah akan disesuaikan dengan kebutuhan.

“Mohon dukungan kepada teman-teman OPD, baik Asisten, Sekda agar bisa kerja sama,” tegasnya, di hadapan para pengurus TP2D yang baru dilantik, di Pendopo Bupati, Kamis (26/8/2021) lalu. (*)


Editor : Zainullah
Publisher : Ameg.id
Sumber : -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button