Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /var/www/html/ameg.id_wp/wp-content/themes/jannah/jannah.template#template on line 43
Disway

Rektor Karakter

SEMUA rektor sudah hati-hati. Mestinya. Tahun lalu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah keliling universitas. KPK membeberkan banyaknya pengaduan masyarakat di seputar penerimaan mahasiswa baru.

“Para rektor sudah sepakat untuk menaruh perhatian serius,” ujar seorang wakil rektor di sebuah universitas besar di Jatim. Pulang dari pertemuan dengan KPK itu para rektor mengadakan pertemuan di universitas masing-masing. Intinya: harus hati-hati. KPK akan mengawasi ketat di penerimaan mahasiswa baru tahun berikutnya: 2022.

Apakah Rektor Universitas Lampung (Unila) Prof Dr Karomani tidak hadir di pertemuan dengan KPK tahun lalu? Atau lagi ngantuk? Atau tidak merasa ada yang dilanggar? Kita belum bisa tahu persisnya. Belum ada keterangan rinci.

Baca Juga

Beritanya masih singkat: Rektor Unila ditangkap KPK di Bandung. Bersama 6 orang pimpinan Unila.

Mereka memang sedang di Bandung. Yakni untuk ikut satu acara khusus: lokakarya peningkatan karakter dan integritas. Materi lokakarya menyangkut IKU (Indikator Kinerja Utama).

Prof Karomani memang asyik di pembentukan karakter bangsa. Termasuk membangun karakter manusia Pancasila. “Beliau itu juga ketua forum rektor untuk pembangunan karakter bangsa,” ujar seorang guru besar di Banten. “Saya termasuk salah satu pengurusnya,” tambahnya.

Maka ironis kalau di forum character building seperti itu mereka ditangkap KPK.

Anda sudah tahu: perguruan tinggi negeri itu dibagi dalam tiga kelompok. Kasta yang paling atas disebut Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum. Yakni yang sekelas UI, ITB, UGM, Unpad, Unair, ITS dan Unhas. Tahun lalu Universitas Brawijaya, Malang, naik kelas. Total ada 14 atau 15 PTNBH di seluruh Indonesia.

Kelompok dua, disebut Perguruan Tinggi  Badan Layanan Umum (BLU). Universitas Lampung masuk kelompok kedua ini.

Kelompok tiga, paling bawah: Satker.

Untuk kelompok yang paling lemah itu, Satker, pembiayaannya hanya dari satu sumber: APBN. Uang kuliah dari mahasiswa pun masuk kas negara.

Universitas Lampung masuk kasta  BLU sejak lama: 2009. Artinya: sudah boleh mengelola kampus secara lebih fleksibel.

Ketika masih berstatus PTN Satker kegiatannya berbasis fungsi. Setelah naik ke BLU,  kegiatannya berbasis kinerja.

Sebagai BLU Universitas Lampung boleh menerima mahasiswa baru lewat tiga jalur: jalur undangan untuk lulusan SMA yang berprestasi (40 persen), jalur testing masuk dengan nilai terbaik (30 persen), dan jalur mandiri 30 persen.
Kuota itu terasa ideal. Yang sangat pintar tidak bisa dikalahkan oleh uang. Yang cukup pintar masih bisa punya peluang. Dan yang kaya bisa ikut jalur mandiri. Yakni dengan cara menyumbang. Uang itu bisa untuk biaya menjaga mutu universitas.

Setiap rektor universitas kelompok BLU bisa menetapkan tarif penerimaan mahasiswa baru lewat jalur mandiri. Inilah jalur yang waktu pendaftarannya terakhir. Khusus disediakan bagi yang tidak dapat undangan dan tidak lulus ujian masuk. Syaratnya: harus bayar.

Rektor Unila sudah menerbitkan surat keputusan. Tarif jalur mandiri tahun ini antara Rp 15 juta sampai 25 juta.

Kepada yang mendaftar lewat jalur mandiri disodori formulir: sanggup menyumbang berapa. Orang tua mahasiswa harus ikut tanda tangan di formulir itu.

Saya sempat melihat salah satu formulir isian jalur mandiri Universitas Lampung. Namanya calon mahasiswa itu Budi Utomo –bukan nama sebenarnya. Ia menyanggupi membayar 20 juta. Jurusan yang ia pilih: bimbingan dan konseling. Kelihatannya ia ambil angka tengah-tengah antara 15 dan 25 juta.

Tarif itu tidak sama untuk setiap fakultas. Tapi tarif di Unila tergolong murah dibanding BLU yang lain.
Maka kemungkinan besar Rektor Unila melanggar ketentuan tarif yang sudah ia tetapkan sendiri. Berarti tarif yang ditetapkan Unila masih terlalu rendah dibanding harga pasar.

Tentu untuk fakultas kedokteran tarif itu tinggi sekali: Rp 250 juta. Itu batas bawahnya. Tentu masih banyak yang sanggup membayar lebih dari itu.

Prof Karomani dikenal tegas, berani, dan banyak inisiatif. Ia orang Pandeglang, Banten. Setelah tamat SMP ia masuk sekolah pendidikan guru (SPG) di Pandeglang. Lalu kuliah di IKIP Bandung. Jurusan bahasa dan sastra Indonesia. Lalu kuliah di Universitas Padjadjaran untuk S-2 dan S-3. Bidangnya komunikasi.

Sebelum menjabat rektor di tahun 2019, Karomani menjadi wakil rektor bidang kemahasiswaan.  Di Unila ia meraih gelar profesor.

Sebagai putra Pandeglang, Prof Karomani dikenal sering mengkritik bupati Pandeglang saat ini. Kritiknya keras sekali.
Umur Karomani sudah 61 tahun. Berarti ia tidak bisa maju lagi menjadi rektor untuk jabatan kali kedua. Ia sudah berjuang sampai ke Mahkamah Agung: agar batas usia rektor dinaikkan dari 60 tahun ke 70 tahun. Perjuangan itu belum berhasil.

Orang tua saat ini begitu takut anaknya tidak pandai. Karena itu sekolah mahal pun dikejar. Ketakutan orang-orang tua itu jadi makanan empuk para pendidik yang tidak punya karakter. (*)

Komentar Pilihan Disway
Edisi 21 Agustus 2022: Lim Xiao Ming

Kang Sabarikhlas

Alhamdulillah… nama saya gk disebut untuk menerjemahkan “ma..ma..hu..hu”. Ternyata anda sudah tahu, Abah…so..so..duh.

Aku dan kita Official

Takziahh kok Yo panggah ae gae kaos Disway…. Nemen

Muin TV

Abah salah. Alim Markus itu bukan, “cintailah produk-produk Indonesia.” Tapi, “cintailah ploduk-ploduk Indonesia.”

Teguh Wibowo

Waduh.. abah kenapa pakai kaos? Acaranya formal, setidaknya pakai kemeja atau baju koko..

Giyanto Cecep

jalan hidupnya seperti sebuah novel atau cerita pendek karena masih muda .. tapi sudah berjalan di ngarai dan bukit terlahir dari tionghoa kemudian menjadi muallaf selagi masih muda mirip dengan Dr Syafii Antonio .. beristrikan bule dari Strali yg juga muallaf dan bermukim di Arab Saudi sebagai orang kaya bukan TKI ..

LiangYangAn 梁楊安

Ironinya terjadi dikemudian hari, misinterpretation si sulung yang suka berburu dan misinterpretation si bungsu yang suka menunggang kuda, membuat hati sang pelukis hancur. Ketika si sulung sedang berburu, di semak-semak tempat dia bersembunyi, dia melihat tubuh kuda (seperti pada lukisan ayahnya) dan si sulung menembak kuda tersebut (yang dia anggap sebagai harimau) ; dan pelukis tersebut harus membayar ganti rugi kepada pemilik kuda.  Sedangkan si bungsu diterkam harimau ketika dia melihat kepala harimau dan ingin menunggangi nya (seperti pada lukisan ayahnya, yang dia anggap sebagai kuda sebagaimana yang dikatakan ayahnya) Akhirnya pelukis tersebut membakar lukisan itu dengan sangat sedih, dan menulis puisi untuk dirinya sendiri 馬虎 (măhū) : “Seperti kuda dan seperti harimau, putra sulung menembak kuda hingga mati, dan putra bungsu diterkam harimau. Pondok jerami, membakar gambar yang ceroboh. Saya menyarankan Anda untuk tidak belajar dari saya. Meskipun puisiku bukanlah puisi yang bagus, pelajarannya terlalu mendalam.” Sejak saat itu, kata 馬虎 (măhū) secara umum biasanya diulang menjadi 馬馬虎虎 (Mămăhūhū) menyebar dan orang-orang suka menggunakannya dan artinya pun menjadi beragam, bisa diartikan sebagai “careless” ; bisa juga “not so bad” atau “so-so”.

LiangYangAn 梁楊安

Secara etimologi, 馬馬虎虎 (Mămăhūhū) berasal dari 喇喇忽忽 (Lă lă hūhū) berdasarkan interaksi budaya antara Manchu dan Cina di zaman kekaisaran dahulu. Ungkapan 喇忽 (lă hū) dalam bahasa Manchu berarti “tidak terampil berburu”, namun frasa 喇喇忽忽 (Lă lă hūhū) sepertinya mengikuti dialek Cina yang kerapkali diulang. Sedangkan 馬虎 (măhū), kisahnya berawal dari seorang pelukis pada Dinasti Song yang mempunyai kebiasaan melukis sesuka hatinya. Suatu ketika, ketika baru saja dia melukis kepala harimau, datanglah seseorang yang memintanya melukis kuda, dan pelukis itu dengan sesuka hatinya melukis tubuh kuda di belakang kepala harimau yang baru saja dia lukis, jadilah lukisan kuda berkepala harimau. Si pemesan lukisan kuda tidak menginginkan hasil lukisan tersebut, sehingga lukisan tersebut hanya digantung di dinding rumah pelukis tersebut. Putra sulungnya bertanya apa yang ada di lukisan itu, pelukis tersebut menjawabnya “Harimau”. Kemudian si bungsu pun bertanya hal yang sama, dengan perasaan kesal (karena lukisannya tidak laku) pelukis tersebut menjawabnya “Kuda”.

Fra Wijaya

Abah kok pakai kaos seperti itu,terkesan kurang menghargai yg mengundang bah,walau itu acara informal tp diacara yg terkesan relegi sprt itu apalagi itu acara tahlilan klo kurang suka pakai baju koko baiknya pake hem atau pakai baju bukan kaos, klo terpaksa pakai kaos setidaknya pakai kaos yg ada kerahnya, mohon maaf kalau berbeda pandangan….

Mirza Mirwan

Jennifer Grout, wanita kelahiran Boston, 21 Mei 1990, awalnya menjadi penyanyi di kafe milik orang-orang Syuriah di Montreal, Kanada. Lulus dari McGill University, 2012, ia pergi ke Maroko untuk belajar lagu-lagu Arab. Oleh gurunya ia disuruh mendengarkan tilawah Quran dari maestro tilawah Mesir, Mohammad Siddiq al-Menshawi. Hati Jennifer bergetar, luluh. Ia lantas belajar tentang Islam kepada temannya, pemuda Maroko. Lalu ia mantap menjadi muallaf. Th. 2012 keduanya menikah. Ajaibnya, Jennifer kemudian bisa tilawah mengikuti style Muhammad Siddiq al-Menshawi. “Makharijul huruf”-nya begitu sempurna. Salah satu “resital” tilawah Jennifer Grout yang sering saya tonton adalah saat ia membacakan 2 ayat terakhir Surah al-Baqarah (285-286). Penasaran? Lihat saja di Youtube. Ketik: Jennifer Grout, Surah al-Baqarah 285-286.

Johan

马马虎虎 ungkapan kata yang umum di kalangan orang Tionghoa. Dua kata yang diulang sesuai kebiasaan untuk menegaskan sebuah situasi dan kondisi. Secara umum maknanya berarti: tidak terlalu bagus, tidak luar biasa, hangat hangat kuku, sedang sedang saja. Saya respek dengan orang Tionghoa yang mempertahankan pemberian nama Tionghoa kepada keturunannya. Nama adalah identitas utama seorang etnis Tionghoa. Tanpa nama orang Tionghoa kehilangan identitasnya. Pemberian nama juga tidak sembarang. Ming (名) adalah huruf karakter yang sama untuk penulisan kata “nama ” dan “reputasi”. Jadi pemberian nama itu penting. Seperti perkataan Confucius: “名不正则言不顺,言不顺则事不成” (Ketika nama seseorang tidak tepat, kata-kata seseorang tidak akan diterima. Jika kata-kata seseorang tidak diterima, seseorang tidak dapat mencapai apa pun).

Johan

Sebenarnya kalau mengikuti tradisi adat istiadat Tionghoa, tamu yang “tahu adat” tidak akan memakai pakaian yang mengandung warna merah waktu acara dalam masa berkabung. Tapi saya tidak bilang Abah tidak tahu adat loh. Saya maklum karena Abah tidak sedang dalam situasi “Anda sudah tahu”.

Namu Fayad

Saya jadi fokus ke putra Almarhum Lim Xiao Ming, Andrew Lim. Masa remaja yang nakal itu. Di negeri yang bebas itu akhirnya ia dapatkan jalan hidupnya. Makanya, jadi orang tua, jangan pernah berputus asa dalam membesarkan anak. Itu saja.

Johannes Kitono

Turut berdukacita buat keluarga Lim asal Fuqing yang sering disebut juga suku Hok Tjia. Dulu umumnya profesi suku HokTjia adalah juragan Becak, motor dan Spare part. Tapi berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Alm Cek Momo asal Solo pemilik Eden Farm adalah pioner Peternak Ayam petelur di Indonesia. Sukses Cek Momo yang orang Hok Tjia diikuti koleganya pedagang tekstil di Pintu Kecil, Jakarta. Sebelum ada OPEC, para Peternak Ayam Petelur yang mayoritas Hok Tjia ini, setiap bulan meeting arisan menentukan harga telur. Bagusnya, tidak banyak gejolak harga telur dipasar dibandingkan dengan harga ayam pedaging. Tentu saja waktu itu belum ada KPPU dan arisan seperti ini tidak ada notulennya. Biarpun bukan orang Hok Tjia, saya sering di ajak Cek Momo ikut hadir di pertemuan di resto Jayakarta. Menu wajibnya adalah kuah Talas ungu khas Hok Tjia. Suku Hok Tjia kompak dan biasanya saling membantu dalam urusan bisnis. ” Makan telur itu sehat dan murah. 1 bungkus Indomie pakai telur harganya dibawah 10 rb dan kenyang “, kata Cek Momo, om Robby Tjahjadi, Penyelundup Mobil Mewah yang menghebohkan di era Presiden Soeharto.

Budi Utomo

Ma He 马和 alias Zheng He 郑和 (baca: Cheng Heu atau Cheng Ho) punya sahabat sesama Hui 回 bernama Ma Huan 马欢 yang berasal dari provinsi Zhejiang 浙江. Ma Huan pandai berbahasa Arab dan menjadi penerjemah Zheng He dalam berkomunikasi dalam bahasa Arab. Ma Huan menulis kisah ekspedisi Zheng He yang berjudul Ying Ya Sheng Lan 瀛涯胜览. Sumber utama sejarah ekspedisi Zheng He. Yang menarik adalah catatan mengenai Chen Zu Yi 陈祖义 yang menguasai Palembang dengan armada 10 perahu besar dan 5000 pelaut. Yang merongrong kekuasaan Shi Jin Qing 施进卿, orang Hui 回 yang menjadi pejabat Majapahit setelah Sriwijaya ditaklukkan 1377. Chen Zu Yi memungut pajak dari setiap kapal dagang yang lewat. Sebenarnya ini tradisi kerajaan di Jawa maupun Sumatra. Tapi di mata Shi Jin Qing, Chen Zu Yi adalah bajak laut. Dibantu Zheng He dan Ma Huan, Shi Jin Qing menumpas Chen Zu Yi. Konon Sunan Giri adalah keturunan Shi Jin Qing. Dari catatan Ma Huan diketahui pula kisah 170 utusan Dinasti Ming tewas jadi korban perang Regreg antara Wikramawardhana vs Bhre Kertabumi. Perang Regreg (regreg artinya setahap demi setahap) melemahkan Wilwatikta (nama asli Majapahit). Zhu Di / Yong Le minta ganti rugi 60 ribu tael perak kepada Wikramawardhana (ponakan sekaligus mantu Hayam Wuruk) pemenang perang saudara regreg.

Johannes Kitono

Laksamana Cheng Ho adalah penjelajah asal China ( 1405- 1433 ) yang terkenal didunia, khususnya di Asia Tenggara. Dengan armada 307 Kapal dan 27.000 pelaut, Laksamana ini sudah 7 kali melakukan ekspidisi ” Show of Forces ” nya termasuk singgah juga di Tuban dan Simongan Semarang. Banyak kalangan menganggap bahwa beliau adalah salah satu penyebar agama Muslim di Indonesia. Buktinya ada Masjid Muhammad Cheng Ho di Surabaya. Tetapi menurut Dr. Novi Basuki, alumni Pesantren Nurul Jadid asal Situbondo yang S1 sampai S3 nya di Univ Sun Yat Sen, China. Laksamana Cheng Ho itu beragama Budha dan itu bisa dibuktikan secara ilmiah. Supaya informasinya tidak Ma Ma Hu Hu, silahkan Juragan Disway langsung ke Dr Novi Basuki.

imam rasidi

Setinggi apapun posisi Abah DI rasanya kurang sopan pada acara dimaksud hanya memakai kaos oblong….mungkin Abah DI khilaf…maaf sekedar mengingatkan agar tidak terulang kembali.

ibnuhidayat setyaningrum

Berdasarkan foto hari ini, menurut saya Pak Dahlan sudah ikut ikutan Elon Musk. Mosok di acara tahlilan di masjid pakai kaos oblong? Mbok ya jangan gitu dong pak… Kirang sae. Ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana. Etika kabudayan jawi, mustinya tetap dipertahankan dan dicontohkan oleh publik figur publik figur. Ya termasuk Pak Dahlan.

Fahmi Afis22

Abah di rumah saya banyak baju taqwa nganggur Mungkin abah mau pinjam monggo?

*) Dari komentar pembaca http://disway.id


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button