Notice: Undefined index: HTTP_REFERER in /var/www/html/ameg.id_wp/wp-content/themes/jannah/jannah.template#template on line 43
Wisata

Salatiga, Kota Paling Toleran karena Wareg, Wasis, Waras

Kota kecil di Jawa Tengah ini mendapat gelar toleransi terbaik menurut Setara Institut. Sebutan itu tidak muncul tiba-tiba. Perlu satu dekade hingga Salatiga meraih gelar itu. Selama lima hari, Harian Disway tinggal di kota tersebut.

——————————

KOTA Salatiga memang tidak besar. Luasnya 5,400 hektare. Di kota yang kontur jalannya naik-turun tersebut ada empat kecamatan dan 23 kelurahan. Penduduknya 183 ribu jiwa. Ia dikelilingi dua daerah. Yakni, Kabupaten Semarang dan Kota Semarang.

Baca Juga

Sabtu (24/4)/2021, Harian Disway dan rombongan Peace Train Indonesia (PTI) mendapat undangan berbuka bersama di rumah dinas wali kota Salatiga. Letaknya di seberang Bunderan Taman. Itulah sebuah bundaran yang tepat di tengah Kota Salatiga. Di sisi timurnya ada sebuah mal. Satu-satunya di kota tersebut.

Di sisi yang lain ada sebuah warung burjo. Bubur kacang ijo. Di Surabaya, warung semacam itu sering disebut sebagai warkop.

Warung itu sepi pengunjung. Maklum, bulan puasa. Hanya tampak dua orang yang membeli minuman dan semangkuk mi instan.

Tak ada tirai yang menutupi warung itu. Tidak seperti di kota-kota lain yang mewajibkan warung memakai tirai saat Ramadan.

Menghadap ke utara Bunderan Taman adalah rumah dinas wali kota. Bangunannya seperti rumah kuno. Di depan pintu masuk teras rumah dinas itu ada tugu setinggi sekitar dua meter. Tulisannya: Adipura Kirana Tahun 2016. Itulah bentuk penghargaan atas pertumbuhan ekonomi melalui perdagangan, pariwisata, dan investasi.

Di seberang pintu masuk terdapat patung dewa Ganesha. Lambang kecerdasan, kemakmuran, dan ilmu pengetahuan. 
Setelah kami asyik mengelilingi teras rumah dinas itu, seorang anggota Satpol PP datang. ’’Mari masuk. Sebentar lagi Pak Wali datang,’’ kata anggota Satpol PP yang di dadanya ada tulisan nama Hari tersebut.

Tugu penghargaan Adi Pura yang terdapat di teras rumah dinas Wali Kota Salatiga. (andre disway) 

Kami lantas diajak di sebuah ruangan di halaman belakang rumah dinas. Ruangan itu berukuran 10 x 7 meter dan bisa menampung 20 anggota rombongan dari PTI.

Di situ, kursi-kursi sudah berjajar. Hidangan buka puasa juga sudah siap. Dua puluh menit kemudian, Wali Kota Salatiga Yulianto turun dari mobil Pajero Hitam. “Maaf menunggu lama. Saya habis rapat dengan Forkopimda,” katanya lalu membuat salam dengan mengatupkan kedua tangan di depan. Seperti salam namaste.

Yulianto memakai kemeja putih lengan panjang yang digulung setinggi siku. Sore itu, ia langsung duduk di sebelah Direktur Persemaian Cinta dan Kasih (Percik) Harryani Sapta Ningtyas. Yakni sebuah lembaga yang mengkaji isu sosial, keberagaman, dan politik. 

Yulianto terlihat senang dengan kehadiran kami. Wajahnya tampak semringah di balik masker. Menurutnya, PTI adalah contoh asosiasi yang mampu menyemaikan keberagaman.

Politisi Partai Gerindra itu mengaku tidak kaget atas gelar kota paling toleran dari Setara Institut tersebut. Sebab, selama 10 tahun terakhir, Salatiga selalu ada di peringkat kedua kota toleran di Indonesia itu.

Menurut Yulianto, toleransi bisa muncul jika kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi. Baginya, ada tiga komponen yang menunjang toleransi. Yakni, wareg, wasis, dan waras. Wareg alias kenyang adalah filosofi terpenuhinya kebutuhan ekonomi. Wasis berarti pendidikan yang memadai. Dan waras terpenuhinya kesehatan. 

“Intervensi pemkot terkait anggaran pendidikan sampai 38 persen dari APBD. Padahal amanat UU sekitar 20 persen. Karena itu, indeks pembangunan manusia (IPM) bisa naik. Patutlah kami mendapat gelar toleran,” katanya.

Karena Salatiga tak terlalu luas, pemkot juga mudah mengontrol masyarakat. Kalau ada potensi gesekan, pemkot langsung bertindak. Salah satunya dengan mengajak makan bersama di kediaman dinas wali kota. 

Wali kota dua periode itu menjelaskan, di Salatiga ada 13 komunitas yang menjaga keragaman. Tugas mereka adalah merangkul masyarakat akar rumput. Mereka juga bisa menjadi jembatan pihak-pihak yang bermasalah lantas dipertemukan dengan pemangku kebijakan. “Jadi kalau ada riak-riak tidak bakal jadi besar,” ungkap laki-laki 53 tahun itu. 

Pendeta Belanda Josien Folbert mendapat giliran berbicara melalui Zoom. Menurutnyi, selama ini tingkat toleransi di Salatiga sudah cukup baik. Dia membandingkannya dengan Belanda. Berdasar sejarah, justru toleransi di Belanda cukup rendah. Berbeda dengan Indonesia yang ketika itu masih bernama Hindia Belanda

Seiring waktu tingkat toleransi di Belanda mulai meningkat. Bahkan masyarakat di sana tidak mau ada batas-batas. Sehingga, tercipta masyarakat yang majemuk dan damai. “Kami belajar juga dari Salatiga. Ini merupakan proses belajar bersama. Kalau saling percaya pasti bisa mencapai sesuatu,” katanya. (*)

(sumber : Disway)


Editor :
Publisher :
Sumber :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button