Kota Batu

Satu Suro, 350 Benda Pusaka Dijamas

AMEG – Tahun baru Islam 1443H tepat 10 Juli kemarin. Orang Jawa biasa menyebut Satu Suro, dan menganggapnya sakral.

Di Kota Batu, 1 Suro dimanfaatkan untuk mensucikan benda-benda pusaka, biasa disebut jamasan, Tayuh, Sidhikara Pusaka Leluhur Nusantara, di Dusun Banaran, Desa Bumiaji, Kota Batu.

Koordinator kegiatan, Volta Septian, mengatakan, benda pusaka yang dijamas meliputi keris, tombak, pedang dan lainnya, berasal dari berbagai zaman, mulai Majapahit hingga Mataram. 

Baca Juga

“Ada sekitar 350 benda pusaka yang dijamas. Tahun lalu mencapai 600 benda pusaka. Mungkin karena PPKM,” kata Volta, Rabu (11/8/21).

Menurutnya, rata-rata benda pusaka yang dijamas merupakan benda sebelum kemerdekaan RI atau biasa disebut benda pusaka Kamardikan, terlihat dari segi fisik, mulai korosi dari besi yang berkurang, berlumut dan ringan. 

Pada prosesi jamasan itu pihaknya menerima upah seikhlasnya. Terpenting uri-uri budaya tetap lestari. Menurutnya, kegiatan itu sudah dilakukan sejak 2010 silam. 

 “Jika tidak ada Covid-19 biasanya orang dari berbagai daerah datang kesini. Mulai Malang Raya, Trenggalek, Palembang, Sidoarjo dan Surabaya. Pemilik benda pusaka kadang seorang tokoh dari suatu daerah,” ungkap dia.

Dalam prosesi penjamasan, Volta menjabarkan, yang dilakukan meliputi pembersihan kerak besi, menggunakan sikat gigi dibasuh dengan air kelapa dan buah mengkudu, diiringi tembang-tembang Jawa.

Setelah itu dibasuh menggunakan air bunga macan kerah serta bunga setaman di sebuah gendok (guci.red), dilanjutkan dengan diusap memakai tujuh macam minyak, diantaranya apel jin, javron, misik subuh, misik kobra, hajar aswad dan malaikat subuh. 

“Prosesi terakhir diasapi di atas dupa, untuk mempercepat pengeringan. Selain itu juga berfungsi agar benda pusaka jadi harum,” katanya.

Sebelum penjamasan, panitia melakukan ritual khusus seperti doa-doa. Guna meredam khodam yang ada di benda-benda pusaka. Setelah itu, masuk prosesi sidhikara untuk menyeimbangkan energi, yang ada di dalam keris dengan para pemiliknya. 

“Biasanya prosesi ini dilakukan oleh para senior yang sudah pilihan tahun melakukan penjamasan. Sekali penjamasan memerlukan waktu sekitar 40 menit. Disertai doa asmaul husna dan doa kejawen,” beber dia. 

Prosesi penghujung, benda pusaka ditayuhkan, guna mengidentifikasi asal muasal dari masing-masing benda pusaka. Seperti masa pembuatan, jenis pamornya, siapa pembuatnya dan jenis peruntukan khodamnya. Jika secara fisik benda pusaka masih baik kondisinya, hanya membutuhkan waktu kurang dari 10 menit dalam proses penayuhan. Namun jika kerusakannya parah, butuh waktu yang lama karena harus ada proses komunikasi batin dengan leluhur.

Dia mengatakan setiap benda pusaka memiliki ciri khas pamor atau relief unik pada jamannya. Dicontohkan seperti keris pada era Kerajaan Singosari berpamor hewan-hewan naga dan singa. “Kalau keris era Majapahit bentuk cirinya kecil dan ramping,” katanya. 

Pada malam harinya, benda-benda pusaka yang sudah dimandikan, dikirab keliling Desa Bumiaji. Hal itu sebagai perwujudan untuk Napak Tilas Dakwah Mbah Syarifah Raden Ayu Dewi Condro Asmoro atau lebih dikenal dengan Mbah Batu. Pada seluruh rangkaian penjamasan tersebut, panitia menggunakan pakaian adat Jawa. (*)


Editor : Ahmad Rizal
Publisher : Rizal Prayugo
Sumber : -

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button