Disway

Senjata Yubo

COBALAH sesekali kita pahami jalan pikiran orang yang tidak setuju dengan kita. Misalnya soal kepemilikan senjata itu.

“Kalau kepemilikan senjata dilarang, jumlah korban mati di tangan perampok akan lebih banyak,” ujar Ted Cruz, anggota DPR Partai Republik dari Texas.

Dengan memiliki senjata maka orang yang jadi sasaran rampok bisa membela diri. Mereka juga tidak mudah merampok karena tahu kita pasti punya senjata untuk melawan.

Baca Juga

Maka orang seperti Presiden Donald Trump tetap kukuh membela hak warga memiliki senjata. “Sudah waktunya sekolah yang berubah. Guru harus dipersenjatai,” ujar Trump di acara Kongres Asosiasi Pemilik Senjata (NRA) di Texas dua hari lalu.

Trump juga memberikan jalan keluar lain: pintu-pintu sekolah harus lebih kuat. Juga jendelanya. Dan pagar yang mengelilingi sekolah harus disesuaikan. Harus lebih kukuh. Agar tidak terjadi lagi orang bersenjata bisa masuk kompleks sekolah. “Juga harus pakai teknologi modern untuk mengamankan sekolah,” ujar Trump.

Awal mula kehebatan Amerika memang dari kehidupan individual penduduknya. Terutama yang kulit putih. Mereka bekerja keras. Sendiri. Bersama istri dan anak. Tidak ada yang membantu. Tidak juga pemerintah — mereka benci pemerintah yang hanya mencampuri urusan pribadi. Karena itu mereka juga benci pajak.

Mereka harus mati-matian melindungi hasil kerja kerasnya itu. Sendirian. Mereka tidak rela hasil kerja keras itu dirampok orang begitu saja. Baik sesama kulit putih atau oleh ras lain. Mereka jaga kekayaan mereka dengan taruhan nyawa. Tanpa mengandalkan bantuan pemerintah. Atau polisi.

Mereka harus punya senjata. Suami punya satu pistol. Istri juga. Lalu suami punya lagi senjata laras panjang. Itulah peralatan standar rumah tangga mereka. Ibarat punya piring dan sendok. Seperti itu juga di rumah teman-teman saya di sana.

Ditunjukkanlah kepada saya di mana menyimpan pistol. Di mana letak senjata laras panjang. Saya pernah juga diminta mencobanya. Di halaman belakang.

Di Kongres NRA itu juga dinyatakan bahwa tidak satu pun anggota NRA yang pernah terlibat penembakan masal seperti yang baru terjadi di kota kecil Uvalde, bagian barat daya Texas.

“Kami bukan teroris. Tangan kami tidak berlumur darah. Kami taat hukum Amerika. Kami hanya ingin menjaga diri dan keluarga kami. Kami bangga jadi anggota NRA,” bunyi publikasi resmi di NRA.

Berarti masyarakat Amerika tetap terbelah. Presiden Joe Biden yang kemarin ke Uvalde diteriaki sebagian masyarakat di sana. “Lakukanlah sesuatu agar tidak terjadi lagi peristiwa seperti ini,” teriak mereka seperti dilaporkan media di sana. “I will do,” balas Biden.

Apa maksud I will do kita tahu. Tapi bagaimana merealisasikannya itulah persoalan besarnya.

Sepuluh hari lalu Biden juga ‘melayat’ ke korban penembakan masal di Buffalo, bagian paling utara Amerika. Dan kini melayat serupa di bagian paling selatan negara itu. Bahkan di saat Biden ke Uvalde ini pun ada penembakan lainnya di Alabama.

Bisa jadi pekerjaan utama Biden nanti hanya melayat seperti itu. Dari utara ke selatan. Dari timur ke barat.

Tentu ada yang selalu bisa disalahkan. Dalam kasus Uvalde, yang diincar adalah Pedro ”Pete” Arredondo. Umurnya 50 tahun. Ia adalah kepala polisi sekolah distrik Uvalde. Pete dianggap terlalu lambat mengambil keputusan. Kelak akan diungkap berapa dari 19 siswa yang tewas itu bisa selamat. Kalau saja Pete tidak lelet. Siapa tahu di antara 19 itu sebenarnya ada yang belum meninggal. Ia hanya terluka. Tapi terlalu lama tergeletak di lantai. Sekitar 1 jam. Sampai mati kehabisan darah.

Padahal doktrin keadaan krisis seperti itu tegas: lakukan ICE. Isolate, Catch, Evacuate. Pojokkan pelakunya. Ringkus pelakunya. Evakuasi korbannya.

Polisi sebenarnya sudah tiba di lokasi hanya beberapa menit dari peristiwa. Tapi yang didatangi pertama justru lokasi di depan rumah mayat. Di sebelah sekolah.

Dari situ memang ada pengaduan ke 911. Yakni ketika dua orang yang baru keluar dari rumah mayat ditembak Salvador Ramos remaja 18 tahun itu. Lokasi rumah mayat yang di sebelah sekolah menyebabkan polisi tidak mengira ada juga penembakan di sekolah. Yang justru lebih dahsyat. Dengan pelaku yang sama.

Polisi akhirnya juga ke sekolah itu. Tapi lebih banyak berkumpul di koridor. Tidak segera bertindak. Sampai ada orang tua siswa yang minta ke polisi agar memberikan senjata dan rompinya. Ia sendiri yang akan mendobrak masuk ke dalam kelas.

Di lain pihak, beberapa siswa yang tergeletak di lantai, sempat menelepon 911. Dengan ketakutan. Minta tolong. Agar dikirim segera polisi.

Siswa itu meraih HP milik guru mereka yang tergeletak tewas di sebelahnya. Itu berani mereka lakukan karena Ramos, Si pembawa senjata, lagi ke kelas sebelah. Mereka juga berani meraih darah dari lantai untuk diusapkan ke seluruh badan. Juga darah dari teman mereka yang sudah tewas. Lalu pura-pura sudah mati.

Komandan Pete berpikiran lain. Ia tetap menunggu kunci cadangan. Untuk bisa masuk ke kelas. Kunci itu masih diambil dari petugas pembawa kunci cadangan. Lama sekali. Ia tetap tidak mau mendobrak pintu atau jendela. Ia berpikir Ramos sedang berlindung dan siap menembak. Pikiran Pete lainnya: toh sudah tidak ada suara penembakan lagi. Itu ia anggap keadaan tidak membahayakan siswa lagi. Sama sekali tidak terpikirkan siapa tahu sudah banyak yang tertembak dan masih bisa diselamatkan.

Itulah yang akan jadi pusat penyelidikan atas Komandan Pete. Padahal ia sudah mengikuti pelatihan intensif keadaan seperti itu. Ia sudah 25 tahun mengabdi di kepolisian.

Pete juga tahu aturan baru menghadapi peristiwa seperti itu. Langsung dobrak. Aturan baru itu dibuat sebagai koreksi cara lama. Terutama setelah terjadi penembakan serupa di pantai timur 10 tahun lalu. Agar tidak terjadi lagi.

Ternyata berulang.

Bukan main kemarahan masyarakat Uvalde. Dan seluruh Amerika.

Rupanya perhatian Pete kini sudah terbagi ke bidang lain. Ia lagi ingin jadi politisi. Ia ikut Pilkada di Uvalde. Untuk menjadi anggota dewan kota. Sudah terpilih. Ia bisa segera berhenti dari jabatan komandan polisi di situ. Dengan pangkat kapten.

Latar belakang Ramos sendiri kian terkuak. Ternyata ia cukup aktif di medsos. Yakni di Yubo. Yang 90 persen anggotanya anak berumur 25 tahun ke bawah. Menurut Yubo ada 79 juta anak muda di medsos tersebut. Termasuk Ramos.

Ramos juga sering live di Yubo. Anak berumur 18 tahun ini sering bicara mesum di situ. Live. Juga sering mengancam lawan bicaranya. Khususnya wanita. Ia pernah mengancam si wanita untuk diperkosa dan dibunuh. CNN juga menulis Ramos pernah mengancam akan menembaki sekolah si wanita.

Dalam satu live Ramos pernah mengalihkan kamera HP ke senjata yang ia miliki. Sambil memberikan ancaman tersebut. Polisi akhirnya menemukan Ramos memiliki 60 magazine dengan peluru sebanyak 1.657 buah. Sebagian ditemukan di rumah Ramos.

Hannah, 18 tahun, juga anggota Yubo. Dia dari Ontario Kanada. Hannah pernah melaporkan tingkah Ramos seperti itu ke pengelola Yubo. Ramos sempat di-blacklist di Yubo. Tapi, kata Hannah, hanya sebentar. Lantas boleh aktif lagi

Ramos kini sudah tidak mikir apa-apa di kuburnya. Justru Pete yang sibuk menyelamatkan akhir karirnya.(*)

Komentar Pilihan Disway

Edisi 30/5/2022: Aplikasi Migor

Jimmy Marta

Nyesek aku nyoba2 kalkul. 1m lbr = 0,09%. Dibulat 0,1 brarti sepersepuluh persen. Hasilnya seperseribu. Ada seribu m lebih lbr diedar goto. Harga ipo 380. tksl yg 6,3 t dapetnya 2,08 mumet aku ngalinya, Ji…

kagami Shanks

Nanya ah. Apa iya telkomsel investasi di goto 6,3 T. Cuma dapat (2,08%). Itu serius?.

Ibnu Shonnan

Untuk sekalian kalinya. Benda cair ini (migor) tidak bisa mengalir sebagaimana karakternya. Kali ini tersendat. Tidak karena dibuntu jalannya. Tapi, dikasih jalan liku-liku. Supaya, lebih jernih jika nanti sampai pemakainya..

thamrindahlan

Anda Sudah Tahu (7 x) Minyak Goreng menjadi Masalah Nasional dan juga menjadi bulan bulanan media massa maca negara. Ada rasa miris plus malu di hati WNI. Sebegitu parahkah sistem tata kelola manajemen pemerintahan sehingga soal yang seharusnya bisa diatas oleh seorang Direktur di Kementerian Perdagangan “terpaksa” di tangani langung Presiden. Malah akhir akhir ini Pak Presiden menugaskan Mr. LBP untuk menyelesaikan carut marut perdagangan minyak goreng. Entah sudah berapa kali disway.id menaikkan masalah minyak goreng dan sudah ratusan komentator loyal menyampaikan pendapat. Bukan sembarang pendapat tetapi ada juga saran produktif untuk ikut serta menyelesaikan masalah pelik emak emak se nusantara. Berpantun sajalah kawan Nasi uduk setara nasi lemak Nikmati sekeluarga jangan sendirian Minyak goreng oh derita emak emak Semoga selesai jangan berkepanjangan Salamsalaman Entah sampai kapan penderitaan

Asep Koding

Web disway.id sering banget macet … hang .. , kadang untuk baca satu artikel disway aja harus refresh 2-3 kali, sangat mengganggu. Silahkan cek bouncing pengunjung di Google Analytics, bisa lebih dari 90%. Kalo bukan karena Abah yang nulis, web begini pasti gak ada yang mau balik lagi.

Lukman bin Saleh

Migor curah d kemas. Distribusi online dan offline. Online dr aplikasi market place. Offline dr jaringan ritel modern. Tugas pemerintah tinggal sedikit. D wilayah2 yg tdk terjangkau dg 2 sistem itu. Bisa mengerahkan instansi yg ada. Maka harga migor yg melalui sistem distribusi itu 100% terkontrol…

LiangYangAn 梁楊安

Aplikasi Migor ?? Efektifitasnya sangat diragukan, karena menurut Badan Pusat Stastik : “Jumlah penduduk miskin pada September 2021 sebesar 26,50 juta orang”. Dari jumlah 26,50 juta orang tersebut, mungkin saja banyak yang sudah tidak memiliki hp. Masalah minyak goreng itu “terang-benderang”, mestinya Pemerintah menggunakan “jurus kepret”nya Pak Rizal Ramli (Menko Perekonomian era Presiden Gus Dur) ketika tahun 2000 terjadi kasus kelangkaan minyak goreng. Ada 3 skema untuk mengatasinya waktu itu dan diakhiri dengan “sikap tegas” Pak Rizal Ramli : “Jadi saya mah sederhana waktu itu, kalau sebulan tidak turun harga minyak goreng, gue periksa semua pajaknya. Kalau ada yang ga beres, gue tangkap. Tiga minggu turun tuh.”

bagus aryo sutikno

Setelah menunda makan pagi, akhirnya lahirlah beberapa organisasi besar di jagat Disway. . GARENG NGOMPOL Pedagang Minyak Goreng bersubsidi OnLine. . GARENG CENDOL. Pedagang Pengecer Minyak Goreng Bersubsidi OnLine . KOMPETITOR Komunitas Pedagang Pengecer Minyak Goreng Bersubsidi Online Anti Koruptor . KACER GANG MISAOL Kadang Pengecer Kadang Pedagang Minyak Sawit Bersubsidi Online . ATPO TIPORANG Asosiasi Trader Palm Oil Tidak Export Sembarangan. . KERIS DEWA Kelompok Penglaris Pedagang Pengecer Minyak Goreng Bersubsidi Online Dambaan Wanita.

Lena Wati

“Untung ” Abah hr ini bahas migor lg. Tuh kan ternyata gak mudah mengurus migor, u rakyat boanyak. Aplg banyak rakyat yg berkepentingan bisnis migor dkk ( pejabat terkait, pegusaha), yg tidak ber Hati Keadilan Sosial ( DMO ,DPO dilanggar , serakah, korup dll). Blm lg ruwetnya alur produksi distribusi agar tepat sasaran d waktu , krn bnyknya rakyat yg perlu migor & sebaran wilayah yg tdk se”uprit” luasnya. Msh Untung ada Ulama2 d pemuka Agama yg sll meng ingat kan “NRIMO ING PANDUM” Semoga ada keadilan di “sini” Pun tdk ada ke srakahan di “bumi pertiwi”

Agus Suryono

BEBERAPA KEMUNGKINAN SIKAP PENGUSAHA.. 1. MARAH. Setelah ada pengusaha dan konsultannya ditangkap dan dipersalahkan. Maka, meski larangan sudah dicabut, pengusaha MEMBALAS.. 2. BINGUNG. Pengusaha masih wait n see. Mau ngapain ini pemerintah. Akan ada peraturan apa lagi. Dan detilnya bagaimana. Ada unsur TAKUT. Dan ada juga unsur KAPOK nya. 3. TIDAK ADA APA APA. Normal saja. Wong masa transisi.. Penjual dan pembeli masih SALING MENYESUAIKAN..

Yea A-ina

Kedelai sudah (menjadi) tahu. Tidak bisa dikembalikan lagi menjadi kedelai (tidak tahu). Keputusan dilarang eksport seperti tahu, tidak bisa lagi dikembalikan jadi tidak tahu (kedelai) lagi. Karena kembali sudah tak bisa, maka tahu digoreng saja. Kalau harga migor agak jauh dari HET 14K pun tak apalah. Toh memang sudah tahu.

Jimmy Marta

Lima orang sudah jadi tersangka. Satu orang dari regulator atau kontroler. Satu penasehat rangkap perantara. Tiga dari pelaksana di perusahaan. Semua tersangka atas nama perorangan. Kalau diamati mereka boleh disebut hanya operator. Para pengamat menyebut ada indikasi merugikan negara. Penyelidikan harus masuk ke lembaga. Arahnya ini masuk kejahatan korporasi. Layak ditunggu opo wani..

Jimmy Marta

Semua harus pintar. dari anak2 sampai emak2 gk boleh lagi gaptek. Semua serba aplikasi. Beli migor harus punya aplikasi si Gareng… Hidup gareng..!

Liam Then

Membaca artikel hari ini, saya merasa kasihan kepada Menteri Perdagangan. Menko Perekonomian. Dan instansi terkait di bawahnya. Lebih lagi,saya kasihan kepada Pak LBP . Beliau sudah 74 tahun. Biarpun orang tua kebon nya banyak. Kasihan. Di beri limpasan beban kerjaan lagi. Memang susah jadi orang yang pintar kerja di kantor. Apa-apa selalu diandalkan ketika ada yang harus di selesaikan. Khususnya saya lebih lebih kasihan kepada staf nya Pak LBP. Pasti mereka tambah keringatan. Kasihan juga pada emak-emak, harus donlot dulu untuk mendapat minyak goreng curah murah 14k. Kasihan juga nanti anak emak-emak, mengajari orang gaptek main hp itu sangat kasihan. Yang ngajarin gondok, yang diajarin mangkel. Ada peluang proses rebut-rebutan HP. Jika ada proses rebut-rebutan HP, otomatis ada peluang HP jatoh, dan layar pecah. Menurut teori probabilitas. Jika ada peluang, pasti ada kejadian. Jika peluang terjadi secara lingkup nasional. Berapa layar HP, yang tidak murah itu, yang bakal pecah karena efek berantai kebijakan aplikasi minyak goreng murah. Ternyata hal sepele tentang aplikasi migor ada peluang berefek pada layar HP menajdi pecah. Terakhir saya kasihan kepada diri sendiri. Kenapa mengikuti drama migor. Karena bikin saya menjadi sedikit sableng. Harusnya saya nonton klip Baywatch di yutub saja. Lihat orang lari-lari.Kata si Aji.Meskipun di ono naik turun juga diatas ,tidak jatoh-jatoh. Setidaknya tidak bikin marah-marah sendiri.


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button