Ekonomi

Siap-siap, Harga Tempe Naik

AMEG – Datanglah ke pedagang-pedagang sayur hari  ini. Tanyakan harga tempe.

Ya, berapa harga tempe sekarang? “Harganya tetap, perpotongnya  Rp 2 ribu rupiah, cuma irisannya sekarang, maaf  lebih kecil,” kata Bu Minarsih, yang buka bakulan sayur mayur di rumahnya di daerah Lawang, Kabupaten Malang.

Minarsih tak sendiri. Ada ratusan pedang tempe di Malang Raya yang sedang menyiasati lonjakan harga kedelai global, agar tak berimbas naiknya harga tempe. “Denger-dengernya memang kedelai naik, jadi irisannya lebih kecil dikit,” kata Bu Minarsih lagi.

Baca Juga

Sampai pertengahan Mei 2021 ini saja, harga  kedelai  menyentuh angka Rp10.084, -per kg, atau meningkat 11,2% dibandingkan pada April 2021.

Direktur Jenderal Perdaganagan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Oke Nurwan kepada media mengatakan,   kenaikan harga kedelai global otomatis akan berdampak pula pada harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe.
 “Saat ini harga kedelai di tingkat pengrajin berada di level Rp10.500 per kilogram,” katanya di Jakarta Kamis (27/5) kemarin.

Mengantisipasi lonjakan harga kedelai eceran di tingkat pedagang, saat ini Kementerian Perdagangan (Kemendag)  mulai memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia.

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifuddin di Jakarta menjelaskan,  sistem perdagangan kedelai yang dianut Indonesia adalah sistem perdagangan bebas. Layaknya pasar global saja. 

Sehingga harga kedelai yang diterima di Indonesia bisa melompat secara tiba-tiba. Seperti yang terjadi pada tahun awal dan pertengahan 2020 lalu. 

Saat itu,  harga kedelai mencapai Rp 7 ribu rupiah, berubah menjadi Rp 8,5 ribu rupiah  di akhir tahun. 
Agar harga kedelai stabil yang dampaknya harga tempe juga stabil,  pemerintah perlu operasi pasar.

Sebab, dari 3 juta ton konsumsi kedelai tiap tahun secara nasional, sebanyak 99% dipakai bahan  membuat tempe dan tahu.

Di seluruh Indonesia saat ini  ada sekitar 160 ribuan pengrajin tempe dan tahu. 

Kalau pemerintah tak bisa menstabilkan harga tempe, ya lihat saja, akan berdampak ke irisan tempe di tingkat konsumen. “Harga bisa tetap Rp 2 ribu rupiah  tapi irisannya akan kita perkecil lagi, sampun nggih, mau belanja apa lagi?” kata Bu Minarsih. (*)


Editor : Sugeng Irawan
Publisher : Iqbal Prastiya
Sumber : "-"

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button