KesehatanLifestyle

Awas Baby Blues Bisa Bikin Gila

AMEG – Para bidan dan tenaga kesehatan enggan berkomentar terkait tragedi bunuh diri ibu yang baru melahirkan anak kembar di Kepanjen, Kabupaten Malang. Namun, soal baby blues diantara mereka bersedia menjelaskan tanpa mau menyebut identitasnya.

Menurut tiga bidan yang dihubungi DI’s Way Malang Post, gejala baby blues paling tampak sejak proses kehamilan. Terutama pada kehamilan tidak terencana. Jika tidak ada dukungan orang terdekat akan menjadi stres post partum dan berlanjut menjadibaby blues. Bahkan, bisa malah menjadi gangguan jiwa permanen atau gila.

Wanita hamil dan usai melahirkan memiliki tahapan perubahan fisik dan psikis. Perubahan fisik sudah banyak yang memahaminya. Nah, soal psikis ini memiliki tiga perubahan. Taking in, taking go, dan petting go. Setiap tahapan beban bobot psikisnya berbeda. 

Taking in biasanya terjadi setelah melahirkan. Yaitu 3  sampai 5 hari pertama dengan ditandai rasa tidak percaya diri sudah melahirkan bayi. Tak percaya diri menggendong bayi. Kasus lain, suka sedih sendiri mendadak. 

“Kalau merasa nelangsa, bahkan menangis sendiri tanpa sebab kalau itu sudah parah,” sebut seorang tenaga kesehatan.

“Nah, pada masa taking in ini, kalau pihak suami dan orangtua atau mertua dan keluarga bahkan tetangga,tidakmengerti bisa bahaya,” tambahnya. 

Sikap di luar si penderita inilah yang berdampak pada ibu bayi. Tetangga yang nyinyir, menghina, dan memaki justru menambah beban psikis ibu bayi. Apalagi, suasana hati ibu bayi tengah labil, capek, stress anak rewel ditambah rutinitas lainnya. Akumulasi itu masuk ke tahap taking on.“Umumnya wanita itu sensitif dengan nyinyiran. Model-model omongan seperti ini mandes banget (menusuk hati),apalagi disampaikan ke orang yang sedang hamil atau melahirkan,” kata tenaga kesehatan lainnya.

Seorang bidan lain menyebut, gejala baby blues paling gampang terlihat, yakni kebingungan si ibu bayi. Jika ditambah tidak ada dukungan orang dekat, semakin tertekan. Gejala lain sampai memperlihatkan halusinasi, bisikan, ngomong sendiri, bahkan menangis.

Kondisi itu bergantung pada karakter ibu bayi. Ada yang memendamnya tanpa bicara ke siapapun. Ada yang mampu menyampaikan ke suami atau orang dekat. Komunikasi dan kepedulian pada ibu bayi jadi kunci penyembuhan baby blues.

Selain itu, konseling pada bidan sangat penting pula. Kadang, bidan akan menyarankan ibu bayi datang dengan suami atau orang yang dominan dekat ibu bayi. Dari pertemuan ini, didapat konseling dan solusinya. Suami pun akhirnya wajib siaga dan peka.

Solusi menghadapi baby blues bergantung sikap dari tiga bagian. Pertama, dari penderita sendiri, kedua suami dan ketiga dari orang sekitar. Ibu bayi perlu pula konseling dan mengikuti kelas ibu hamil yang diadakan di desa. 

Hindari beban ibu bayi, tetangga juga tidak sepatutnya membebani psikis ibu bayi. Sekitar tahun 2015 silam, pernah terjadi aksi nekat gantung diri wanita yang baru melahirkan di Malang Selatan. Pemicunya hanya karena korban depresi karena digunjing tetangga. Sang suami sah pun tidak berdaya karena sang istri bukan karakter yang mau mengeluhkan masalahnya. (san/ekn) 


Editor :
Publisher :
Sumber :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button

City Guide 911 FM