Nasional

Bertahan di Dolly sampai Pemilik Wisma Datang

Menjaga Lentera Dakwah Pesantren JeHa Jarak Dolly (2)

Barang-barang Pesantren Jauharotul Hikmah (JeHa) Dolly masih berada di Eks Wisma Puteri Lestari hingga kemarin (1/5/2021). Seharusnya mereka sudah berkemas. Kontrak habis sejak akhir April.

***


Dan tibalah hari yang ditunggu-tunggu itu: 1 Mei. Mengacu kontrak perjanjian, gedung harus dikosongkan.

 
Namun, belum ada tanda-tanda pemilik wisma akan datang. Lukman Hakim yang menjadi guru ngaji dan penjaga Pesantren JeHa di Dolly mulai gelisah. Ia bertanya ke salah seorang pendiri pesantren, M. Nasih yang masih saudara mindoan (sepupu jauh)-nya. “Tarawih diteruskan nggak ini?” tanya Lukman.

Nasih juga bimbang. Pemilik gedung tak mau menerima uang sewa. Maunya uang tunai Rp 1,7 miliar karena rumah itu dijual. JeHa tak punya duit sebanyak itu. Uang dari donatur yang tersisa sudah untuk membangun masjid di Putat Jaya Gang IV B.

Dengan modal bondo nekat, akhirnya diputuskan bahwa tarawih dan kegiatan mengaji tetap berjalan. Sampai kapan? Sampai pemiliknya datang membawa calon pembeli. Kalau diusir, ya pindah. Pengurus JeHa yang tinggal di Jarak Dolly siap menampung para santri di rumah mereka.

EKO – Spanduk harapan Pesantren JeHa terpasang di atas jendela eks Wisma Puteri Lestari. (Foto: Eko Disway)

Harian Disway berkunjung ke Dolly, Jumat (30/4/2021) malam. Pintu pesantren dalam posisi terbuka. Jamaah Tarawih memadati lorong gedung yang dinding dan lantainya dikeramik itu. Santri dan beberapa warga sekitar salat di sana.

Suara Lukman yang menjadi imam terdengar merdu dari luar. Lantunan Alquran dari pengeras suara beradu dengan bising jalanan di kawasan Dolly yang selalu macet selepas isya.

Ruangan untuk salat saat sangat terbatas. Lukman berdiri di pojok ruangan, mepet dengan dinding tripleks warung kopi Bu Nur. Sementara para makmum menempati saf beralas sajadah dan karpet hingga ke bagian belakang rumah.

Sebagian jamaah yang hadir adalah kelompok suporter Bonek Jarak Dolly Community (Bonjarlity). Mereka lahir saat lokalisasi Dolly masih berjaya.

Kehidupan mereka keras. Setiap hari hidup di lingkungan preman, muncikari, dan pekerja seks komersial (PSK). Sangat jauh dari kehidupan yang agamis.

Pesantren JeHa merangkul mereka yang konsisten tarawih hingga malam ke-19. Lukman yang masih muda, dapat mandat menemani santri khusus itu. 

Pukul 20.00, tarawih hampir selesai. Lukman dan para jamaah melantunkan salawat dan pujian dengan kompak. Sejurus kemudian, doa pun dipanjatkan. Mulut Lukmat mulai berkomat-kamit sambil diamini jamaah.

Para santri cilik berebut bersalaman dengan sang imam setelah doa selesai. Lukman tersenyum ramah sambil memperhatikan satu per satu santri yang datang menyalaminya.

Sebelum pulang, beberapa pemuda membuka kantong plastik dan kardus berisi makanan dan minuman.

Jamaah yang hendak pulang berbaris. Santri cilik hingga ibu-ibu mengantre dengan tertib. Masing-masing dapat dua mi instan, snack, dan satu gelas es teh manis.

EKO – Santri JeHa mendapat mie instan dan segelas es teh selepas tarawih. (Foto: Eko Disway)

Setelah ruangan kosong, Lukman berdiri di ambang pintu. Beberapa santri masih jagongan di bangku semen di seberang pesantren. 

Di jendela kaca pesantren terpasang spanduk putih yang sudah usang. Terdapat kalimat harapan di spanduk itu: Ayo Berdoa Putat Jaya; Jarak, dan Dolly jadi bumi santri.’’

Pengurus JeHa yakin pasti ada jalan keluar. Kalau nantinya terpaksa pindah, JeHa akan berusaha mencari tempat lain di Gang Dolly. Ada banyak eks lokalisasi yang sudah dikuasai pemkot. Kalau JeHa bisa menyewanya, kelar sudah masalah.

Pesantren yang ada di Putat Jaya sudah berusia 13 tahun. Sementara Gedung Eks Wisma Putri Lestari yang disewa di Gang Dolly baru berdiri 3 tahun belakangan. Gedung itu disewa karena banyak santri yang berasal dari Gang Dolly. 

Kiai M. Nu’man, M. Roffi’uddin, dan M. Nasih sudah berkumpul di Putat Jaya Gang IV B. Mereka Tarawih di sana. Lukman mengatakan, para pendiri itu bisa menerangkan perjalanan JeHa dan keluarga pendirinya.

Nu’man duduk bersila di masjid milik Pesantren JeHa yang setengah jadi. Dua pekan sebelumnya kami sudah ke tempat ini. Sekarang sudah dikeramik dan bisa dipakai salat. Tapi, pintunya masih tertutup papan karena masih dalam tahap pembangunan. 

Dosen Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Ampel Surabaya itulah pencetus awal Pesantren JeHa. Ia yang membeli eks wisma di Putat Jaya pada 2007,  lalu membangunnya jadi pesantren setahun kemudian.

EKO – Jamaah sholat tarawih JeHa melantunkan salawat dan doa bersama. (Foto: Eko Disway)

Dialah yang bertaruh nyawa dan harta saat membangun pesantren poros prostitusi kota. Sudah jadi rahasia umum bahwa ada backing dari orang besar di balik “bisnis kelamin” di Dolly. Tak ada yang berani menyenggol sampai pesantren JeHa berdiri. 

“Santri pertama kami 30 orang,” kata Kiai Nu’man. Hari-hari pertama kegiatan mengaji berlangsung sangat canggung. Santri cilik harus mengaji dengan iringan lagu dangdut yang disetel dengan kuat. 
Sudah risiko. Pesantren terkepung rumah karaoke. Namun harus ada lilin pertama yang dinyalakan dalam gelap. Tak peduli seberapa kencang angin bertiup. (*)


Editor :
Publisher :
Sumber :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM