Disway

Hidup Fanatisme

FANATISME itu bisa membuat hidup lebih hidup.

Lihatlah betapa hidupnya Stadion Kanjuruhan, Malang. Stadion Manahan, Solo. Stadion Gelora Bung Tomo dekat Gresik. Si Jalak Harupat Bandung. Juga almarhum stadion Mattoanging Makassar…

Hidup itu harus hidup. Urip iku urup. Menyala-nyala. Syeh Siti Jenar pernah mengatakan kita semua itu bangkai. Hanya saja ada bangkai yang masih bernyawa. Tapi bangkai.

Baca Juga

Contoh hidup tanpa fanatisme adalah hidupnya pohon.

Ada ribuan jenis fanatisme. Keluarga kita adalah keluarga terbaik. Itu adalah fanatisme tingkat keluarga. Desa kita paling hebat adalah fanatisme tingkat desa. NKRI harga mati adalah fanatisme tingkat negara.

Sepanjang levelnya masih yang ‘’paling hebat’’ kadar bahayanya tidak tinggi. Baru kalau level fanatisme itu meningkat ke ‘’yang paling benar’’ bahayanya muncul. Bahaya bagi publik.

Fanatisme membuat hidup lebih bergairah. Asal terkelola. Itulah sebabnya mengapa ada pengelola. Lalu ada pemimpin. Salah satu tugas pemimpin adalah mengelola fanatisme itu.

Mengelola bukan berarti mematikan. Juga bukan membiarkan. Pemimpin yang mematikan fanatisme sama dengan mengubah manusia jadi pohon. Pemimpin yang membiarkannya sama dengan menciptakan anarkhi.

Fanatisme harus ada pada level yang tepat. Jangan ketinggian, jangan kerendahan. Melarang sepak bola dan apa pun yang digemari masyarakat sama dengan menciptakan banyak pohon.

’’Level’’ yang tepat itulah seninya. Seni kepemimpinan.

Bupati, wali kota, Kapolres adalah pemimpin tingkat lokal yang paling tahu bagaimana mengukur level fanatisme itu. Lengkap dengan kearifan lokalnya.

Kepentingan bupati/wali kota adalah meningkatkan gairah masyarakatnya. Gairah yang bisa melahirkan jiwa partisipasi. Yakni partisipasi bagi pembangunan daerah. Bisa lewat apa saja: salah satunya sepak bola.

Maka bupati/wali kota adalah gas. Ia perlu menginjak gas kuat-kuat agar gairah itu meluap-luap. Agar hidup lebih hidup. Pembangunan lebih semarak. Termasuk pembangunan di kota/kabupaten tersebut. Muaranya harus untuk pembangunan.

Kapolres/ta/tabes, adalah remnya. Ia harus menginjak rem itu ketika jalannya mobil sudah berbahaya. Tapi tidak bisa juga rem itu diinjak terus. Mobil tidak akan bisa berjalan. Untuk apa ada rem kalau mobilnya diniatkan untuk tidak berjalan.

Kadang mobil harus nyenggol pagar. Atau tiang. Itu masih normal. Jangan sedikit-sedikit harus injak rem.

Cara mengerem pun harus terukur. Rem yang terlalu mendadak bisa membuat mobil terguling –seperti di Kanjuruhan.

Menggairahkan warga lewat olahraga adalah resiko yang terendah. Daripada lewat fanatisme suku. Atau marga. Atau ras. Atau golongan. Apalagi agama.

Tapi mengelola olahraga tidak sama dengan mengelola ormas atau partai. Bahasa yang digunakan juga harus bahasa olahraga – -bahasa bola untuk sepakbola.

Bahayanya hanya satu. Untuk zaman sekarang: yakni kalau sudah ada yang pansos lewat sepak bola. Atau berusaha mempolitikkan sepak bola. Dan olahraga lainnya.

Rochland Yoseph punya pengamatan yang bagus. Soal fanatisme Aremania itu. Ia anak kiai di Malang. Bapaknya dulu Ketua Ansor. Nama sang ayah Suyanto. Bahwa ia memberi nama anaknya Yoseph itu karena bapaknya ’’usil’’ saja. Usil khas Malang.

“Pas proses pemilihan Ketua Ansor ayah dikritik setengah guyon oleh teman-temannya. Ansor kok namanya Suyanto. Gak ada Arab-arabnya blas. Ayah saya tergelitik sehingga nama anak-anaknya malah dibikin unik. Saya Rochland Yoseph, aslinya dari nama Kakek (Yusuf) + lahir saya September,” katanya.

Yoseph sudah nonton Arema sejak tahun 1987, sejak Arema didirikan oleh Brigjen Acub Zaenal dan Kolonel Ebes Sugiyono, wali kota Malang. Ia pernah ikut demo dan bentrok dengan suporter Persebaya. Tapi levelnya hanya seperti mobil nyerempet pohon.

“Sejak ada Aremania, fanatisme kampung beralih ke Arema. Tidak ada lagi perkelahian antara gang di kampung-kampung,” kata Yoseph.

Rochland Yoseph (Foto: Disway.id)

Kini Yoseph sudah berumur 46 tahun. Ia kini berkelahi dengan pohon-pohon sawit di Kalimantan. Ia jadi manajer di perusahaan sawit yang cukup besar, sebagai business process improvement. Ia lagi mengembangkan drone untuk mengontrol kebun sawit. Fanatisme itu kini ia curahkan ke sawit.

Contoh dari Yoseph itulah yang saya maksud dengan bahwa fanatisme itu baik. Asal terkelola dengan benar. Mereka yang waktu mudanya bergairah itu, kelak akan bergairah juga ketika mendapat kesempatan di dunia kerja.

Hidup seperti pohon bukanlah hidup. Mobil mogok bukanlah mobil. (*)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan*

Edisi 5 Oktober 2022: Harapan Kanjuruhan

Ghost It Is

Tadi saya mau masuk dengan Tor Browser tidak bisa. Jadi saya masuk menggunakan ekstensi biasa untuk chrome. Itupun alamat email masih Indonesia. Tidak apa-apa, di whoer.net hp kentang saya berubah menjadi Linux Debian. Bisa saja tak ganti KTP iPhone. Tapi buat apa. Jadi, yang sedang coba di uji adalah jadwal pertandingan. Di Jatim acara pengesahan dari pagi sampai pagi, yang mungkin acaranya tiap tahun. Tidak mengambil sebanyak ini. Sedangkan sampai saat ini belum ada pihak yang mau mengakui kesalahan, mengambil tanggung jawab. Isunya pihak keamanan tidak siap, dan penonton mulai anarkis. Yang bawa senjata mematikan di lapangan juga siapa?.

Agus Suryono

BERBAGAI KISAH KELUARGA DI KANJURUHAN.. 1). ALFIANSYAH. Usia 10 tahun. Klas 5 SD. Tiba-tiba menjadi YATIM PIATU. Dia bersama AYAH dan IBUNYA, nonton pertandingan sepakbola bersama. Dia selamat, tetapi AYAH dan IBUNYA, menjadi kurban meninggal di Kanjuruhan. 2). MUFID. Usia 40 tahun. Tidak nonton pertandingan. Tetapi anak gadisnya, usia 20 tahun, pamit nonton bersama temannya yang juga cewek. Keduanya meninggal. Pak MUFID tidak terima atas tewasnya anaknya, dan BERNIAT akan menuntut pihak yang bertanggung jawab, secara hukum.

Agus Suryono

DUA KALIMAT TERAKHIR ABAH.. 1). Peristiwa besar selalu melahirkan pemikiran besar. 2). Bukan mematikan harapan besar. —DAHLAN ISKAN

yea aina

Kalau mengacu: setiap peristiwa besar “melahirkan” pemikiran/produk baru. Pun M3 Minyak Makan Merah ini, dilahirkan pasca kelangkaan minyak goreng di negeri surga CPO dunia. Kasihan.

Agus Suryono

TENTANG AREMANIA.. 1). Aremania adalah kelompok suporter klub sepakbola Arema. Tidak diketahui tanggal lahirnya. Tetapi nama Aremania, pertama kali muncul pada 4 September 1994, melalui jaket yang dikenakan salah satu pendiri Arema, yaitu Ovan Tobing. 2). Aremania memiliki SAYAP organisasi WANITA. Yaitu: AREMANITA. 3). Tokoh penting Aremania adalah: Yuli Sumpil, Cak No (Sukarno), El Kepet, Ovan Tobing. 4). Pernah menerima penghargaan THE BEST SUPORTER dari pada LIGINA VI Tahun 2000, dari AGUM GUMELAR. Dan juga THE BEST SUPORTER pada COPA INDONESIA II Tahun 2006. 5). Aremania termasuk kelompok suporter yang relatif TERTIB dan TIDAK NEKAD. Tetapi Babak 8 Besar LIGA UTAMA INDONESIA tahun 2007, bertindak anarkis, saat Arema sedang bertanding melawan PERSIWA Wamena, 16 Januari 2008. Pertandingan baru berlangsung 71 menit, tiba-tiba harus dihentikan, saat PERSIWA unggul 2-1. Para Aremania tidak puas dengan kepemimpinan wasit, sehingga mereka turun ke laoangan, dan merusak stadion BRAWIJAYA. Aremania kemudian dihukum, yaitu 2 tahun tidak diperkenankan menggunakan atribut Aremania.

Forsandy Kurniawan David

Mohon maaf kalimat terakhir tidak akan ada pengaruhnya buat p-o-l-i-s-i (saya tulis begini karena sudah males menyebutnya), sambo yang begitu terangnya saja tidak ada pengaruhnya apa- apa sampai detik ini. Tragedi kanjuruhan level bencananya diatas sambo dunia ikut komentar pun tadi pagi waktu bayern tanding, suporter bayern pasang spandung tulisannya “jelas 100 orang lebih di bunuh oleh polisi”. tapi pagi ini yang muncul adalah berita ditemukannya 42 botol miras disekitar stadion. “Haduh..”, penyelidikan apapun susah sekali untuk mempercayainya. entah bencana besar apalagi yang ditunggu. butuh berapa nyawa lagi yang melayang untuk p-o-l-i-s-i ber-transformasi. mari tanyakan pada rumput di stadion kanjuruhan.

Juve Zhang

Anak muda dari Jakarta mau nonton Persija di GLB Bandung, pas masuk di tanya KTP oleh Bobotoh, dilihat KTP Jakarta lalu di keroyok mati. Sebuah kisah yg tak masuk akal sehat.datang ke stadion mau nonton hiburan atau mau Bunuh orang.? Semoga kedua pihak Bobotoh dan Jackmania mengikuti langkah Aremania dan Bonek,. Pis ,pis, pis ,pis , pis ,pis ,pis itu bahasa olahraga untuk damai.

Orang jauh

#51 Anu Abah DI, Minta tolong sampaikan ke Presiden Persebaya (yang Abah DI tahu nanamya): tulisan Rebu-an nya sekarang sering bolos (tgl 21 prei, tgl 28 gak jelas, ehh tanggal 5 ini belum muncul).

Mirza Mirwan

Gas airmata. Itulah yang digunakan polisi saat menangani kerusuhan di Estadio Nacional Lima Peru, 1964, yang menelan korban 328 jiwa. Itu pula yang diandalkan polisi Ghana saat terjadi kerusuhan di Accra Sports Stadium, 2001, yang merenggut nyawa 126 orang. Lagi-lagi gas air mata pula ysng menewaskan (versi Kompas tadi malam yang lengkap dengan nama korban) 131 orang. Dan masih bisa bertambah lagi. Yang terjadi di Peru, juga di Ghana, kerusuhan terjadi sebelum pertandingan usai. Dua-duanya karena kekecewaan suporter salah satu tim terhadap wasit. Di Lima, Peru, saat pertandingan Pra Olimpiade Tokyo antara Peru vs Argentina kedudukan 1-0 untuk Argentina. Di menit 84 Peru bisa menyamakan kedudukan, tetapi gol Peru dianulir wasit dari Uruguay, Angel Eduardo Pazos. Suporter Peru marah, turun ke pinggir lapangan. Polisi menembakkan gas air mata. Penonton kalang-kabut. Pintu stadion tertutup semua — karena pertandingan memang belum berakhir. Kejadian di Ghana juga sama, semua pintu masih tertutup. Lain cerita dengan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Pertandingan sudah berakhir. Hanya gegara suporter lari ke lapangan, polisi lsngsung menembakkan gas airmata. Padahal, mustahil suporter Arema mau ngamuk ke pemain klub pujaannya, bahkan pemain klub lawan sekalipun. Dan hanya satu pintu yang dibuka. Padahal dalam regulasi FIFA semua pintu keluar harus sudah dibuka dua menit sebelum pertandingan berakhir.

EVMF

“Peristiwa besar selalu melahirkan pemikiran besar. Bukan mematikan harapan besar.” Ironisnya seringkali “pemikiran besar” itu Tidak Selalu memberikan “harapan besar” ketika kepentingan-kepentingan lain melebihi “peristiwa besar” itu sendiri !! Kalau Harapan Besar itu baru “borojol” setelah didahului Peristiwa Besar, maka kita akan menyaksikan lebih banyak tragedi di waktu yang akan datang. Mestikah tragedi demi tragedi, baru melahirkan Pemikiran Besar untuk menjadikannya Harapan Besar !! Harapan Besar itu bukanlah emosional atau selebrasi sebatas tekad. Harapan Besar itu bukan anak-nya pemikiran besar, ataupun cucu-nya peristiwa besar !! Harapan Besar itu adalah cara berpikir atau proses yang ter-rencana untuk sesuatu yang lebih baik, terlepas ada atau tiadanya peristiwa yang mendahuluinya. “Hope is not an emotion; it’s a way of thinking or a cognitive process.” — Brené Brown

Er Gham

Saya suka Messi. Mau menang mau kalah, mukanya tetap dingin. Senyum seperlunya. Mungkin dia tidak peduli. Dalam hati, dia berbisik, “Yang penting, saya berkeringat. Badan segar. Saya sudah terhibur dengan menyalurkan hobi ini. Nanti malam bisa tidur nyenyak karena badan segar. Persetan dengan kalah menang”.

Saifudin Rohmaqèŕqqqààt

Tragedi tanpa korban. Tidak ada yang ngamuk walau tim kesayangan kalah telak. Polisi pun santai santai saja mengamankan pertandingan. Bahkan sambil ngemut permen nano nano bercanda dengan teman polisi lainnya. Jaga pertandingan sangat santai. Dan itu nyata. Itu benar benar terjadi. Hari itu tanggal 21 pebruari 1988. Stadion gelora 10 Nopember tidak penuh seperti biasanya. Ada yg lucu kalau mau tahu. Apa itu? Karena sore itu cuaca panas. Banyak penonton lebih menikmati jajan daripada menikmati sepak bolanya. He he he… sekali lagi, itu nyata. Tapi seluruh insan sepak bola menyebutnya tragedi. Iya tragedi. Persebaya waktu itu sedang ampuh ampuhnya. Pemain top seperti putu yasa, mustaqim,syamsul arifin,subangkit. Sore itu jagad indonesia kaget. Suporter PSIS pun sampai menitikkan air mata. Ada tragedi tanpa korban jiwa. Tidak seperti di Kanjuruhan Malang. Apa tragedinya. Persebaya kalah 12-0 dari persipura. Tak satupun bonek ngamuk. Yang ada malah sebaliknya. Tersenyum sedikit. Aneh tapi nyata… Dan anehnya, yang bersedih malah kota yg jaraknya 450 km dari surabaya. Yaitu semarang. PSIS sebagai juara bertahan gagal ke 6 besar. Itulah tragedi tanpa korban jiwa.

Jimmy Marta

Bagaimana mekanisme tender hak siar pertandingan liga indonesia dilakukan?. Sepemahaman saya mengenai tender2 ini, semua yg akan dijual beserta sarat2nya sudah lebih dahulu ditentukan. Misal ini yg dijual paket pertandingan sepakbola. Mestinya dari awal harus jelas pertandingan yg akan dijual. Tempat dan waktu pertandingannya. Bahkan ketentuan lain semisal jika ada perubahan jadwal sampai faktor force majeur disiapkan. Sebelum kontrak ditandatangani. Artinya, tender itu lazimnya negosiasi hanya diharga. Kalau ternyata jadwal sampai ikut dinego, sy gk ngerti tender ala PT LIB ini. Apakah sebelum yg akan dijual di nego dulu?. Mmh.. kalau ini berarti barang yg akan dijual tidak diminati. Sampai2 calon pembeli bisa menetapkan sarat ketentuannya…

ra jelas

Stasiun televisi pun ternyata dengan sangat terang benderang menyatakan keberpihakan prime time nya yang menghabiskan banyak tisu untuk “Emak Emak” . Jadi bukan hanya dijalan saja berkuasa. Sebuah solusi kebaikan mungkin dapat dicetuskan oleh Emak Emak tersebut

Jimmy Marta

Masih beruntung kalau berubah setelah ada kejadian. Ada harapan. Namun ada yg gk mau berubah, gk memberi harapan walau sudah ada dua peristiwa besar nan heboh.

Macca Madinah

Membaca tulisan Abah hari ini jadi ingat istilah “silver lining”. Berasal dari warna putih keperakan pada pinggiran awan tebal mendung, yang menjadi metafora adanya hal-hal positif di balik sesuatu yang negatif. Bahasa sininya mah, selalu ada hikmah atau pelajaran yang bisa diambil. Moga-moga itu yang ditangkap oleh media massa (khususnya televisi). Sungguh merugi bangsa ini kalau “hanya sekedar” mendramatisir tragedi, apa lagi ujung-ujungnya hanya demi sesuatu yang disebut rating.

Kang Sabarikhlas

Sebagai wong goblik, daripada sesat di komen, saya ndak malu bertanya dan dijawab Mas ojol : “praem taem itu Pak, kayak orang jual es cao malam hari gak laku, harus siang biar laris”.. Mas ojol langsung berangkat, hp.nya bunyi order. Ooh..praem taem itu jualan es cao laris.. Saya sebagai Preman eh.anu.. Bonek ndak Pensiun, untuk tidak terjadi lagi tragedi memilukan, saya usul setiap selesai pertandingan bola langsung di ramekan dengan lagu TUGIMAN, ini syairnya bagus :… “kang gawe nyaman, TU-GI-MAN”/ “kang gawe nyaman, TU-GI-MAN”/ “kang gawe ati wong nyaman”/…. pasti suporter teriak bareng TU-GI-MAN sambil joget koplo,.. suporter nyang bawak botol mineral isi minerol asyik joget sampe teler, jadi ndak ada yang turun lapangan.. Dan polisi ndak beli gas airmata, uangnya + keuntungan panitia dibelikan sego pecel trus dibagikan ke penonton di stadion…. Duh, saya pasti ngajak istri ke stadion, biar ndak selalualways nonton ikatan layangan putus. distadion saya joget jingkrak²kaki digigit nyamuk ndak pake suffle eh sopwel, trus di shooting, trus ngetop..duh, andai aku jadi mietuber eh..youtuber.

Agus Suryono

PERKARA PUTRI.. PUTRI. Yang Sambo. Sudah diserahkan kepada Kejaksaan. PUTRI. Yang Pinto. Belum ada tanda-tanda dilanjutkan, pemuatannya di Disway. @Kelanjutan pemuatan PUTRI PINTO masih MISTERI. Baik Metro maupun TV One tidak menyinggung sama sekali. Mungkin yang tau hanya MAS DUR.

abu fida

Abah, bagaimana dengan mas Dur…? banyak yang kangen loh

zidanee11

Saya tdk setuju hanya 6 tim yg hrs ditingkatkan keamanannya. Persis vs PSIM juga semakin meruncing permusuhannya. Sampai Di Jogja sering ada anak2 muda sweeping mobil plat solo, apa hubungannya coba? Menurut saya, Klub hrs mengalokasikan dana untuk edukasi kpd suporter, supaya nonton bola di stadion lebih nyaman, seru, dan beradab

Lagarenze 1301

Ini kritik dan masukan untuk tim TI Disway, yang kapan hari disebut dikelola anak SMK. Saya perhatikan, komen terpilih saat tayang berubah format. Dari awal sampai akhir hanya satu alinea. Padahal, komen asli ada yang terbagi dalam beberapa alinea. Di sekolah, kita diajarkan untuk menulis satu alinea dengan satu pokok pikiran. Di koran cetak (tempo doeloe), diajarkan menulis alinea tidak berpanjang-panjang. Satu alinea cukup plus-minus 30 kata untuk menyesuaikan dengan ukuran kolom koran. Di media online (jaman now), diajarkan menulis alinea lebih pendek lagi, cukup satu-dua kalimat untuk menyesuaikan dengan tampilan HP. Komen pilihan Disway yang panjang dan tanpa alinea sangat tidak nyaman dibaca. Apalagi, kalau penulis sangat kikir memberi titik dan hanya sedikit koma. Apatah lagi, kalau penulis komen memang tidak mau terikat dengan aturan alinea. Jika ada pembaca ngos-ngosan sampai putus napas, hayooo siapa bertanggungjawab (begitu yang dulu sering difatwakan redaktur kepada reporternya). Untunglah tulisan Pak DI tayang dengan alinea. Akan sangat repot membacanya jika tanpa alinea Soalnya, Pak DI sangat suka menulis kalimat pendek, yang saking pendeknya bahkan sering tidak mematuhi PUEBI.

hariri almanduri

Sejatinya sepak bola adalah tontonan keluarga yg menyenangkan. Persebaya menjadikan Via Valen sebagai icon agar Bonek tdk hanya bercerita tentang serunya nggandol pick up tentara yg hampir ngguling saja, tapi bisa juga bercerita senyum ceria Bonita yg tak kalah serunya dlm mendukung bledug ijo. Di Malang pun demikian. Ahmad wahyudi tanpa ragu mengajak istri, anak, menantu, cucu dan ketiga keponakannya menonton laga besar Arema Vs Persebaya. Karena sejatinya bola adalah menyenangkan. Tapi sekarang ibu sulastri, istri pak wahyudi, bertanya mengapa harus ada gas air mata ditribun? Istri pak eko bertanya pula mengapa harus ada tendangan maut kungfu panda? Dan sekarang kata buk aku pamit nonton arema menjadi kata yg paling horor bagi ibu ibu di Malang

Mbah Mars

Rasanya saya kenal nama presiden Persebaya itu. Begitu kata Abah DI. Lha iyalah, mosok pabrik tidak tahu nama barang produksiya.

yea aina

Ide Abah Dis nomer 2. Jika tv pembeli hak siar enggan menayangkan di jam prime time, klub-klub penyelenggara pertandingan punya peluang jualan aplikasi live streaming. Potensi bisnis ikutannya cukup besar: adakan nobar di cafe ataupun warung kopi sekalipun. Bila harga tiket masuk stadion terasa lebih mahal dibanding beli kopi dan Indomie, nobar di warung tetap aduhai hebohnya. Pun tidak semua supporter klub tinggal di kota diadakannya pertandingan, nobar live streaming jadi solusi. Sekaligus ini peluang bagi klub mengadakan nobar live streaming di lapangan terbuka, model misbar tempo doloe. Penonton yang tak kebagian tiket masih bisa merasakan aura nonton dalam stadion, meskipun nobar di adakan jauh dari stadion. Sekaligus mengurangi penumpukan supporter di luar stadion yang tak kebagian tiket. Lebih aman bagi penyelenggara, lebih kondusif bagi Supporter dengan aura stadion tetap terasa.

ibnuhidayat setyaningrum

Yang penting harga murah terjangkau segala lapisan masyarakat, segala bentuk siaran tv oke oke saja. Lha kalau harus bayar mahal, ya masyarakat akan kembali lagi akan dijauhkan dari sepakbola. Persatuan bangsa dengan sepakbola akan dipisahkan kembali dengan garis mampir bayar dan tidak mampu bayar live streaming.

Ghost It Is

Tragedi G1K, nitip sendal. 1. Rencana. 2. Jam eksekusi. 3. Pertandingan saling balas. 4. Kekalahan. 5. Pemicu. 6. Gas air mata, dan tendangan keamanan. 7. Kejadian di luar kendali. 8. Berdesakan di pintu keluar. 9. Korban berjatuhan. 10. Mencari kambing hitam. 11. Penyelidikan, dan penyidikan. 12. Penetapan tersangka. 13. Terapi paska trauma. 14. Bangun, atau semakin tertinggal.

*) Dari komentar pembaca http://disway.id


Editor : Irawan
Publisher : Ameg.id
Sumber : Ameg.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Back to top button