Nasional

Tetap Kejar Skenario Pengangkatan

UPAYA pencarian titik tenggelamnya KRI Nanggala-402 berhasil. Hasilnya sudah Anda tahu: kapal selam berusia 4 dekade itu terpecah menjadi tiga bagian. Meski begitu, misi belum berhenti. Tetap ada usaha untuk mengangkat kapal tersebut ke permukaan.

Saat ini, berbagai negara menawarkan tenaga dan teknologi untuk membantu pengangkatan kapal tersebut. Ya atau tidaknya menunggu pemerintah pusat.

Ketua Umum Dharma Pertiwi Nanny Hadi Tjahjanto (kiri), Istri Kolonel Harry Setyawan Winny Widayanti, Gubernur Jawa TImur Khofifah Indar Parawansa berkunjung di kediaman Kolonel Harry Setyawan di Tebel, Gedangan, Sidoarjo, kemarin (26/04) Foto Fauzan Disway

Pakar kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember Dr Ir Wisnu Wardhana MSc mengatakan bahwa bantuan luar negeri bisa dimaksimalkan untuk melakukan pencitraan bawah laut. Untuk memastikan keadaan KRI Nanggala 402 di utara Pulau Bali. “Termasuk upaya mengevakuasi awak kapal yang terjebak di dalamnya,” ujarnya kemarin.

Asisten Manager Kpprdinator Dalam Museum Kapal Selam Pelda Laur (purn) M Wagino saat di depan KRI Pasopati 410, kemarin (26-4). Foto: Fauzan disway

Tetapi, bantuan-bantuan itu memang belum untuk menangkat kapal selam. ’’MV Swift Rescue milik Singapura itu canggih. Namun, fungsinya bukan untuk mengangkat struktur kapal selam,’’ jelasnya. Sejumlah kapal asing itu masih bertugas sebagai observer. Teknologi remote-operated vehicle (ROV) alias robot mereka mumpuni. Bisa difokuskan untuk memindai komponen penting. Misalnya, mesin, kelistrikan, dan persenjataan. ’’Juga mengidentifikasi jenazah awak kapal jika memang dimungkinkan,” tuturnya.

Dengan posisi di kedalaman 838 meter di bawah permukaan air laut, artinya KRI Nanggala menerima tekanan sebesar 85 bar. Itu cukup untuk merembukkan konstruksi baja. Karena itu, perlu alat yang mumpuni.

’’Perlu diingat berat kapal selam mencapai 4.000 ton jika dalam kondisi utuh. Jika kita ambil komponen-komponen tertentu, bobotnya bisa lebih ringan,” jelasnya. Idealnya perlu banyak robot berawak atau dikendalikan dari permukaan.

Ketua Umum Dharma Pertiwi Nanny Hadi Tjahjanto (tengah) bersama anak Kolonel Harry Setyawan di Tebel, Gedangan, Sidoarjo , kemarin (26-4). Foto: FAUZAN Disway

Wisnu mengatakan, dengan banyak robot, evakuasi bisa lebih efektif. Tugas robot adalah menghubungkan pengait ke beberapa titik badan kapal selam. Setelah itu, kapal akan ditarik ke permukaan. “Untuk ini memerlukan tongkang besar dan crane besar disesuaikan dengan berat beban di bawah,” paparnya.

Alternatif kedua adalah menggunakan pelampung. Prinsipnya sama, ada robot yang bisa menjangkau ke dasar laut. Setelah itu, badan KRI Nanggala 402 dihubungkan dengan pelampung hingga bisa naik permukaan. “Saya yakin pekerjaan ini butuh waktu yang lama hingga berbulan-bulan,” jelasnya.

Kapal selam KRI Nanggala-402 dirancang memiliki daya selam hingga 300 meter. Saat proses uji latih peluncuran torpedo, kapal buatan tahun 1979 itu terus menyelam semakin dalam. Itulah yang diduga mengakibatkan kapal tersebut tak mampu menahan tekanan air hingga akhirnya mengalami mati daya. (*)


Editor :
Publisher :
Sumber :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM