EntertainmentFilmLifestyle

Oscars Tidak So White, Tapi (Tetap) Kurang Berwarna

Padatahun ketika gerakan anti-diskriminasi terhadap masyarakat Afrika-Amerika tengah seru-serunya, Academy Awards 2021 menciptakan kontroversi. Hal itu membuat keberagaman yang sebenarnya sudah cukup merata, jadi kurang dianggap.

***

SEPERTI diprediksi sebelumnya, tidak banyak kejutan dalam Academy Awards 2021. Nomadland, seperti diperkirakan banyak pihak, melaju meraih trofi Film Terbaik. Demikian pula Chloe Zhao, sang sutradara. Dia tanpa kesulitan mengamankan gelar Sutradara Terbaik.

Zhao mencetak sejarah besar. Dia menjadi sineas perempuan kulit berwarna pertama dalam sejarah Oscars yang menjadi Sutradara Terbaik. Juga sutradara perempuan Asia pertama yang filmnya memenangkan Best Picture. Plus, sutradara perempuan kedua—setelah Kathryn Bigelow—yang memenangkan Sutradara Terbaik dari Film Terbaik Oscars.

Nomadland dan Zhao meneruskan kejayaan yang sudah diperoleh di Golden Globes, Critics’ Choice Awards, serta BAFTA. Ketika menerima trofi Sutradara Terbaik, Zhao tak lupa menyebut budaya dan tanah kelahiran dia, Tiongkok, dalam pidato penerimaan.

’’Waktu masih tinggal di Beijing, aku dan ayahku sering bermain. Kami menghafalkan peribahasa dan puisi klasik Tiongkok. Lalu merapalkannya bersama-sama. Sambil mencoba menebak kalimat selanjutnya,’’ kenang Zhao. ’’Ada satu pusi yang kuingat sampai sekarang. Yakni yang frase pertamanya berbunyi, setiap orang dilahirkan dalam keadaan baik,’’ lanjut dia.

Enam kata itu begitu mempengaruhi Zhao. Hingga dia mempercayainya sampai sekarang. Meski kenyataan sering kali tidak seindah itu, sineas 39 tahun tersebut selalu mencoba menemukan kebaikan dari setiap orang yang dia temui. Ke mana pun dia pergi. Kurang lebih seperti kisah Fern, tokoh yang diperankan Frances McDormand, dalam Nomadland.

McDormand sendiri merebut gelar Aktris Terbaik. Ini juga tidak mengagetkan. Karena meski hanya bermodal kemenangan di BAFTA, akting dia selalu disukai anggota Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Ini menjadi trofi Aktris Terbaik ketiga buat aktris 63 tahun itu. Sebelumnya, dia meraih Oscar via Fargo (1997), dan Three Bilboard Outside Ebbing, Missouri (2018).

Tribute buat Boseman

Yang lebih mengejutkan justru kategori Aktor Terbaik. Semua pengamat film menjagokan Chadwick Boseman. Semua ajang penghargaan sebelumnya juga memenangkan bintang Ma Rainey’s Black Bottom tersebut. Termasuk Golden Globes, Critics’ Choice Awards, dan SAG Awards. Hanya luput di BAFTA. Ternyata, pemenangnya adalah Anthony Hopkins…

Hopkins, 83, yang membintangi The Father, menjadi sosok tertua yang menerima Oscar dari kategori akting. Sebelumnya, rekor itu dipegang Christopher Plummer. Yang meraih trofi Aktor Pendukung Terbaik lewat film Beginners, pada 2011. Buat Hopkins, ini adalah Oscar kedua. Setelah ia mendapatkannya lewat peran Hannibal Lecter dalam Silence of the Lambs (1992).

Hopkins tidak hadir di venue. Pria yang sepanjang karir dinominasikan Oscar sebanyak enam kali itu berada di rumahnya, Wales. Ia mengunggah pidato penerimaan di Instagram, beberapa jam setelah The Oscars kelar.

’’Pada usia 83 tahun, aku tidak berharap mendapat award ini. Sungguh. Aku sangat berterima kasih pada Academy,’’ katanya. ’’Aku ingin mengucap tribute kepada Chadwick Boseman, yang dipanggil terlalu cepat. Sungguh aku tidak mengharapkan ini,’’ ulang Hopkins.

Kemenangan Hopkins menyebabkan ending The Oscars jadi antiklimaks. Bukan karena ia tidak berhak menang. Penampilannya sebagai ayah yang menderita demensia, dan berjuang keras untuk tidak kehilangan ingatan, adalah salah satu akting terbaiknya. Namun publik—termasuk produser Oscars Steven Soderbergh—kadung percaya anggota Academy memilih Boseman.

Itulah kenapa kategori Best Actor diletakkan paling akhir. Soderbergh berharap, kemenangan posthumous Boseman bakal menjadi penutup yang sempurna. Dengan sinematografi melankolis, dilatari klip-klip film Boseman, audiens akan melakukan standing ovation. Memberikan penghormatan terakhir dengan berlinang air mata haru kepadanya. Indah banget!

Karena itu, ketika Joaquin Phoenix menyebut nama Hopkins, suasana jadi awkward. Phoenix sempat tak bisa berkata-kata. Sebab, Hopkins juga tidak ada di sana. Ia kemudian buru-buru ngacir ke belakang panggung, dan layar Oscars diturunkan…

Jatuh Cinta pada Youn Yuh-jung

Kalau ada kemenangan yang disambut paling meriah kemarin, adalah Youn Yuh-jung. Si Aktris Pendukung Terbaik. Tak diragukan lagi, penampilan dia di Minari memang paling layak diganjar trofi. Peran dia sebagai Soon-ja, nenek Korea yang diboyong anak dia ke Arkansas, sangat adorable. Sama seperti sosok asli dia. Pidato dia pun menggemaskan.

’’Oh… Mister Brad Pitt… oh, akhirnya kita bertemu. Di mana kamu waktu kita syuting di Tulsa?’’ Youn bertanya polos kepada Brad Pitt, yang juga produser Minari. ’’Aku sebenarnya tidak percaya dengan kompetisi. Bagaimana mungkin aku bisa menang atas Glenn Close? Kita semua tahu Glenn Close. Aku nonton banyak sekali film dia,’’ papar aktris 73 tahun itu.

’’Lima nomine (di kategori) ini adalah pemenang di film masing-masing. Kita punya peran sendiri-sendiri. Jadi nggak perlu bersaing,’’ papar Youn. Ketika kamera mengarah ke Amanda Seyfried, sesama nomine, aktris Mank itu bergumam, ’’Oh, I love her’’. ’’Malam ini aku lebih beruntung aja daripada kalian. Atau mungkin ini kebaikan hati Amerika buat aktor Korea? Nggak tahu,’’ imbuh dia, disambut tawa dan tepuk tangan penonton.

Di sisi lain, Emerald Fennell merebut Skenario Orisinal Terbaik lewat Promising Young Woman. Dia menjadi perempuan pertama yang memenangi kategori itu dalam 13 tahun terakhir. Setelah Diablo Cody merebutnya lewat Juno (2008). So, banyak sejarah yang dicatat perempuan dan keturunan Asia tahun ini. Tapi, karena pemenang di kategori akting hanya satu yang berkulit hitam (Daniel Kaluuya, Aktor Pendukung Terbaik) media AS tetap menyebut Oscars kurang berwarna… (*)


Editor :
Publisher :
Sumber :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

City Guide 911 FM